Disperindag Ancam Lapor ke Pertamina – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Disperindag Ancam Lapor ke Pertamina

Soal SPBU Mainkan Takaran

PENULIS  : BAHARUDDIN

WATAMPONE, RB—Setelah Komisi II DPRD Bone memberi peringatan keras kepada pengelola SPBU yang memainkan takaran. Giliran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) yang akan melapor ke Pertamina terkait aksi nakal pengelola SPBU tersebut. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bone melakukan inspeksi mendadak ke beberapa SPBU di daerah ini. Sidak ini dilakukan bersama dengan Komisi II, Rabu 5 Oktober lalu.

Hasilnya, ditemukan pengelola SPBU yang berlaku curang, yakni takaran BBM yang dijual ke konsumen melenceng 0,4 liter dari batas normal.  Kepala Bidang Usaha dan Perdagangan Disperindag Kabupaten Bone, Hj Mulyati Kadir memastikan pihaknya akan me-laporkan temuan tersebut ke Pertamina. “Ini tidak bisa dibiarkan. Jika sudah ditemukan sampai tiga kali melanggar, maka harus dilaporkan ke Pertamina untuk diberikan sanksi,” tegas Mulyati kepada RADAR BONE, Kamis 6 Oktober lalu.

Lanjut Mulyati, atas temuan itu, pihaknya juga akan mening-katkan pengawasan minimal sekali dalam dua bulan.
Menurut dia, baru kali ini pihaknya menemukan praktik curang tersebut. Karenanya, dia meminta pengelola SPBU untuk menghentikan tindakan yang merugikan konsumen tersebut. “Kita masih kasi pembinaan, karena baru satu kali ditemukan. Tapi sudah sampai tiga kali, maka pasti akan rekomendasikan ke Pertamina untuk diberikan sanksi,” jelas Mulyati.

Terkhusus permainan takaran BBM di SPBU tersebut, sesungguhnya bukan kali ini terjadi. Beberapa waktu lalu, dalam penelusuran RADAR BONE di enam SPBU di wilayah kota, menemukan fakta mengejutkan. Dari keenam SPBU tersebut tak satupun ditemukan takaran yang sama. Bahkan, antara SPBU yang satu dengan SPBU yang lain terdapat perbedaan takaran yang cukup mencolok. Temuan ini juga diperkuat dengan keluhan masyarakat terkait perbedaan takaran di enam SPBU tersebut.

Selain takaran yang dimainkan. Belakangan konsumen juga mengeluhkan dugaan permainan pembatasan pembelian BBM jenis premium. Konsumen seolah dipaksa membeli BBM jenis pertalite dan pertamax, karena pengelola SPBU berusaha menyembunyikan stok premium dengan alasan premium habis. Konsumen yang butuh BBM pun terpaksa membeli pertalite dan pertamax daripada harus mendorong kendaraan.

Fakta ini juga ditemukan Ketua Komisi II DPRD Bone, A Idris Alang saat mengisi BBM di SPBU. “Saya mengalami sendiri. Jam 16.00 sudah tidak bisa lagi mengisi bensin di SPBU Cabalu dan SPBU Jalan Biru,” ujarnya.
Padahal setelah dicek, stok premium lanjut dia, sangat mencukupi. “Alasannya pembelian bensin baru dibuka pada setelah Isya (Pukul 19.00 Wita). Saya curiga ini akal-akalan petugas SPBU karena ada pengendara yang saya tanya, alasan petugas katanya bensin habis,” tegasnya.

 

To Top