Angka Kriminalitas Anak di Bone Tinggi. Ini Buktinya! – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Angka Kriminalitas Anak di Bone Tinggi. Ini Buktinya!

PENULIS : BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Bone menyatakan segera membentuk pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak (P2TPA) di setiap kecamatan. Petugas P2TPA nantinya akan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan pemerintah setempat untuk mengatasi tindak kriminal anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bone Hj A Nurmalia SH MH melalui Kasi Pemenuhan Hak dan Perlindungan Khusus Anak, A Lisnawati SSos kepada RADAR BONE Rabu 17 Januari kemarin mengatakan, pihaknya juga akan membentuk perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat (PATBM) di setiap desa.

Pembentukan kedua satuan tugas itu untuk menjawab kekurangan SDM yang dimiliki selama ini. Minimnya SDM ini, kata Lisnawati membuat pihaknya sehingga sulit mengontrol dan melakukan sosialisasi ke masyarakat, sehingga memicu tingginya angka kriminalitas anak saat ini. “Sebenarnya PATBM sudah terbentuk di dua desa tahun sebelumnya, yakni Desa Pitumpidangnge Kecamatan Libureng dan Desa Bonto Padang Kecamatan Kahu dan semua kader kedua desa tersebut bergabung dari Bhabinkamtibmas dan Babinsa serta pemerintah setempat dan tokoh masyarakat,” kata Lisnawati.

Lanjut dia, kader PATBM di dua desa tersebut juga sudah mengikuti pelatihan di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. “Hanya saja kader itu belum maksimal, karena baru dua desa, sedangkan desa yang ada di Kabupaten Bone sebanyak 328,” tuturnya.

Lisnawati menambahkan untuk menekan angka kriminalitas anak di bawah umur dibutuhkan perekrutan kader yang bisa membantu DP3A. “Karena kami masih kekurangan tenaga, meskipun selama ini kerja sama antar DP3A dengan pihak kepolisian sudah ada, tapi belum maksimal,” jelasnya.

Saat ini kata Lisnawati, pihaknya mulai intens melakukan sosialisasi ke sekolah Diberitakan sebelumnya, anak terlibat kasus kriminal menyita perhatian publik belakangan ini. Pencurian adalah kasus yang cukup menonjol melibatkan anak.

Kasus terbaru adalah terbongkarnya komplotan begal yang melibatkan dua pelajar. Tim Reskrim Polsek Tanete Riattang meringkus tujuh pemuda yang diduga kuat sebagai dalang aksi begal di daerah ini, Sabtu, 13 Januari lalu.

Dari ketujuh pelaku, dua diantaranya anak di bawah umur, yakni RB berusia 15 tahun dan IS 14 tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Balai Pemasyarakatan Klas II Watampone, angka anak terlibat kasus kriminal tergolong tinggi. Sebagai gambaran, pada 2016 tercatat 167 anak yang terlibat kasus kriminal. Mereka terlibat dalam beberapa kasus, seperti pencurian, penganiayaan, laka lantas, dan narkotika.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top