32.738 Warga BONE Buta Aksara – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

32.738 Warga BONE Buta Aksara

Suasana ujian paket C di SMA Negeri 2 Watampone, Kamis 7 April lalu. Angka buta aksara di Bone tergolong tinggi, mencapai 32.738

Bone Peringkat Kedua Terbesar

PENULIS : AGUSTAPA
WATAMPONE, RB—Angka penyandang buta aksara di Kabupaten Bone ternyata cukup tinggi. Data Tahun 2015, buta aksara di Bumi Arung Palakka mencapai 32.738 orang. Ini sekaligus menempatkan Bone sebagai rangking kedua terbesar pemilik buta aksara di Sulsel.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel Tahun 2015, penyandang tuna aksara di Sulsel sebanyak 331.808. Angka sebanyak ini tersebar di 24 kabupa-ten/kota.
Daerah yang memiliki buta aksara tertinggi berada di Kabupaten Gowa, yakni seba-nyak 46.983. Disusul Kabupaten Bone di peringkat kedua seba-nyak 32.738, Jeneponto (30.509), Maros (25.73) dan Bulukumba (21.434). Data selengkapnya lihat grafis. Penyandang buta aksara ini berada pada kelompok usia 15-59 tahun.

Adapun mengenai alokasi dana untuk penuntasan buta aksara tersebut berasal dari tiga sumber, yakni APBN, APBD I dan APBD II.
Untuk dana yang bersumber dari APBN, hanya empat daerah yang mendapat kucuran bantuan tahun 2015 yang menyasar 6.095 orang. Dengan rincian, Bantaeng untuk alokasi 1.525 orang, Jeneponto 1.550 orang, Takalar 1.020 orang, Toraja Utara sebanyak 2.000 orang.

Kemudian bantuan yang bersumber dari APBD I, seluruh daerah mendapat alokasi bantuan dengan total alokasi 10.000 orang. Sementara bantuan yang bersumber APBD II, ada 10 daerah yang tidak mengalokasikan dana untuk pemberantasan buta aksara tersebut, termasuk salah satunya adalah Bone.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Drs Nursalam, MPd yang dikonfirmasi RADAR BONE menilai wajar angka buta aksara di Bone tinggi. Pasalnya, kata dia jumlah penduduk di Bone juga tergolong besar, yakni sudah mencapai angka 800 ribu jiwa. “Jadi kalau mau dipersentasekan secara statistik tidak sampai 5%. Maka dari itu, tidak boleh juga dibandingkan dengan kabupaten lain yang jumlah penduduknya tidak banyak,” ungkapnya.

Terkait upaya pemberantasan buta aksara di Kabupaten Bone, Nursalam menegaskan, banyak upaya yang dapat dilakukan. Namun demikian, tidak serta merta hanya mengandalkan anggaran, karena mengingat anggaran APBD terbatas. “Untuk mengurangi jumlah buta aksara di Bone sebenarnya tergantung dari kemauan. Kalau kemauan besar, saya rasa itu tidaklah susah karena saat ini sudah banyak media sosial yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran,” bebernya.

Dia menambahkan, salah satu faktor penyebab buta aksara Bone tinggi, yakni tingkat kepedulian masyarakat yang rendah. Menurut dia, meski telah dibina sebelumnya, jika tidak ditindaklanjuti dengan belajar secara terus menerus, maka bisa saja dalam jangka waktu 2-3 tahun kembali ke kondisi awal, yakni tidak bisa membaca. “Maka dari itu, memang harus disertai dengan kemauan yang kuat, sehingga tidak boleh dana yang selalu menjadi barometer dalam memberantas buta aksara,” tuturnya.
Karenanya, untuk menekan pertumbuhan buta aksara, kata Nursalam pihaknya menekan siswa agar tidak putus sekolah “Jadi kami saat ini terus menekan agar anak-anak usia sekolah terus melanjutkan pendidikannya, sehingga ke depan tidak terjadi penambahan generasi buta aksara,” tandasnya.

Kasi Kesetaraan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Asis, SPd menambahkan, terkait upaya untuk mengurangi angka buta aksara di Bone, dia menegaskan pihaknya sudah melakukan sejumlah program.Selama ini, kata Asis, program pembinaan pembelajaran di kelompok aksara di beberapa kecamatan terus digiatkan. Tahun ini saja, sambung Asis, program pembinaan pembelajaran buta aksara dilaksanakan di Kecamatan Tonra, Patimpeng yang dikelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

“Pembinaan pembelajaran buta aksara yang dipusatkan di PKBM berlangsung selama enam bulan dengan pertemuan minimal tiga kali seminggu. Mereka di sini dibina membaca, berhitung dan menulis,” ungkapnya.
Hanya saja, kata Asis dalam pelaksanaan program tersebut pihaknya terkendala dana.Bantuan dana yang diterima tahun ini, sebut Asis jauh menurun dibanding sebelumnya. “Tahun lalu, kami menerima anggaran dari kabupaten sebesar Rp500 juta sehingga bisa efektif kegiatan di 27 kecamatan. Sedangkan tahun ini hanya berkisar Rp70 juta, sehingga sasarannya hanya dua kecamatan yakni Tonra dan Patimpeng,” ujarnya.

Agar tahun depan, kegiatan pembinaan kepada buta aksara bisa menjangkau 27 kecamatan, pihaknya kembali mengusulkan 108 kelompok pembelajaran dengan jumlah peserta didik 1.080 orang. Untuk mewujudkan target tersebut, kata Asis pihaknya membutuhkan anggaran Rp547.049.000. “Jadi sasaran pembelajaran kami mulai dari kelompok usia 15-49 tahun,” katanya. Lebih jauh dia mengungkapkan, selain peserta didik dibina belajar mereka juga dibina keterampilan kecakapan hidup, berupa pembuatan anyaman, kue abon dan lain-lain.”Tujuannya untuk memberikan bekal agar mereka bisa mandiri,” tuturnya.
Adapun sumber anggaran yang diterima, Asis mengatakan selain dari APBD kabupaten, pihaknya juga memperoleh anggaran dari APBD provinsi.

“Kalau tahun ini, Bone mendapat bantuan untuk 25 kelompok pembelajaran sebanyak 250 orang. “Untuk APBD Provinsi sasarannya di Kecamatan Barebbo dan Kecamatan Tanete Riattang dan Kecamatan Bengo,” kunci dia.

*ASKAR SYAM

To Top