Anggaran Perbaikan Gizi di Bone, Minim – Radar Bone

Radar Bone

Uncategorized

Anggaran Perbaikan Gizi di Bone, Minim

Suriati dengan penuh kasih sayang memangku anaknya, Abid Nizam Suhdi yang dirawat di RSUD Tenriawaru, Minggu 18 Desember kemarin. Bocah ini diduga mengalami gizi buruk.

Bone Belum Bebas Gizi Buruk

WATAMPONE, RB—Kabupaten Bone belum bebas dari kasus gizi buruk. Hanya saja, anggaran program perbaikan gizi masyarakat sangat minim. Pada APBD 2017, cuma dianggarkan Rp18 juta. Pada Rabu, 14 Desember lalu, seorang bocah tiga tahun bernama Abid Nizam Suhdi dilarikan ke RSUD Tenriawaru Watampone karena kondisi fisiknya terus menurun. Tulang punggung bocah ini kelihatan karena saking kurusnya. Selain itu kepalanya pun membesar.

Menurut ibunya, Suriati, Nizam lahir di Kalimantan dalam keadaan normal. Berat badan waktu lahir 3,8 kg. Namun usianya kini sudah menginjak tiga tahun, berat badannya cuma 5 kg. Nizam dilahirkan saat kedua orangtuanya me-rantau di Kalimantan. Suriati memilih kembali ke Bone setelah bercerai suaminya.

“Waktu di Kalimantan memang sudah dikasi masuk ke rumah sakit. Bahkan sempat dioperasi namun kondisinya terus menurun hingga saya memilih kembali ke Bone,” kata Suriati saat ditemui RADAR BONE di kamar I zaal anak RSUD Tenriawaru, Minggu 18 Desember kemarin. Menurut Suriati, sejauh ini kondisi anaknya belum menunjukkan perubahan yang membaik. Bahkan, malah semakin memprihatinkan.

Dia pun berharap pihak rumah sakit bisa menolong anak keduanya itu.“Saya berharap agar bisa sehat dan normal,” ucapnya.
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bone yang dikonfirmasi rupanya belum menerima informasi terkait bocah asal Welalangnge Kelurahan Bulu Tempe, Kecamatan Tanete Riattang Barat itu. “Belum ada infonya. Insya Allah, besok (Hari ini), petugas surveilance gizi akan turun mengecek,” kata dokter berkacamata itu.
Eko menambahkan tenaga surveilance gizi yang diturunkan untuk memastikan, apakah bocah tersebut termasuk kategori gizi buruk atau bukan. “Karena bisa saja bukan gizi buruk, tapi ada penyakit lain diderita,” jelas Eko saat dihubungi RADAR BONE, Minggu 18 Desember kemarin.

Lebih jauh Eko mengungkap, bahwa jumlah penderita gizi buruk yang menjadi pantauannya tahun ini sebanyak 11 kasus. Angka ini jauh menurun dibanding kasus yang terjadi 2015 sebanyak 25 kasus.
Eko juga tak menampik jika Bone tak pernah sepi dari kasus gizi buruk. Cuma saja, kata Eko penderita yang ditemukan umum-nya berasal dari luar. “Pernah juga ada dari Sinjai,” bebernya.

Terkait anggaran program perbaikan gizi masyarakat yang cukup minim, Eko membenarkan. Menurut dia, itu tak terlepas kurangnya alokasi anggaran yang diterima. Meski begitu, kata Eko pihaknya berupaya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.
Diketahui, anggaran program perbaikan gizi masyarakat yang dialokasikan dalam APBD 2017 cuma Rp18.635.000. Ang-ka ini jauh turun dibanding dua tahun terakhir yang mencapai Rp110 juta.

Eko menambahkan persoalan gizi buruk sesungguhnya bukan hanya tanggung jawab Dinas Ke-sehatan semata. Melainkan juga seluruh lapisan masyarakat turut berperan menangani kasus tersebut. Salah satunya dengan cara merubah pola pikir masyarakat.
“Banyak yang mengira gizi buruk itu karena kekurangan makan, tidak selamanya begitu. Sebenarnya penyebabnya itu karena kesalahan pola asuh orangtuanya. Misalnya saja kurangnya pemberian ASI, dan berbagai penyakit lain yang menjadi faktor, semisal kelainan bawaan dan masih ba-nyak lagi,” jelas Eko.

Lebih jauh dia membeberkan perihal ciri-ciri gizi buruk pada anak, yakni pertumbuhannya tidak sesuai dengan umur, rambut seperti jagung berwarna kemerahan, berat badan menurun drastis dan kulit keriput.
Menurut dia, kasus gizi buruk bisa dicegah, jika masyarakat aktif dalam melaksanakan kegiatan Posyandu di seluruh desa dan kelurahan masing-masing. “Semua pihak harus terlibat, kepala desa, PKK, apalagi kita ada Program Bone Sehat ya kan? Jadi harus bersinergi,” ujarnya.

*

To Top