Ditahan KPK, ATT Minta Maaf Ke Warga Sulsel – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Ditahan KPK, ATT Minta Maaf Ke Warga Sulsel

Andi Taufan Tiro usai menjalani pemeriksaan di KPK atas kasus dugaan korupsi yang menjerat politisi PAN itu

JAKARTA, RB–Anggota Komisi V DPR RI Andi Taufan Tiro meminta maaf kepada konstituennya di Sulawesi Selatan atas penetapannya sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Andi Taufan ditahan KPK setelah menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa 6 September 2016.
“Ya minta maaf saja ya kepada konstituen saya di Sulawesi Selatan atas kejadian ini,” ujar Andi saat keluar dari Gedung KPK, Jakarta,  Selasa sore.

Dikutip dari JPNN (Jawa Pos Group), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menahan Anggota Komisi V DPR Andi Taufan Tiro.

ATT sapaan akrab calon bupati Bone pada Pilkada 2013 lalu, ditahan setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka penerima suap terkait penggiringan proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Andi keluar dari gedung KPK pada pukul 18.00 WIB. Dia keluar dengan mengenakan rompi tahanan berwarna oranye.

Saat digiring menuju mobil tahanan, Andi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat di daerah pemilihannya, Sulawesi Selatan.

Andi Taufan Tiro ditahan di Rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur. Penahanan dilakukan untuk 20 hari pertama.
Penahanan dilakukan untuk kepentingan penyidikan,” kata Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha saat dikonfirmasi.

Andi Taufan Tiro merupakan tersangka penerima suap dari Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama (WTU) Abdul Khoir. Sebelum Andi Taufan, KPK telah menetapkan enam tersangka terlebih dahulu.

Mereka adalah Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama, Abdul Khoir sebagai pihak pemberi. Sementara dari pihak penerima adalah Anggota Komisi V DPR Damayanti Wisnu Putranti (PDI-P), Budi Supriyanto (Golkar), dan Kepala BPJN IX Maluku Amran HI Mustary.

Selain itu, KPK juga menetapkan dua ibu rumah tangga yang disebut-sebut orang kepercayaan Damayanti, Dessi A Edwin dan Julia Prasetyarini sebagai tersangka perantara suap.

Suap diberikan agar Andi Taufan dan anggota komisi V DPR menyalurkan dana aspirasi ke dalam proyek pembangunan jalan di Maluku yang anggarannya dicairkan melalui Kemen-PUPR. Serta, mengupayakan PT Windhu Tunggal Utama sebagai pelaksana proyek tersebut.
(*)

To Top