20 Kecamatan di Bone Rawan Bencana Puting Beliung – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

20 Kecamatan di Bone Rawan Bencana Puting Beliung

Salah satu rumah milik warga yang terkena angin puting beliung di Kelurahan Pappolo, Kecamatan Tanete Riattang, beberapa waktu lalu.

PENULIS : BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Sejumlah wilayah di Kabupaten Bone tergolong rawan bencana hidrometerologi. Terkhusus angin puting beliung, ada 20 kecamatan yang patut diwaspadai. Bencana puting beliung mengintai. Selama memasukitahun 2019, terdapat tiga kasus serangan puting beliung yang terjadi di Kabupaten Bone. Mulai di Desa Tompongpatu Kecamatan Kahu pada 8 Januari lalu. Selanjutnya di Cabalu, Kelurahan Polewali, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Senin, 28 Januari lau. Dan terbaru di Desa Polewali Kecamatan Kajuara, Sabtu, 7 Februari lalu.
Berdasarkan data Badan Panggulangan Bencana Daerha (BPBD) Kabupaten Bone, menyebutkan ada 20 kecamatan yang masuk kategori rawan bencana puting beliung.
Kecamatan yang dimaksud, meliputi Dua Boccoe, Tellu Siattinge, Cenrana, Awangpone, Cina, Barebbo, Sibulue, Mare, Salomekko, Kajuara, Kahu, Libureng, Bontocani, Amali, Lappariaja, Lamuru, Tellu Limpoe, Palakka, Tanete Riattang dan Tanete Riattang Barat.

Pihak BPBD menyiagakan personel untuk menghadapi setiap bencana alam yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bone, Misriaty Kadir mengatakan ada delapan personel disiagakan di posko terpadu Emergency Centre. Tak hanya itu, armada juga disiagakan selama 24 jam. Ini belum termasuk personel yang siaga di kantor BPBD sebanyak empat orang per kelompok. Mereka melakukan penjagaan secara bergantian.

“Kami selalu antisipasi dengan karakteristik yang sering terjadi di wilayah kerja kami atau yang biasa terjadi pada tahun sebelumnya. Seperti banjir, puting beliung dan longsor. Kalau puting beliung biasanya terjadi semua wilayah, tapi ada 20 wilayah yang berpotensi,” kata Misriaty. “Kami harap masyarakat selalu waspada. Jangan panik, dan segera laporkan jika ada kejadian agar kami bisa memberikan pertolongan,” tambahnya.

Misriaty juga mengakui pihaknya selalu koordinasi dengan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika.
“Kami selalu menerima informasi dari BMKG untuk mengetahui keadaan dan kejadian khususnya di Sulawesi Selatan dan terkhusus Kabupaten Bone. Alhamdulillah di Kabupaten Bone ini masih aman saja,” katanya.

Terkait adanya perkiraan BNBP adanya kemungkinan terjadi 2.500 bencana di tanah air salama 2019, Misriaty menegaskan pihaknya selalu siap siaga. Namun demikian, ia berharap perkiraan itu meleset alias tidak terjadi.

“Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Tapi kami juga selalu siap siaga, ketika ada laporan dari masyarakat atau pemerintah setempat,” ungkapnya.
Wakil Ketua DPRD Bone, Drs A Taufiq Kadir MH mengharapkan masyarakat agar selalu waspada di tengah cuaca yang tak bersahabat seperti sekarang ini. Terkhusus kepada pihak BPBD, politisi NasDem ini meminta agar meningkatkan monitoring pada daerah-daerah yang rawan bencana. “Pihak BPBD tentu saja sudah melakukan pemetaan-pemetaan terhadap wilayah yang tergolong rawan. Semua harus meningkatkan kewaspadaan, tidak saja BPBD, melainkan juga masyarakat di wilayah rawan bencana,” kata Taufiq.

Diberitakan sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana memprediksi terjadi bencana yang cukup besar di tahun 2019. BNPB
memperkirakan ada 2.500 peristiwa bencana akan terjadi sepanjang tahun ini. Bencana alam ini akan didominasi bencana hidrometerologi. Angkanya sekira 95 persen dari seluruh bencana.

“Kita prediksikan selama tahun 2019 lebih dari 2.500 kejadian bencana yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Paling dominan adalah bencana hidrometerologi seperti banjir, longsor dan puting beliung,” kata Sutopo saat seperti dilansir Okezone, Rabu, 2 Januari lalu.

Diungkap Sutupo, bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi seperti hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi. Ini disebabkan luasnya kerusakan daerah aliran sungai (DAS) dan lahan kritis. Selain itu, laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan dan perubahan penggunaan lahan.

Lanjut Sutopo rata-rata laju perubahan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian sebesar 110 ribu hektare terjadi per tahunnya. Sedangkan luas lahan kritis sekitar 14 juta hektare.
“Banjir dan longsor masih akan banyak terjadi di daerah-daerah yang rawan banjir dan rawan longsor sesuai dengan peta rawan banjir dan longsor. Kemudian, kebakaran hutan dan lahan masih akan terjadi tetapi dapat diatasi dengan lebih baik,” terangnya.

Adapun untuk prediksi musim di tahun 2019, diakui Sutupo masih akan normal. Menurutnya, tidak ada El Nino dan La Nina yang menguat intensitasnya, sehingga musim penghujan dan kemarau masih bersifat normal. “Prediksi selama 2019 musim akan normal, tidak ada El Nino dan La Nina yang menguat intensitasnya,” tukasnya.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top