BP4K Tak Ikut Campur – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

BP4K Tak Ikut Campur

Sejumlah petani di sekitar Stadion Lapatau ketika memanen padi beberapa waktu lalu. Sayangnya hasil panen tak menggem-birakan.

WATAMPONE, RB—Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Bone menyatakan tak terlibat dalam pelaksanaan tudang sipulung yang membebani gapoktan biaya kepesertaan Rp500 ribu per orang.
Kepala BP4K Kabupaten Bone, Ir Arsal Achmad mengatakan pelaksanaan kegiatan tudang sipulung dimaksud di luar kewenangannya. “Kami hanya diundang menjadi naras sumber pada kegiatan tersebut, tapi bukan kami sebagai pelaksana. Yang punya kegiatan adalah adalah LSM. Kami tidak bisa mencampuri urusan itu, karena di luar ranah kami,” jelasnya kepada RADAR BONE, Kamis 12 Mei kemarin.
Jadi terkait pembayaran, lanjut Arsal pihaknya sama sekali tidak ikut campur. “Kalaupun masalah pembayarannya saya tidak tahu apa-apa, karena bukan kami pelaksana,” katanya.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Bone, H Saipullah Latief menya-yangkan sikap pelaksana kegiatan yang membebankan pembayaran yang justru memberatkan petani.
“Kenapa mesti ditetapkan besaran pembayaran yang harus dikeluarkan petani,” ungkap Saipul-lah saat menghubungi RADAR BONE, Kamis 12 Mei kemarin.
Sejatinya tudang sipulung kata dia digelar, untuk meningkatkan pengetahuan petani soal bercocok tanam. “Dan petani yang harusnya diberikan honor. Bukan justru petani yang membayar. Ini kan aneh,” tegasnya. Meski dana yang dibayarkan tegas Saipullah bersumber dari Dana PUAP, namun itu tidak dibenarkan. “Bagaimana mau tercapai target swasembada pangan, kalau membekali ilmu pengetahuan bagi petani, mereka harus bayar,” kritiknya.
Sebelumnya sejumlah gapoktan mengakui baru kali ini meng-ikuti kegiatan tudang sipulung dimintai biaya sebagai peserta.
Ketua Gapoktan Lapatong Kelurahan Bukaka, M Nawawi kepada RADAR BONE Selasa 10 Mei lalu mengatakan pihaknya mendapat undangan untuk meng-ikuti kegiatan tudang sipulung. Hanya saja, karena dana yang dimiliki terbatas, sehingga hanya dirinya yang mendaftarkan diri.
“Hanya saya yang ikut dari Gapoktan Lapatong, mengingat dana tidak cukup, karena harus dibayar. Makanya satu orang saja yang mengikuti. Barusan ada ke-giatan seperti ini ada pembayaran, karena kita akan dibagikan juga baju, topi dan piagam dan ini termasuk juga uang konsumsi,” tutur Nawawi seraya menegaskan, bahwa kegiatan tersebut diwajibkan untuk ikut menjadi peserta.
Nawawi menambahkan, baru kali ini dirinya akan mengikuti kegiatan tudang sipulung yang membebani gapoktan pembayaran sejumlah uang.
“Kalau seperti biasanya, jika ada pertemuan di Makassar atau di Batang Kaluku (Gowa), tidak ada yang dibayar. Bahkan kita sebagai peserta yang dibayar, saya sering mengikuti pertemuan, baru kali ini dibayar,” bebernya.
Nawawi mengungkapkan untuk menutupi biaya sebagai peserta, dirinya menggunakan bunga dari pinjaman bergulir yang bersumber dari Dana PUAP.
“Karena di gapoktan kami telah menerima bantuan bergulir sebesar Rp100 juta pada 2012, maka dana itu digunakan untuk membantu petani mengenai sarana produksi. Maka dana itu dimanfaatkan petani sesuai dengan kebutuhannya, ada yang meminjam sebesar Rp10 juta pero rang ada pula di atasnya, tergantung saja dari kebutuhannya. Dana ini bergulir terus dari delapan kelompok tani yang ada di gapoktan Lapatong,” katanya.
Lanjut dia mengungkapkan petani yang meminjam dana tidak boleh dikenakan bunga di atas bunga bank. Selain itu, dana pinjaman harus dikembalikan ke gapoktan, karena banyak kelompok tani lain yang membutuhkan. “Makanya harus bergulir terus” tuturnya.
Hal senada diungkapkan anggota Gapoktan Biru Sejati, Aidiwijaya Annur menyayangkan adanya pembayaran pada acara tudang sipulung yang dilaksanakan pihak ketiga tersebut.
“Sebaiknya tidak perlu ada pembyaran, supaya semua kelompok tani bisa mengikuti sosiali-sasi tersebut. Apalagi ini lembaga swadaya masyarakat yang me-laksanakan, jadi sebaiknya membantu masyarakat, tidak perlu lagi ada pembayaran sebesar Rp500 ribu perorang, tutur Aidiwijaya.
Karenanya dia belum bisa memastikan pihaknya ikut dalam kegiatan tersebut. “Makanya kami akan koordinasi bersama dengan ketua gapoktan dengan anggota lainya. Karena harus ada yang dibayar, seandainya tidak ada yang dibayar, maka tidak perlu lagi ada koordinasi. Karena pasti kelompok tani akan mengikuti semua kegiatan itu,” kunci dia.
lbaharuddin-askar syam/usmansommen

Most Popular

To Top