Angkot-Angdes Wajib Masuk Terminal – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Angkot-Angdes Wajib Masuk Terminal

Syamsul Rijal

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Angkutan kota (Angkot) dan angkutan desa (Angdes) sejatinya masuk ke terminal tipe A untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Bukan menaikkan dan menurunkan penumpang di luar teminal. Terkhusus angdes diharuskan melewati jalur yang telah ditentukan menuju ke terminal. Dengan kata lain, angdes tidak boleh masuk ke dalam kota.

Kepala Seksi Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Kabupaten Bone, Syamsul Rijal mengatakan dilarang keras angdes berkeliaran di area perkotaan.

“Angkutan desa itu harus mengambil izin insidentil terlebih dahulu untuk melewati jalur di luar trayeknya. Di sini (Kota) adalah trayek untuk angkutan kota.

Jadi kalau angkutan pedesaan dari tiga titik yakni Selatan, Barat, dan Utara masuk tanpa izin, itu sudah pelanggaran karena bukan trayeknya,” tegas Syamsul.

Menurut Syamsul, angdes memiliki jalur khusus menuju terminal tipe C, setelah itu kembali ke trayek masing-masing. Syamsul mencontohkan, angdes yang berasal dari wilayah Selatan harus melewati jalur Pallengoreng menuju ke terminal. Kemudian yang dari arah Barat langsung masuk ke terminal, tanpa harus ke kota. “Kecuali ada carteran atau rombongan, itu harus ada izin insidentilnya,” beber Syamsul.

Diakui Syamsul penegasan larangan untuk melewati jalur perkotaan sudah disampaikan kepada supir angdes. “Bahkan sudah dipasangkan tanda larangan, akan tetapi tetap saja melewati jalur tersebut.

Sudah ada larangan melintas untuk angkutan pedesaan, tapi mereka tetap melintas,” aku Syamsul.
Syamsul mengakui kendala yang dihadapi terkait hal tersebut adalah tidak adanya kewenangan penindakan yang dimiliki dishub.

“Kendala sekarang adalah sisi penindakan, kita tidak punya kewenangan karena di kantor dishub ini tidak ada penyidik, cukup kita sudah menyiapkan sarananya untuk larangannya akan tetapi penindakan itu ada di ranah kepolisian. Kami hanya sebatas menyampaikan saja serta sosialisasi soal larangan itu, kalau masalah penindakannya itu pihak kepolisian,” bebernya.

Hanya saja, argumen yang disampaikan Syamsul sangat bertolak belakang dengan fakta di lapangan, dimana oknum petugas dishub sendiri yang membiarkan angdes masuk kota dengan melebihkan pembayaran retribusi terminal dari Rp1.000 menjadi Rp3.000 per karcis.

Setidaknya ini terungkap di titik penarikan retribusi Pallengoreng. Pallengoreng merupakan titik penyumbang retribusi terminal terbesar, yakni ditarget Rp300 ribu perhari. Namun faktanya sulit tercapai.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top