Aneh Rekruitmen PPL di Passippo Palakka. Pendaftar Lokal Digugurkan, Pendaftar dari Luar Diloloskan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Aneh Rekruitmen PPL di Passippo Palakka. Pendaftar Lokal Digugurkan, Pendaftar dari Luar Diloloskan

ilustrasi

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Rekruitmen pengawas pemilihan lapangan (PPL) di daerah ini menuai sorotan. Panitia pengawas kecamatan (Panwascam) diduga melanggar syarat administrasi dengan meloloskan peserta yang bukan penduduk setempat.

Dugaan permainan rekruitmen PPL ini terjadi di Desa Passippo, Kecamatan Palakka. Seorang warga setempat bernama Andi Rosneny menjadi pendaftar tunggal dalam perekrutan petugas PPL di Passippo. Hanya saja, Rosneny harus tersingkir dengan dalih dianggap tidak menguasai bidang kepemiluan.

Panwascam setempat justru meloloskan pendaftar PPL dari desa lain, yakni Desa Tirong untuk ditempatkan di Desa Passippo. Padahal salah satu syarat penerimaan petugas PPL adalah pelamar wajib memiliki KTP atau surat keterangan (Suket) pengganti KTP desa setempat.

Tak pelak, rekruitmen Panitia Pengawas Lapangan (PPL) di Desa Passippo, Kecamatan Palakka yang diduga tidak prosedural, menimbulkan kritikan banyak pihak.

Praktisi Sosial, Rahman Arif menegaskan, dugaan permainan sangat jelas terlihat. Apalagi, PPL yang diloloskan tidak berdomisili di desa yang akan diawasi.

“Apakah memang di desa itu (Passippo) tidak ada lagi SDM (Sumber Daya Manusia) yang bisa dimanfaatkan sehingga panwaslu harus menggunakan tenaga dari desa lain,” ujarnya.

Olehnya itu, Rahman mencurigai adanya tendensi dari pihak lain, sehingga panwascam harus meluluskan warga dari desa lain. Disamping itu, Rahman juga memastikan pengawasan di desa itu tidak akan berjalan optimal.

“Selain tendensi dari warga, ketidakpahaman terkait kondisi desa yang akan diawasi juga akan menjadi kendala besar. Apakah memang regulasi tidak mengharuskan diperpanjang pendaftaran sehingga Panwascam memaksakan meluluskan orang dari desa lain,” kritiknya.

Akademisi, Ali Anas, SSos, MSi menilai tindakan panwascam sebagai penyelenggara pemilu menciderai kualitas proses. Rekruitmen tersebut terkesan sarat permainan. Dengan adanya cuma satu pendaftar PPL di Passippo menunjukkan minimnya sosialisasi yang dilakukan panwascam.

“Seharusnya ini disosialisasikan, kalaupun sudah disosialisasikan namun pendaftarnya hanya satu, harusnya dibuka kesempatan lagi bagi pendaftar lainnya karena tidak menutup kemungkinan dari ratusan warga di desa tersebut bukan hanya satu orang saja yang mau menjadi PPL. Kalau hanya satu orang saja pendaftarnya, saya pikir perekrutan ini tidak objektif. Wajar saja jika publik berpikir ada dugaan permainan di dalamnya,” ungkap Ali Anas saat dikonfirmasi RADAR BONE, Rabu 17 Januari kemarin.

Kandidat doktor ini menambahkan animo masyarakat untuk menjadi penyelenggara pemilu, baik di jajaran KPU maupun Panwaslu sangat tinggi. Ini dibuktikan dengan aktivitas perekrutan yang sebelum-sebelumnya, seperti PPK, PPDP, Panwascam hingga PPL. Hanya saja, informasi penerimaan petugas PPL ini tidak tersosialisasi dengan baik. Sejatinya, kata Ali Anas, pihak Panwaslu dan Panwascam mempublikasikan penerimaan PPL tersebut melalui media massa.

“Tidak rasional ketika tidak ada orang yang mau berkeinginan menjadi panitia dalam pemilu, dan saya pikir ini bakal menciderai pemilu nantinya karena kualitas pemilu ada pada penyelenggara pemilu itu sendiri yaitu KPU dan Panwaslu sendiri,” pungkasnya.

Koordinator Divisi Organisasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) Panwascam Palakka, Munandar yang dikonfirmasi mengakui pendaftar PPL di Desa Passippo memang tunggal. Namun yang bersangkutan tidak lolos dalam tes wawancara, sehingga dinyatakan gugur.

“Kemarin itu ibu Andi Rosneny memang pendaftar tunggal di Desa Passippo, cuma karena pada waktu tes wawancara tidak ada dia jawab mengenai tahapan-tahapan pemilu, makanya kami anggap bahwa dia tidak berkompeten di bidang pengawasan, makanya kami anggap Passippo itu sudah lowong,” ungkap Munandar saat dikonfirmasi RADAR BONE, Rabu 17 Januari kemarin.

Adapun pendaftar yang diloloskan yang mendaftar di Desa Tirong, karena dinilai memiliki nilai tertinggi diantara pendaftar lainnya di Desa Tirong sehingga dia ditempatkan di PPL Desa Passippo.

“Dia mendaftar di Tirong, dan pada saat wawancara dia yang paling tinggi nilainya makanya tetap diluluskan, makanya kami tempatkan saja di Passippo karena Andi Rosneny nilainya rendah,” kata Munandar tanpa membeberkan nilai peserta dimaksud.

Lanjut dia, tidak menjamin pendaftar tunggal otomotis lolos dalam rekruitmen. Sepanjang tidak lolos dalam ujian, termasuk tes wawancara maka yang bersangkutan dinyatakan gugur.

“Kalau pun memang dia berdomisili di tempat itu, namun tidak berkompeten makanya disilang, bukan berarti bahwa mendaftar di situ (Desa setempat) otomatis lulus, kan ada tes wawancara buat apa ada tes wawancara kalau memang merujuk pada tempat domisili, dan domisilinya itu hanya berlaku pada pendaftaran atau administrasi mengenai tentang penempatannya yah tergantung dari panwas, sesuai dengan nilainya,” tuturnya.

Komisioner Panwaslu, Muh Alwi, SE menambahkan dimungkinkan peserta diambil dari desa lain jika di desa setempat tidak ada pendaftar.

“Seharusnya begitu (Berasal dari penduduk setempat) tapi bisa saja pada saat wawancara ada pertimbangan lain, yang ditemukan oleh panwascam, misalnya terkait integritasnya,” jelas Alwi.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top