Anggotanya Diduga Pungli, Ini Kata Kadisdukcapil Bone – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Anggotanya Diduga Pungli, Ini Kata Kadisdukcapil Bone

PENULIS : RISNAWATI

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Pihak Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bone bereaksi atas dugaan pungutan liar yang melibatkan pegawai setempat. Saat ini, Disdukcapil melakukan penelusuran untuk memastikan praktik nakal oknum pegawai di kantor tersebut.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone, Drs Andi Darmawan yang dihubungi via sambungan telepon berjanji akan memproses dugaan pungli yang melibatkan oknum pegawai di kantornya tersebut. Jika terbukti, sambung Darmawan baru dijatuhkan sanksi sesuai tingkat kesalahannya.

“Nanti dipanggil orangnya, berapa yang dia bayar dan sama siapa membayar. Kami proses dulu dan sejauh mana pelanggarannya, baru dikenakan sanksi,” ujar Andi Darmawan yang sedang dinas di luar kota.
Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone, Drs Andi Amda MH mengatakan jika ditemukan oknum pegawai benar-benar melakukan praktik pungli pihaknya akan menyerahkan persoalan tersebut kepada yang berwenang.

“Ini masih dugaan, kalau sudah terbukti nantinya akan diberikan sanksi langsung oleh pihak yang berwenang,” ungkap Amda saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 26 Juli kemarin.

Diberitakan sebelumnya, pemohon yang tak ingin antre atau tak memiliki berkas lengkap menjadi sasaran empuk bagi oknum pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dalam menjalankan praktik pungli. Pasalnya, pemohon seperti itu, tak segan-segan mengeluarkan sejumlah uang untuk memuluskan pemohonannya mengurus dokumen kependudukan. Parahnya, oknum pegawai setempat diduga memanfaatkan hal itu.

Salah seorang warga asal Desa Pattuku Limpoe, Kecamatan Lapri kepada RADAR BONE mengaku kerap memberikan sejumlah uang kepada salah satu oknum pegawai Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil (Capil) untuk mengurus dokumen kependudukan warganya, seperti kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK). Uang pelicin, kata dia diberikan untuk memuluskan urusan berkas yang bermasalah dengan data.

“Setiap ada berkas warga saya, yang mau diuruskan di Capil saya yang uruskan semua. Dan kalau ada data mereka (warga) yang tidak sesuai atau berbeda dengan berkas lainnya, saya hanya tinggal datangi atau hubungi teman saya di Capil (Oknum pegawai) untuk minta bantuan agar berkas tersebut diselesaikan tanpa peru saya bolak-balik ke sana kemari mengurus kekurangannya berkasnya. Dia siap membantu saya dan saya juga membantunya dengan memberikan sejumlah uang,” ungkap ID, yang mengaku sebagai perangkat desa itu saat ditemui RADAR BONE, Senin, 17 Juli lalu. Dengan memberikan uang pelicin tersebut, ID mengakui berkas yang diurusnya di Capil akan tuntas dalam satu hari.

“Kalau orang biasanya tunggu berkasnya sampai tiga hari. Kalau saya bisa terima satu hari, dengan bantuan teman (Orang dalam). Karena saya dibantu maka saya juga membantunya dengan memberikan uang sebesar Rp30 ribu per berkas,” beber ID.

Hal serupa diakui Ina, seorang warga Desa Lili Riawang Kecamatan Bengo. Wanita ini mengaku dimintai sejumlah uang oleh salah satu oknum pegawai Capil berinisial AT untuk kelancaran pengurusan berkas yang diurusnya.
Tawaran itu diberikan AT, kata Ina karena berkasnya tidak lengkap, yakni harus melalui keputusan pengadilan untuk perubahan identitas di dokumen kependudukan.

“Saya ditelepon oknum pegawai capil (AT). Katanya berkas saya ini bisa diurus asalkan saya mau mengerti, yang dalam artian mengerti itu yakni dia meminta uang sebesar Rp500 ribu untuk mengurus berkas yang harus melalui tiga kali persidangan. Dia (AT) bilang tidak bisa menyelesaikannya sendiri berkas saya, sehingga butuh bantuan temannya. Akan tetapi saya tidak terlalu menanggapi hal tersebut, apakah biaya Rp500 ribu itu sudah masuk semua biaya tiga kali sidang dimaksud, ataukah Rp500 ribu untuk satu kali sidang,” beber Ina.

Ina mengaku belum mengiyakan tawaran tersebut. Dia memilih mencari cara lain yang dinilai jelas dan tidak menyimpang. “Saya belum menanggapi tawarannya tersebut, karena mengingat saya cari jalan keluar yang lain. Saya juga tidak mau keluarkan uang kalau belum jelas,” kunci Ina.

*

To Top