Aneh, Kepsek SMAN 6 Bone Minta Digaji Sama Siswa – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Aneh, Kepsek SMAN 6 Bone Minta Digaji Sama Siswa

PENULIS : AGUSTAPA – ASKAR SYAM

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Meski dana BOS bisa digunakan untuk membayar insentif guru honorer. Namun, pihak sekolah tetap saja menarik pungutan dari siswa. Parahnya, ada yang menarik pungutan untuk memberi insentif kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah hingga wali kelas.

Penarikan iuran komite yang berlebihan ini terjadi di SMA Negeri 1 Kahu (Kini SMAN 6 Bone).
Informasi yang dihimpun RADAR BONE, iuran komite di sekolah ini, sebelumnya hanya Rp25 ribu, kini dinaikkan menjadi Rp35 ribu.

Kenaikan iuran ini dimaksudkan untuk membayar insentif fungsional guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS), termasuk di dalamnya kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan wali kelas. Ironisnya, justru guru honorer yang insentifnya selama ini bersumber dari iuran komite justru dipangkas. Sebelumnya, guru honorer menerima insentif Rp15 ribu perjam, namun kini diturunkan menjadi Rp10 ribu perjam untuk semester awal. Tak ayal, wacana kenaikan pembayaran uang komite membuat gerah kalangan orang tua dan wali siswa.

Salah satu orang tua siswa, berinisial SR mengaku terbebani dengan tingginya pembayaran uang komite.
“Masa kepala sekolah dan wali kelas mau dikasih insentif dari siswa.
Sama saja muridnya yang gaji guru. Mereka kan sudah PNS, ada gaji dan tunjangan, malah membebani lagi siswa dengan uang insentif,” keluhnya.

Dari daftar yang ada, kepala sekolah akan menerima insentif dari iuran komite sebesar Rp225 ribu per bulan dan wakil kepala sekolah Rp125 ribu.

Adapun insentif untuk guru honorer hanya Rp75 ribu. Total insentif fungsional per bulan dari uang komite ketika disetujui, mencapai Rp3.750.000 atau Rp45 juta pertahun.

Tak hanya iuran komite, orang tua siswa juga dibebani biaya pembangunan perpustakaan yang nilai total anggarannya mencapai Rp103 juta lebih.

Adanya guru berstatus PNS, termasuk pejabat sekolah yang menerima insentif yang bersumber dari pungutan komite cukup berlebihan.

Soalnya, guru PNS, selain mendapat tunjungan profesi guru, mereka juga menerima tunjangan pakasi dari APBD Provinsi sebesar Rp200 ribu per bulan. Khusus untuk di Bone, kini tunjangan pakasi ini dalam tahap pencairan. Setiap guru langsung menerima satu semester atau Rp1,2 juta perorang.

Kepala SMAN 1 Kahu Drs Muhammad Yusuf, MSi yang dikonfirmasi RADAR BONE, Rabu, 13 September kemarin tak menampik adanya rencana kenaikan iuran komite sekolah.

“Itu baru rencana, belum ada keputusan final,” tegasnya. Menurut Yusuf, iuran komite digunakan untuk membayar insentif fungsional kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan wali kelas dilakukan menyusul dihentikannya program Dana Pendidikan Gratis (DPG) oleh Pemprov Sulsel.

“Selama ini, saya selaku kepala sekolah, termasuk wakil kepala sekolah dan wali kelas mendapat insentif dari DPG, namun setelah program itu dihentikan oleh gubernur, komite menjadikannya sebuah program,” paparnya.
Yusuf juga mengakui pihaknya akan membangun tempat baca bagi siswa, bukan perpustakaan. “Jadi bukan pembangunan perpustakaan. Akan tetapi, pembangunan tempat baca siswa. Jadi ini masuk dalam program peningkatan mutu pendidikan,” jelas Yusuf.

Munculnya kedua program ini, kata Yusuf, karena selama ini iuranyang ditarik komite sebesar Rp25.000 per bulan hanya diperuntukkan untuk guru non PNS.

“Jika program pemberian insentif wali kelas, wakil kepala sekolah dan kepala sekolah terealisasi, maka iuran komite bakal mengalami tambahan. Di luar dari partisipasi orangtua siswa dalam rangka pembangunan tempat baca siswa,” bebernya.

Lebih jauh Yusuf mengungkapkan, jika rencana ini ditolak orang tua siswa, maka pihaknya pun tidak bisa memaksakan. “Program ini bakal dibicarakan kembali dengan orang tua siswa,” tandasnya.

Wakil Kepala SMAN 1 Kahu, Tamrin mengakui keputusan menaikkan iuran komite belum bersifat tetap. “Sampai saat ini, belum ada keputusan final,” ungkapnya saat ditemui RADAR BONE usai mengikuti rapat koordinasi di Kantor UPT Wilayah Bone, Rabu, 13 September kemarin.

*

Click to comment
To Top