Dampak Tambang Galian C, Warga Desa Lea Dihantui Abrasi – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Dampak Tambang Galian C, Warga Desa Lea Dihantui Abrasi

PENULIS : ARDI – BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Warga Desa Lea, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulsel, resah. Pasalnya, air sungai sudah masuk ke permukiman warga menyusul abrasi yang terus meluas.

Aktivitas tambang galian C yang beroperasi di Sungai Lea Dusun Cekko Desa Lea Kecamatan Tellu Siattinge dikeluhkan warga setempat. Bagaimana tidak, akibat penambangan ilegal ini mengakibatkan terjadi pengikisan tanah atau abrasi di bibir sungai.

Warga yang tinggal di dekat sungai pun mulai khawatir, sewaktu-waktu rumah miliknya terancam ambruk imbas dari pergeseran tanah. Bahkan, saat ini ada yang rumah yang cuma berjarak sejengkal dari bibir sungai. Padahal awalnya rumah ini berjarak lebih meter dari bibir pantai. Abrasi ini terjadi karena aktivitas tambang galian C yang sudah berlangsung cukup lama.

“Warga sudah lama tidak senang adanya akivitas tambang itu karena sudah merusak lingkungan sekitar, apalagi tanah belakang rumah terkikis sedikit demi sedikit. Jadi banyak warga yang tinggal pinggiran sungai ketakutan dengan kondisi ini,” terang Herdin, salah seorang warga Desa Lea

Di wilayah Dusun Cekko Desa Lea, merupakan daerah yang paling rawan dari ancaman abrasi, di mana puluhan rumah penduduk berhadapan langsung dengan Sungai Lea.

“Pas sepanjang Sungai Lea terdapat pemukiman padat penduduk, jadi mereka yang paling menderita akibat abrasi ini ketimbang dusun lainnya,”cetusnya. Sebenarnya, kata dia warga sudah sering melakukan berbagai upaya agar aktivitas tambang dihentikan. Upaya yang dilakukan dengan mempertemukan seluruh pihak-pihak yang terkait mulai pemerintah desa, kecamatan, pihak kepolisian dan penambang. Namun, hingga kini belum ada solusi.
“Sudah beberapa kali dilaporkan kepada pemerintah, begitupun ke pemerintah pusat. Bahkan sudah sering rapat namun tetap saja tambang itu berjalan,” bebernya.

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Muhammad Yusri. Dia mengakui bukan saja ancaman abrasi yang ditakutkan, namun pihak pemilik tambang juga sama sekali tidak pernah memberikan sumbangsih untuk pembangunan jalan desa.

“Padahal truk material tambang itu melalui jalan poros desa sehingga mengakibatkan kerusakan jalan,” jelas Yusri.
Sesuai Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bone tahun 2012-2032 menetapkan hanya 12 kecamatan sebagai kawasan pertambangan komoditas batuan atau yang sebelumnya dikenal galian golongan C. Ke-12 kecamatan dimaksud, yakni Sibulue, Ponre, Kajuara, Kahu, Bontocani, Patimpeng, Libureng, Lamuru, Ajangale, Salomekko dan Kecamatan Lappa Riaja. Adapun jenis komoditas batuan yang ditambang di 12 kecamatan tersebut, meliputi andesit, tanah liat, kerikil dan kerikil berpasir (sirtu).

Aktivitas pertambangan di luar 12 kecamatan yang diatur dalam perda adalah tambang ilegal.
Sekretaris Dinas Perindustrian Kabupaten Bone, A Chandra Batara menegeskan jika ada yang menambang di luar 12 kecamatan tersebut adalah pelanggaran.

“Kalau ada yang melanggar berarti tugasnya aparat keamanan untuk menindaklanjuti. Kalau kami dari Dinas Perindustrian hanya sekadar menegur saja, karena sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, kewenangan itu sudah ditarik ke pemerintah provinsi. Makanya penerbitan surat izin diterbitkan pemerintah provinsi, kami hanya mengeluarkan saja rekomendasi dari tingkat kabupaten,” katanya kepada RADAR BONE, Senin, 5 Juni kemarin.

Kabid Minerba Dinas ESDM Provinsi Sulsel, Surahmad menambahkan aktivitas penambangan galian C hanya dibolehkan di 12 kecamatan yang masuk dalam Perda RTRW tersebut. “Jika ada yang beroperasi di luar kecamatan itu berarti pelanggaran dan tugasnya polisi untuk menindaki,” kunci dia.

 

Click to comment
To Top