Dana Fogging ‘Mengendap’ – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Dana Fogging ‘Mengendap’

Sekretaris Dinkes Bone, Anwar SH didampingi pejabat dinkes lainnya saat menyampaikan realisasi pengelolaan anggaran 2016 di hadapan Komisi DPRD Bone, Rabu 4 Agustus kemarin. Dinkes sempat dihujani pertanyaaan dari legislator karena realisasi anggaran yang minim dari pagu anggaran yang diterima.

DBD Mewabah, Realisasi Fogging Cuma Rp16 Juta

PENULIS : USMAN SOMMENG

WATAMPONE, RB—Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bone yang ‘berteriak’ kehabisan anggaran fogging (Penyemprotan sarang nyamuk) beberapa waktu lalu, bisa dibilang akal-akalan.
Buktinya, anggaran fogging yang dialokasikan dalam APBD 2016 nyaris tak tersentuh. Ini terungkap dalam rapat kerja Komisi IV DPRD Bone dengan Dinas Kesehatan, Kamis 4 Agustus kemarin. Anggota Komisi IV, H Abd Rahman mempertanyakan realisasi anggaran fogging dalam laporan Dinkes yang cuma sebesar Rp16 juta rupiah. Padahal, wabah demam berdarah di daerah ini beberapa waktu lalu sudah berstatus kejadian luar biasa (KLB).

“Ini anggaran fogging, reali-sasinya hanya Rp16.276.250 dari total anggaran di APBD Rp100 juta. Padahal, kita tahu beberapa waktu lalu kejadian luar biasa penyakit DBD. Tolong dijelaskan ini,” tanya Politisi PDI-P itu dalam kerja Komisi IV.
Hal senada disampaikan Sekretaris Komisi IV, Rismono Sarlim. Politisi muda Partai Hanura itu, bahkan mengungkap, Dinkes sempat ‘berteriak’ kehabisan anggaran fogging karena DPD mewabah. Tapi, kenyataannya kata Rismono dana yang dianggarkan di dalam APBD tak cairkan. “Beberapa bulan lalu, Dinkes berteriak kehabisan dana karena terjadi KLB DBD. Tapi kok, dana fogging di APBD tidak digunakan,” tambahnya.

Menanggapi cecaran perta-nyaan legislator tersebut, pihak Dinkes Bone melalui Kasi P2M Komaruddin menegaskan, bahwa pihaknya tidak menyentuh dana fogging di APBD karena mendapat bantuan dana dari pemerintah daerah sebesar Rp200 juta. “Bantuan dar pemda sebesar Rp200 juta itulah yang kita gunakan untuk penanganan KLB DBD beberapa waktu lalu,” bebernya.

Adapun dana yang dianggarkan di APBD Rp100 juta, lanjut Komaruddin dipersiapkan untuk menghadapi wabah DBD di bulan-bulan mendatang. Maklum, kata dia, DBD tidak hanya muncul pada musim hujan, tapi datang pada musim kemarau. “Dana yang di APBD ini sudah kami gunakan di 25 fokus. Kami sisakan untuk 75 fokus. Kami siapkan dana ini untuk mengantisipasi wabah DBD berikutnya,” papar Komaruddin disambut interupsi bertubi-tubi dari anggota Komisi IV.
Sekretaris Komisi IV, Rismono Sarlim menambahkan, sejatinya anggaran yang ada di APBD dulu digunakan. Karena bantuan dari pemerintah daerah turun setelah beberapa waktu lalu, pihak Dinkes berkoar kehabisan dana fogging. “Masa dikasi bantuan, sementara dana di APBD masih ada,” ujarnya.

Anggota Komisi IV lainnya, Abdul Rahman pun angkat bicara. Politisi PAN ini meminta pihak Dinkes terbuka dalam pengelolaan anggaran. “Masalahnya, kalau kita mau bahas soal anggaran ini bisa sampai malam tidak selesai. Makanya, kami minta terbuka dalam pengelolaannya,” tutur Rahman seraya meng-usulkan penambahan peralatan mesin fogging ditambah dalam pembahasan APBD nantinya. Apalagi, alat penyemprot sarang nyamuk tersebut sebagian besar sudah rusak.

*

To Top