Dana PUAP di Bone Mengendap Rp2,6 M – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Dana PUAP di Bone Mengendap Rp2,6 M

Pengurus Gapoktan yang bermasalah dana PUAP-nya dikumpulkan di aula Disran TPHP di Jl Sultan Hasanuddin, Kamis, 27 Juli kemarin. Mereka diperiksa Tim Kementan RI yang turun ke daerah ini untuk menelusuri dana PUAP yang mengendap.

Kementan Turunkan Tim Periksa Gapoktan

PENULIS : ROSDIANA SULJA

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kucuran dana bantuan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di daerah ini bermasalah. Kementerian Pertanian pun menurunkan tim melakukan pemeriksaan terhadap Gapoktan penerima dana bermasalah.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone menyalurkan dana bantuan PUAP sebesar Rp22,5 miliar. Bantuan ini disalurkan kepada 225 gabungan kelompok tani (Gapoktan) sejak 2008 hingga 2015. Setiap gapoktan menerima bantuan sebesar Rp100 juta.

Dana tersebut digulirkan kepada warga untuk pengembangan usaha agribisnis yang dikembalikan secara bertahap kepada pengelola. Sayangnya, dana ini sebagian mengendap di tangan penerima, bahkan ada warga penerima bantuan yang ditengarai fiktif.

Terbukti, dari hasil audit BPK RI, ternyata terdapat tunggakan macet program PUAP mencapai Rp2.607.162.000.
Temuan BPK ini, membuat Kementan menerjunkan tim beranggotakan lima orang untuk memeriksa gapoktan pengelola dana. Pemeriksaan gapoktan dipusatkan di kantor Distan TPHP Kabupaten Bone, Jl Sultan Hasanuddin, Kamis, 27 Juli kemarin.

“Kami ada lima orang tim dari Kementerian Pertanian RI untuk melakukan monitoring dan evaluasi dana PUAP selama dua hari,” kata Ika, salah satu anggota tim di sela pemeriksaan.

Hanya saja, anggota Tim Kementan ini enggan memberikan informasi lebih jauh terkait pemeriksaan yang dilakukan. Ia menolak diwawancarai lebih jauh dengan dalih sedang sibuk.

Namun berdasarkan data yang diperoleh RADAR BONE, terungkap dalam Daftar Rincian Tunggakan Macet Program PUAP di Kabupaten Bone mencapai Rp2.607.162.000.
Dana macet ini terdapat pada 57 gapoktan yang tersebar di beberapa kecamatan, diantaranya Gapoktan Lestari di Desa Pinceng Pute sebesar Rp20 juta, kemudian Gapoktan Tani Makmur Desa Welado sebesar Rp105.740.000 (Ajangale). Selanjutnya Gapoktan Matua Lemo sebesar Rp36.500.000 (Awangpone), Gapoktan Awangpasareng Desa Jaling Rp20.845.000, Gapoktan Taducung Desa Pacubbe sebesar Rp55 juta, Gapoktan Sipurennu Desa Pallae Rp95 juta. Disusul Gapoktan Mattiro Bulu Desa Laccori Rp50 juta, Gapoktan Mario Jaya Desa Mario sebesar Rp37 juta, Gapoktan Masseddi Adae Desa Melle sebesar Rp13,7 juta (Dua Boccoe). Di Kecamatan Lamuru ada Gapoktan Mula Menree Desa Barugae Rp80 juta. Hal serupa dialami Gapoktan Semangat Baru Desa Balieng Toa Kecamatan Sibulue, Gapoktan Abekkae Desa Sumaling sebesar Rp85 juta dan Gapoktan Masseddi Adae Desa Tellongeng Rp80 juta di Kecamatan Mare.

Gapoktan Taruna Tani I Desa Lili Riattang Kecamatan Lapri juga menunggak Rp90 juta, Gapoktan Sadar Pangan Kelurahan Bulu Tempe Kecamatan Tanete Riattang Barat sebesar Rp28.015.000 dan puluhan gapoktan lainnya.
Alasan macetnya dana PUAP tersebut disebutkan kurangnya kesadaran membayar bagi peminjam, gagal panen, pindah domisili hingga pengurus gapoktan yang mengundurkan diri.

Atas permasalahan tersebut, para pengurus gapoktan yang dananya macet diharuskan membuat pernyataan yang ditulis tangan dan diteken di atas kertas materai.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distan TPHP Kabupaten Bone, A Tenriawaru yang dikonfirmasi membenarkan adanya monitoring dan evaluasi terhadap gapoktan penerima dana PUAP.“Memang hari ini ada tim dari Kementerian Pertanian RI yang melakukan monitoring terhadap Gapoktan penerima dana PUAP sejak tahun 2008. Ini sifatnya pembinaan,” ujarnya.

Kepala Distan TPHP Bone, Ir H Sunardi Nurdin MSi yang berusaha dikonfirmasi tak berhasil ditemui di kantornya. Ponsel yang biasa digunakan saat dihubungi tidak aktif.

*

To Top