Bahaya HIV-AIDS. Satu Penderita Bisa Tulari 100 Orang – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Bahaya HIV-AIDS. Satu Penderita Bisa Tulari 100 Orang

PENULIS : BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Virus HIV/AIDS sudah masuk ke daerah ini. Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bone mencatat 147 kasus dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. Berdasarkan data yang diperoleh dari Komisi Penggulangan AIDS (KPAD) Kabupaten Bone, dalam kurun waktu 2010-2018, kasus HIV/AIDS menunjukkan peningkatan. Sebagai gambaran, pada 2010 kasus HIV/AIDS yang ditemukan di daerah berjumlah lima orang. Dengan rincian 3 penderita masih taraf HIV dan dua orang sudah mengidap AIDS. Selanjutnya pada 2011 terjadi peningkatan kasus HIV menjadi 11 penderita, dan kasus AID menjadi lima penderita, dengan total 16 orang. Pada 2012 dan 2013 sempat mengalami penurunan kasus. Namun memasuki 2014 hingga 2018, kasus HIV/AIDS kembali melonjak. Setidaknya hingga September 2018, tercatat 110 kasus HIV dan 37 kasus AIDS, atau total kasus HIV/AIDS 147 kasus.

Pengelola Program KPAD Bone, Abidin Syam mengatakan data kasus HIV/AIDS diperoleh dari pasien yang dirawat di rumah sakit. “Semua data dihimpun dari rumah sakit,” kata Abidin, belum lama ini. Menurut Abidin, penderita HIV sulit dideteksi karena dalam kesehariannya ia terlihat sehat. Namun penderita baru ketahuan setelah darahnya diperiksa. “Penderita biasanya masuk dengan keluhan lain. Setelah diambil darahnya di rumah sakit, di situ baru bisa ketahuan, kalau yang bersangkutan mengidap HIV,” kata Abidin.
Mantan pegawai Dinas Kesehatan ini menegaskan kendati penderita terlihat sehat, namun ia bisa menulari orang lain, karena harus dideteksi secepatnya. “Satu penderita bisa menulari 100 orang. Makanya bagaimana upaya secepatnya para penderita ini dideteksi, supaya tidak menulari orang lain,” kata Abidin.
Lanjut dia, penularan bisa melalui hubungan seksual. Makanya, langkah paling efektif jangan melakukan hubungan seks dengan pasangan lain. “Untuk menghindarinya, ya harus setiap dengan pasangan kita,” tegas Abidin.

Menurut Abidin, ketika penderita baru taraf HIV sesungguhnya bisa diobati. Hanya saja, kata dia penderita tersebut terdeteksi karena tertutup. “Bahkan ada penderita yang meninggal, karena begitu dia mengetahui dirinya mengidap HIV, dia drop karena tidak mau makan,” ungkap Abidin. Penderita dimaksud, sambung Abidin adalah seorang mantan pekerja kafe di Makassar.
Diakui Abidin, kasus HIV/AIDS yang ditemukan di daerah ini umumnya dibawa oleh perantau. Namun demikian, jika tidak terdeteksi secepat bisa menularkan kepada warga setempat.
Meningkatnya kasus HIV/AIDS dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir, menurut Abidin disebabkan oleh dua faktor. Pertama, karena temuan meningkat karena keaktifan KPAD melakukan penelusuran. Kedua, karena pendatang banyak yang masuk ke Bone.”Makanya upaya kami di KPAD, bagaimana supaya tidak ada penderita baru di Bone atau yang tertular,” tegasnya.

“Karenanya sosialisasi kami gencarkan. Baru-baru ini kami sosialisasi untuk menjaga supaya tidak ditemukan penderita baru,” kunci dia.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Bone mencatat korban meninggal dunia juga mengalami peningkatan. Pada 2017, ada empat penderita HIV positif berubah menjadi penderita AIDS dan keempatnya meninggal dunia. Sedangkan tahun 2018, korban meninggal akibat HIV/AIDS bertambah menjadi lima orang.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, dr Yusuf mengatakan peningkatan korban kasus HIV/AIDS ini disebabkan ketertutupan masyarakat terhadap penyakit ini. HIV/AIDS dianggap sebagai aib, sehingga penderita dan keluarga enggan melaporkan diri. Akibatnya, penderita HIV positif kerap tak tertolong. “Dari 17 penderita HIV tersebut, lima diantaranya tidak berhasil diselamatkan disebabkan sudah parah atau sudah dikategorikan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) sehingga tidak dapat lagi tertolong.

Meskipun si penderita mendapatkan perawatan sebelum meninggal dunia. Namun tidak bisa lagi tertolong, disebabkan sudah parah,” kata Yusuf kepada RADAR BONE, Kamis, 25 Oktober lalu.
Lanjut Yusuf, sesungguhnya jika penderita diketahui akan diberikan perawatan. Diagnosa penderita HIV bukan berarti seseorang memiliki AIDS atau mereka akan meninggal. Perawatan, kata Yusuf akan memperlambat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh, sehingga orang dengan HIV dapat tetap baik, hidup sehat dan memuaskan.

“Padahal kalau penyakit itu diketahui secepatnya bisa diberikan obat daya tahan tubuh, supaya bisa bertahan lama. Karena sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan, tapi jika penderita mengkonsumsi obat setiap hari, maka bisa bertahan. Apalagi obatnya digratiskan dan tidak pernah habis,” jelas Yusuf.

Menurut Yusuf, kasus HIV/AIDS ibarat gunung es, penderita bisa saja lebih banyak dibanding yang terdeteksi, karena keengganan penderita melaporkan diri.
Yusuf menambahkan penderita HIV/AIDS yang terdeteksi kebanyakan perantau.
Karenanya Yusuf meminta masyarakat atau penderita tak perlu malu untuk melaporkan diri agar bisa segera mendapatkan perawatan.

“Maka untuk mencegah penularan HIV harus menghindari kontak atau pertukaran cairan antar penderita HIV dengan yang sehat. Yang terpenting adalah bagaimana setiap orang mengetahui status HIV-nya. Lalu memastikan mereka semua berobat sesuai dengan standar,” kata Yusuf seraya mengungkapkan HIV menular dari cairan tubuh yang terinfeksi virus HIV seperti darah, cairan sperma dan vagina, cairan otak, serta air susu ibu. Adapun penderita HIV/AIDS rata-rata berumur 25-49 tahun.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top