Bapenda Prioritaskan Pedagang Resmi – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Bapenda Prioritaskan Pedagang Resmi

Suasana aktivitas pedagang di Pasar Balle, Kecamatan Kahu,. kemarin.

Protes Pembagian Lods di Pasar Balle

PENULIS : RISNAWATI

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kisruh pembagian lods di Pasar Balle, Kecamatan Kahu ditanggapi Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bone. Sekretaris Bapenda Kabupaten Bone, Drs Andi Alimuddin mengatakan pihaknya memprioritaskan pedagang resmi untuk mendapatkan lods atau kios Pasar Balle.

“Yang tidak dapat itu memang tidak berhak karena tempatnya pelataran. Memang orang semuanya mau naik di situ (Lods). Biar di pelataran juga mau naik, jadi tidak cukup. Makanya yang diprioritaskan itu adalah penjual resmi,” ungkap Alimuddin kepada RADAR BONE, Kamis 4 Mei kemarin.

Terkait dugaan permainan dalam pembagian lods di Pasar Balle, Alimuddin menegaskan jika menemukan bukti yang cukup, bisa di bawa ke ranah hukum.

“Pastinya yang penjual resmi itu sudah dapat, akan tetapi kalau ada yang mendapatkan lebih dari satu itu, langsung saja bawa ke polisi. Jadi tidak ada lagi yang bisa macam-macam,” jelasnya.

Yang informasi yang dihimpun RADAR BONE, ada oknum Bapenda di tingkat bawah yang bermain dalam dugaan penjualan lods di Pasar Balle. Kabarnya setiap lods ‘dijual’ seharga Rp1 juta. Akibatnya ada pedagang yang kebagian tempat, karena dugaan permainan tersebut.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah perwakilan pedagang di Pasar Balle, Kecamatan Kahu, mendatangi gedung DPRD Bone, Selasa 2 Mei lalu. Pedagang memprotes pembagian lods serta kios yang dinilai sarat permainan. Bahkan beberapa pedagang menyebut pembagian lods serta kios menggunakan sistem jatah.

Aspirasi para pedagang, diterima Anggota DPRD Bone, H Saipullah Latief dan Irwandi Burhan.
Salah seorang pembawa aspirasi, Andi Baharuddin Batong menegaskan, sebelum dibangun, jumlah pedagang yang aktif berjualan dan terdata di Pasar Balle, mencapai 136 orang. Sementara, jumlah lods dan kios yang dibangun lanjut dia, mencapai 156.

“Pertanyaannya, kenapa kios dan lods tidak cukup?. Itu karena adanya permainan dalam pembagian. Semua menggunakan sisten jatah,” tegasnya.

“Ada pedagang selain mendapat kios juga mendapat lods. Itu yang menjadi penyebab, sehingga pedagang lain, ada yang tidak mendapatkan tempat berjualan,” ujarnya.

Fakta lainnya lanjut Baharuddin, ada pedagang yang dulunya hanya menempati lapak, justru sekaran menempati kios. “Sebaliknya, ada pedagang dulunya dapat kios sekarang dapat lapak,” ujarnya sembari membeberkan bentuk kejanggalan dari pembagian lods dan kios di pasar itu. Termasuk lanjut dia, adanya dugaan jual beli lods dan kios di pasar itu.

To Top