Cerita Dibalik Keindahan Panorama Salo Merungnge (1) – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Cerita Dibalik Keindahan Panorama Salo Merungnge (1)

Jembatan Salo Merungnge merupakan jalur penghubung antara Desa Ureng dan Desa Pasempe Kecamatan Palakka. Di bawah jembatan ini terdapat gua yang dikeramatkan warga. Tak boleh takabur saat melintas di atas jembatan.

Tak Boleh Takabur Jika Melintas di Jembatan

Salo Merungnge menyimpan keindahan alam yang menakjubkan. Namun dibalik keindahan panorama yang dimiliki, Salo Merungnge menyimpan cerita misteri yang dipercaya warga setempat hingga kini.

Ardi Bin Waris, Palakka

Salo Merungnge berada di Dusun Lawere, Desa Ureng, Kecamatan Palakka. Salo Merungnge berjarak sekira dua kilometer dari jalur poros dari Poros Bone-Makassar. Tempat ini sempat ramai dikunjungi warga hingga akhirnya ditutup pemerintah pasca petaka air bah yang menewaskan dua warga, pekan lalu.

Salo Merungnge adalah nama sungai yang memisahkan dua desa di Kecamatan Palakka, yakni Desa Ureng dan Desa Pasempe. Menurut warga setempat, terdapat dua gua yang terletak di dua sungai berbeda, yakni Salo Merungge dan Salo Lacang Pawie. “Sebenarnya dua gua itu terletak di sungai berbeda, tapi karena sudah terlanjur terkenal nama Salo Merungnge, makanya yang dikenal masyarakat cuma gua di Salo Merungnge. Padahal gua yang satu terletak di Salo Lacang Pawie,”ceria Bayu, seorang warga setempat.

Jika berada di bawah, kata Bayu gua Salo Marungnge akan terlihat keindahan bebatuan yang berbentuk terowongan. Namun sesungguhnya, lanjut Bayu gua tersebut adalah sebuah jembatan penghubung antara Desa Ureng dan Pasempe. Makanya, kata Bayu jika berdiri di atas jembatan akan terdengar suara air bergemuruh di bawa jembatan. Dari atas jembatan air sungai tidak terlihat, lantaran tertutup pepohonan.

“Hal inilah yang membuat sungai ini diberikan nama Salo Merungnge, karena hanya dengar suara gemuruh, sedangan airnya tidak terlihat,”cerita Bayu. Salo dalam bahasa bugis berarti sungai, sedangkan Merungnge berarti berbunyi atau mengeluarkan bunyi.

Konon dari cerita orang terdahulu, sambung Bayu, jembatan Salo Merungnge saat disakralkan. Jika ada orang baru yang melintas gua (Jembatan) tersebut, harus ‘Mappetabe'” (Minta permisi) agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Jika ada orang yang lewat di jembatan itu, diingatkan agar Mappatabe. Begitu juga bagi orang baru datang di kampung,” tutur Bayu.

Kawasan jembatan Salo Merungnge dulu menjadi tempathabitat monyet-monyet liar. Saat berjalan di sekitar sungai akan ditemui monyet-monyet liar bergelantungan. Keangkeran Salo Merungnge masih dipercaya sebagian warga hingga kini. Tokoh masyarakat setempat, Daeng Massengngeng mengingatkan, tak boleh bersikap takabur saat memasuki areal Salo Merungnge.

“Jika ada orang yang datang ke tempat tersebut kemudian takabur, maka biasa disembunyikan di gua dan tidak ada yang bisa temukan. Begitu pula jika memasuki waktu sekira pukul lima sore (Jelang magrib), biasa ada batu yang berguguran dari atas. Ini pertanda sudah waktunya tinggalkan Salo Merungnge,” tutur Hasnawati Ramli, Camat Palakka menirukan ucapan Daeng Massengngeng tersebut.

*

To Top