Cerita Dibalik ‘Bubung Ittello’ di Kelurahan Manurungnge – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Cerita Dibalik ‘Bubung Ittello’ di Kelurahan Manurungnge

Sumur Tua 'Bubung Ittello' kini menjadi tempat mengambil air wudhu bagi jamaah Masjid Nurul Falah di Lingkungan Lassonrong, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang. Bubung Ittello kini sudah dikelilingi tembok.

Warga Buang Telur ke Sumur untuk Hindari Serangan Ular

PENULIS : BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Sepintas ‘Bubung Ittello’ hanya sebuah sumur biasa. Tak ada hal yang mencolok, membedakan dengan sumur pada umumnya. Apalagi letaknya di depan masjid dan dijadikan sebagai sumber air wudhu jamaah masjid. Bubung Ittello atau sumur telur letaknya di tengah kota, tepatnya di depan Masjid Nurul Falah di Jl Andalas, Lingkungan Lassonrong, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang.

Sumur tua ini jika diamati cukup dangkal, namun siapa sangka airnya tidak pernah habis, meski di musim kemarau airnya tetap ada. Konon, Bubung Ittello menjadi sumur tumpuan di zaman kerajaan Bone di masa lampau. Disebut Bubung Ittello, karena sejak tahun 1611 Masehi, daerah kota (Watampone) masih dalam keadaan hutan. Makanya sebelum mandi di Bubung Ittello, warga kala itu membuang telur terlebih dahulu ke dalam sumur. Jika telur sudah dibuang, dan tidak ada yang bergerak di dalam sumur, berarti tidak hewan liar di dalamnya, khususnya ular. Kesempatan itu pun digunakan masyarakat untuk mandi sesegera mungkin. Namun sebaliknya, jika telur itu dibuang lalu ada yang memakannya, maka masyarakat pun tidak jadi mandi, karena takut dengan ular. Berdasarkan kebiasaan masyarakat itulah sehingga sumur itu disebut dengan Bubung Ittello.

“Bukan karena syirik sehingga masyarakat buang telur, tapi itu salah satu tanda untuk mengetahui ada ular atau tidak di dalam sumur,” cerita DR HAM Yushand Tenritappu MFA, Wasekjen Cendikiawan Keraton Nusantara Pusat kepada penulis, Rabu 7 Februari lalu.

Selain itu, Bubung Ittello, sambung Yushand juga menjadi tempat mangkau memandikan bayi, disamping tempat berwudhu sebelum sembahyang di Langgar (Langkara) yang kini dikenal dengan Masjid Nurul Falah.

“Masjid itu salah satu tempat ibadah dahulu setelah Masjid Al-Mujahidin, karena masjid itu adalah termasuk masjid pembantu, sehingga masyarakat yang tidak bisa ke Masjid Laungnge (Masjid Tua Al Mujahidin) mereka hanya sembahyang di Masjid Nurul Falah,” papar Yushand. Air Bubung Ittello setiap tahun diambil untuk mensucikan benda pusaka kerajaan Bone setiap Hari Jadi Bone.

“Sumur tersebut selain digunakan mencuci dan mandi sampai sekarang masih digunakan pada Hari Jadi Bone untuk digunakan membersihkan benda pusaka.
Sebelum ditompang benda pusaka harus dilangiri dengan air Bubung Ittello digabung dengan air sumur lainnya,” ungkap Yushand.

 

(*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top