Aktivis: Selamatkan Pohon Pelindung – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Aktivis: Selamatkan Pohon Pelindung

Aksi Pengrusakan Pohon Marak

PENULIS : ASKAR SYAM

WATAMPONE, RB–Aksi pengrusakan pohon terus terjadi. Parahnya, pohon pelindung yang berada di jalur hijau pun tak luput dari pengrusakan tangan-tangan tak bertanggungjawab. Pemandangan pohon yang meranggas dengan mudah dijumpai di daerah ini. Tak sedikit pohon pelindung yang berada di wilayah kota, tak terkecuali di jalur hijau tak luput dari aksi pengrusakan. Pohon pelindung yang berada di pinggir jalan dirusak dengan cara mengelupas kulit pohon di bagian pangkal. Menunggu beberapa pekan, pohon pun mengering tak berdaun, hingga akhirnya tumbang.

Seperti yang terjadi pada pohon pelindung di Jl MH Thamrin. Sedikitnya empat pohon pelindung yang berada di depan SD Negeri 5 Ta tinggal menunggu ‘ajal’ untuk tumbang.
Batang pohon sudah mengering dan daun habis karena berguguran. Pemandangan serupa bisa ditemui di Jl Agussalim, Jl Hos Cokrominoto, Jl HA Mappanyuki, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo dan Jl Jenderal Sudirman.
Salah seorang warga, Ilyas menyayangkan banyaknya pohon pelindung yang sengaja dirusak.

“Seharusnya masyarakat menghargai kinerja pemerintah, pohon tidak boleh dikelupas kulitnya, karena pohon itu sangat dibutuhkan untuk ruang terbuka hijau,” tuturnya.
Bahkan, di Jl Jenderal Sudirman sebuah pohon tumbang nyaris menimpa truk yang melintas, Selasa 14 Maret lalu sekira pukul 18.30 Wita.

Warga setempat menyebut pohon ini tumbang karena keseringan dipangkas pada bagian tertentu saja.“Penyebab tumbangnya pohon ini akibat berat sebelah, karena selalu dipangkas dari petugas PLN,” Ahmad Evendi (37), salah satu warga di Jl Jenderal Sudirman.

Ahmad mengaku menyaksikan detik-detik pohon tersebut jatuh ke tanah secara pelan. “Pohon ini roboh secara pelan, namun saya juga sempat panik karena dekat dengan jualan saya,” ungkap penjual gorengan tersebut.
Ia berharap agar pohon pelindung yang ada di pinggir jalan tidak dipangkas sebelah saja. Pasalnya, jika pemangkasan seperti itu dilakukan, lambat laun pohon akan condong ke jalan dan berakhir tumbang.

Aktivis lingkungan hidup di Kabupaten Bone, mengkritik praktik pengrusakan pohon di pinggir jalan. Termasuk di jalur hijau. Penebangan pohon dinilai serampangan dan tidak mengindahkan kaidah lingkungan.
“Harusnya cukup dirampingkan cabang dan rantingnya untuk meminimalkan risiko roboh atau ambruk dan menimpa kendaraan atau warga yang tengah melintas. Jadi jangan asal tebang,” kata Hendra, aktivis lingkungan hidup di Kabupaten Bone.

Hendra yang tergabung dalam organisasi kepencintaalaman MappesompaE STAIN Watampone ini menegaskan, dirinya tahu betul bagaimana sejarah penanaman puluhan pohon. Khususnya di sepanjang jalur keluar kota.
“Saya masih ingat senior-senior dengan sukarela menanam pohon di sepanjang poros jalan Bone-Wajo,” terangnya.
Harusnya lanjut dia, kewajiban pemerintah daerah merawat agar pohon-pohon besar itu tidak merugikan masyarakat.

“Apalagi saat ini, lahan untuk RTH (Ruang terbuka hijau) di Bone sangat kurang. Bahkan tidak sebanding dengan polusi yang dihasilkan. Solusi ini penting agar suplai oksigen memadai,” ucapnya. Aktivis lingkungan hidup lainnya, Evi turut mendesak Pemerintah Kabupaten Bone untuk mengasuransikan pohon pelindung di jalur hijau perkotaan sebagai komitmen kepedulian lingkungan hidup.

“Penerapan sistem asuransi memungkinkan pemerintah daerah dalam menjaga kawasan perkotaannya agar tetap rindang, teduh, dan ada keseimbangan lingkungan sehingga tetap lestari,” kata Evi menyarankan.
Usulan atau wacana asuransi yang dilontarkan bukan tanpa referensi. Ia menyebutkan contoh beberapa kota besar yang telah sukses memberlakukan kebijakan asuransi pohon, seperti Surabaya, Bandung, Bogor, dan beberapa kota lain.

“Di Surabaya, pohon yang tumbang karena bencana angin dan sebagainya mendapat kompensasi dana pengganti dari asuransi. Kalau di Bone saya salut sudah ada perda yang mengatur, jika ada yang menebang, meskipun sekadar memangkas cabang atau ranting tanpa izin, denda diberlakukan. Hanya saja, saya belum melihat penerapan perda itu,” tutupnya.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone menyayangkan aksi pengrusakan pohon pelindung tersebut.
Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone, A Padauleng mengatakan seharusnya masyarakat ikut memelihara pohon. Bukan sebaliknya merusak pohon.

“Bukan dibuka kulitnya, karena pohon itu sangat sulit untuk dikasi hidup, apalagi bibit pohon pelindung itu kita beli untuk ditanam. Terkadang kita tanam sepuluh pohon belum tentu ada yang tumbuh, seperti baru-baru ini kami menanam pohon di Jl Sukawati sebanyak lima pohon, dua hari kemudian setelah ditanam daunnya sudah layu.
Artinya pohon itu sangat sulit untuk ditumbuhkan, sementara oknum masyarakat sengaja untuk mematikannya,” kata Padauleng.

Padauleng mengharapkan dukungan masyarakat untuk penambahan ruang terbuka hijau, apalagi menghadapi penilaian Adipura 2017. “Mari kita jaga pohon supaya kota ini menjadi indah dan sejuk. Apalagi dalam penilaian adipura itu sangat berpengaruh jika sudah ada pohonnya, kemudian pohon itu mati, tentu akan mengurangi nilai,” paparnya.

To Top