CJH Asal Bone Diamankan Gunakan Paspor Palsu Filipina – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

CJH Asal Bone Diamankan Gunakan Paspor Palsu Filipina

Keluarga menunjukkan foto CJH yang berangkat ke tanah suci menggunakan jalur Filipina

PENULIS : ROSDIANA SULA – ARDI – BAHARUDDIN

WATAMPONE, RB—177 Calon jemaah haji (CJH) asal Sulsel diamankan petugas Imigrasi  Filipina karena menggunakan paspol palsu negara setempat, ternyata sebagian berasal dari Bone. Tercatat ada 17 orang yang berhasil terlacak asal usulnya. Angka ini diperkirakan masih bisa bertambah. Mengingat, pemberangkatan CJH Indonesia melalui Filipina sudah tersosialisasi ke daerah ini melalui calo.

Pemberangkatan calon jemaah haji melalui ‘jalur cepat’ Filipina ternyata sudah dikenal sejak lama warga di Bone. Hanya saja, informasinya masih terbatas.  “Pernah juga ada keluarga di Awangpone yang mau mendaftar haji lewat Filipina. Tapi saat itu, saya sarankan jangan ikut, karena tidak melalui jalur pemerintah. Dan ternyata sekarang sudah terbongkar,” tutur H Ismail, salah seorang warga.

Hal senada diakui salah seorang pengelola Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). H Zaenal. Dia mengatakan sebagian warga memilih berhaji via Filipina karena peluang berangkat sangat terbuka. Pasalnya, kata Zaenal kuota haji negara itu mencapai 8.000 orang per tahun.

Sedangkan calon jemaah haji yang diberangkatkan cuma berkisar 6.000 lebih. Karenanya banyak yang calo yang memanfaatkan peluang itu. “Olehnya itu terkadang ada warga Indonesia berangkat cepa. Tapi kalau di Bone ini tidak ada pusat pendaftarannya. Yang ada cuma pengurus yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya calo saja,” beber Zainal.

Ketua Pengurus Masjid Almarkaz Al Ma’arif ini mengaku pernah ditawari kerjasama calo JCH via Filipina, namun tidak ditanggapi.
“Bahkan ada yang pernah mau kerjasama dengan kami, tapi kami tidak tanggapi. Karena kami di sini kerjasama dengan Kementerian Agama. Sehingga semua harus melalui prosedur,” jelasnya.

Zainal menegaskan, kalaupun ada warga Bone yang ikut terja-ring dalam modus paspor palsu Filipina, itu tidak melalui biro perjalanan haji yang berpusat di Bone. Melainkan lewat tangan calo. Zainal mengaku pernah bertemu dengan CJH asal Bone di tanah suci yang berangkat melalui jalur Filipina. Namun demikian, dia mengingatkan CJH untuk berangkat melalui jalur resmi karena keamanannya terjamin.

Sementara itu, Camat Ajangale, A Iskandar membenarkan adanya lima warganya yang ikut tertangkap di Filipina, terkait kasus paspor palsu. Namun demikian, dia belum bisa membeberkan datanya karena masih dalam proses pendataan.
“Ya, memang benar ada warga saya yang tertangkap di Filipina, mereka diduga menggunakan paspor palsu warga negara Fili-pina. Belum bisa dipastikan beberapa orang. Yang sementara ini saya ketahui, ada empat orang Warga Timurung, satu orang warga Pompanua,” jelas Iskandar melalui sambungan telepon, Selasa 23 Agustus kemarin.
Iskandar menambahkan pendataan terus dilakukan bersama Polsek Ajangale untuk memastikan warga yang berangkat berhaji melalui jalur Filipina tersebut.

Dia pun sangat menyangkan adanya warga Ajangale yang ikut menggunakan paspor palsu Filipina. Karenanya, dia meminta para kepala desa untuk lebih proaktif mengawasi warganya yang akan berangkat haji, sehingga kasus serupa tidak berulang.
“Makanya kami meminta kepada kepala desa untuk lebih proaktif supaya tidak ada kejadian seperti ini berulang. Dan tentunya peran kepala desa sangat sentral dalam hal ini,” tutupnya.
Penelusuran yang dilakukan RADAR BONE menemukan beberapa CJH yang diduga menggunakan dokumen palsu tersebut. Keluarga mereka kini dilanda resah setelah melihat pembe-ritaan di media. Siti misalnya, warga Kelurahan Pompanua Kecamatan Ajangale ini hingga kini hanya bisa memanjatkan doa dan berpasrah karena belum mendapatkan kontak dari suaminya, Nurdin (56), salah seorang CJH yang diduga ditahan di Filipina.

“Suami saya berangkat bersama rombongan dari Sengkang menuju Makassar pada 16 Agustus lalu. Mereka sempat menginap semalam di Makassar,” tuturnya dengan raut muka sedih.
Lebih lanjut isteri pengusaha terkemuka di Pompanua itu membeberkan, suaminya berangkat haji menggunakan jasa layanan travel haji PT AA dengan membayar ongkos naik haji (ONH) sebesar Rp135 juta.
Perempuan berhijab itu menuturkan suaminya tertarik menggunakan travel tersebut karena mendapatkan informasi dari temannya yang sebelumnya berhasil ke Mekkah.

“Kami tidak menyangka akan seperti ini dan sampai sekarang saya belum dapat kabar dari suami saya,” ungkapnya dengan mata berkaca. Nasib serupa dialami Hj Muka, warga Desa Timurung Kecamatan Ajangale. Anak dan menantunya, Muh Yasir dan Tamsia diduga kuat masuk dalam rombongan CJH menggunakan jasa travel PT AA.
“Semoga saja mereka baik-baik saja di sana,” tutur nenek ini pasrah.

Seperti dilansir Fajaronline.com (Media Fajar Grup), 177 WNI asal Sulsel itu dicegah beberapa saat sebelum mereka menaiki pesawat Filipina Airlines (PAL) dengan nomor pe-nerbangan PR 8969 tujuan Madinah di Bandara Internasional Ninoy Aquino, Manila, Jumat, 19 Agustus lalu.
Kepala Imigrasi Filipina Jaime Morente menyebut, kedok ke-177 CJH tersebut terbongkar setelah mereka tak bisa berbahasa Fi-lipina. “Mereka berbaur dengan rombongan haji negara kami. Tapi tak satu pun dari mereka yang pakai bahasa Filipina atau Tagalog, bahasa Inggris pun dipandu,” jelas Morente.

*ASKAR SYAM

To Top