Bone Zona Merah Buta Aksara. Ini Upaya Pemda – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Bone Zona Merah Buta Aksara. Ini Upaya Pemda

Ilustrasi

RADARBONE.CO.ID–Perintah pusat memberi perhatian serius terhadap pemberantasan buta aksara di daerah ini. Meski angka penyandangnya sudah menurun, namun Bone masih masuk zona merah. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengalokasikan dana pencanangan Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Mandiri (GP3M) dan Gerakan Indonesia Membaca, serta Kampung Literasi bagi Kabupaten Bone. Gerakan ini dimotori Direktorat Kesetaraan Pendidikan dan Keaksaraan PAUD dan Dikmas Kemendikbud.

Menanggapi penempatan program Kemendikbud tersebut,  Wakil Bupati Bone, Drs H Ambo Dalle MM menilai Kemendikbud sudah tepat dalam mengalokasikan dana stimulan tersebut ke daerah ini. Mengingat, kata Ambo Dalle, masih banyak penyandang buta aksara di Bone. Ini terjadi karena Kabupaten Bone memiliki wilayah yang luas dan penduduk banyak di banding daerah lain di Sulsel. Untuk luas wilayah dan jumlah penduduk, Bone menempati urutan kedua setelah Makassar.

“Bone ini sebenarnya masuk dalam zona merah buta aksara, olehnya itu, ini merupakan tanggungjawab bersama untuk menuntaskan melalui program GP3M, gerakan membaca dan kampung literasi,” ungkap Ambo Dalle.

Ambo Dalle berharap dengan kehadiran program GP3M dan program kampung literasi yang dipusatkan di Kelurahan Toro, Kecamatan Tanete Riattang Timur, diharapkan akan membawa percepatan penuntasan buta aksara di Bumi Arung Palakka.

“Saya rasa tidak salah lagi Bone dijadikan sebagai pilot project program ini. Dengan adanya kampung literasi yang ditempatkan di Toro, yang mana di sana sebagian besar warganya bekerja sebagai petani rumput laut, sehingga tidak terlalu memperhatikan pendidikannya. Penuntasan buta aksara ini kita harus punya target, minimal dua sampai tiga tahun Bone sudah bebas buta aksara atau buta huruf,” jelasnya.

Direktur Kesetaraan Pendidikan dan Keaksaraan PAUD dan Dikmas Kemendikbud, Dr Abdul Kahar MPd, mengungkapkan 2,07 persen dari total penduduk Indonesia, masih buta huruf.
“Program yang dicanangkan ini dilakukan setelah melihat dominan angka penyandang buta huruf adalah perempuan, makanya salah satu upaya penuntasannya melalui GP3M, karena dari angka tersebut memang dominan perempuan,” bebernya.

Sementara itu, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Bone melalui Bidang PAUD dan Dikmas tak mampu memaparkan data penyandang buta aksara di daerah ini.
“Belum ada data jumlah buta aksara yang kami pegang, karena di sini yang kita pegang data program,” kata Asis, Kasi Kesetaraan Bidang PAUD dan Dikmas.

Sebelumnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone, menunjukkan angka buta aksara Kabupaten Bone pada tahun 2017 sebesar 10,87 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Atau sebanyak 93.878 orang jika merujuk angka penduduk tahun 2017 yang berjumlah 863.654.
Kepala BPS Kabupaten Bone melalui Bagian Pengolahan Data,Vani mengatakan dari data tarsebut menunjukkan angka buta aksara di Bone mengalami penurunan.

“Memang data terakhir kami angka buta aksara mengalami penurunan yakni pada tahun 2016 sebesar 11,38 persen dari jumlah penduduk. Dan turun pada tahun 2017 menjadi 10,87 persen dari jumlah penduduk. Data ini kami ambil sampel dari umur 15 tahun ke atas,” ungkap Vani.

Sesungguhnya, Kabupaten Bone pernah menempati posisi kedua teratas, penyandang buta aksara di Sulsel. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel Tahun 2015, penyandang tuna aksara di Sulsel sebanyak 331.808. Angka sebanyak ini tersebar di 24 kabupaten/kota. Daerah yang memiliki buta aksara tertinggi berada di Kabupaten Gowa, yakni sebanyak 46.983. Disusul Kabupaten Bone di peringkat kedua sebanyak 32.738, Jeneponto (30.509), Maros (25.73) dan Bulukumba (21.434).

Penyandang buta aksara ini berada pada kelompok usia 15-59 tahun. Tingginya angka penyandang buta aksara tersebut ternyata tidak dibarengi dukungan anggaran yang memadai dalam penuntasannya. Setidaknya ada tiga sumber dana program pemberantasan aksara di Sulse, yakni APBN, APBD I dan APBD II.

Tahun 2015, hanya empat daerah yang mendapat kucuran bantuan APBN untuk penuntasan buta aksara. Dana sebesar ini hanya untuk menyasar 6.095 orang. Dengan rincian, Bantaeng untuk alokasi 1.525 orang, Jeneponto 1.550 orang, Takalar 1.020 orang, Toraja Utara sebanyak 2.000 orang. Kemudian bantuan yang bersumber dari APBD I, seluruh daerah di Sulsel mendapat alokasi bantuan dengan total alokasi 10.000 orang. Sementara bantuan yang bersumber APBD II, Dinas Pendidikan Provinis mencatat, ada 10 daerah yang tidak mengalokasikan dana untuk pemberantasan buta aksara tersebut, termasuk salah satunya adalah Bone.

Nah, jika program pemberantasan buta aksara tersebut berjalan efektif, maka angka buta aksara di Bone berkurang 10.000, artinya angka penyandang buta aksara tersisa 36.983 orang. Penurunan ini belum bisa menekan secara signifikan angka penyandang buta huruf yang ada.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top