Dituding Pungli, Ini Pembelaan Kepala SMAN 6 Bone – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Dituding Pungli, Ini Pembelaan Kepala SMAN 6 Bone

Ilustrasi

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kepala SMAN 1 Kahu (SMAN Negeri 6 Bone), Drs Muhammad Yusuf, MSi memberikan klarifikasi terkait rencana kenaikan pungutan komite di sekolahnya.
Menurut Yusuf, pada rapat komite yang digelar, Minggu, 10 September lalu tidak membahas mengenai kenaikan iuran komite dari Rp25 ribu menjadi Rp35 ribu siswa, termasuk juga mengenai pemberian insentif kepada kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.

Pada rapat itu, kata Yusuf diikuti orang tau dan wali siswa berkisar 700-800 orang. Namun dalam rapat tidak membahas soal kenaikan iuran komite, melainkan hanya membahas pertanggungjawaban dana komite tahun 2016-2017.

“Tidak pernah kita bicarakan soal kenaikan iuran komite itu. Kepala sekolah tidak pernah meminta itu. Berulangkali saya sampaikan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah jangan diberikan insentif,” ungkap Muh Yusuf saat bertandang ke RADAR BONE didampingi Ketua Komite SMAN I Kahu, A Amir Abbas, Senin, 18 September kemarin.

Yusuf menegaskan sebagai orang yang sudah cukup lama menjabat kepala sekolah, tidak ingin merusak reputasinya dengan persoalan dana komite. “12 tahun saya kepala sekolah. Tidak pernah saya sentuh dana komite,” tegasnya.

Namun demikian, Yusuf tak menampik memang ada keinginan untuk memberikan insentif kepada wali kelas sebesar Rp75 ribu sesuai insentif yang pernah diterima melalui program dana pendidikan gratis (DPG). Keinginan untuk memberikan insentif bagi wali kelas tersebut sempat diperbincangkan dengan komite setelah rapat bubar.

“Waktu pulang semua orang, saya bersama komite bincang-bincang di situ. Makanya saya heran kenapa bisa muncul nominal kenaikan iuran komite seperti itu. Padahal tidak pernah dibahas.

Wali kelas memang kita rencana mintakan. Besarnya Rp75 ribu, itu pendidikan gratis yang kita pedomani, tapi itu tergantung keputusan orangtua nanti. Sesuai keikhlasan orangtua. Formatnya kita buat seperti ini,” beber Yusuf seraya memperlihatkan format surat yang akan ditujukan kepada orangtua siswa.

Dalam format surat pernyataan yang diperlihatkan Yusuf tidak mencantumkan nominal nilai sumbangan. Peruntukan dana komite tertulis ditujukan kepada tiga item penerima, yakni point a untuk tenaga honorer guru dan pegawai, tunjangan kepala. Point b untuk pembangunan gedung perpustakaan dan point c untuk tunjangan wakil kepala sekolah dan wali kelas. Hanya saja, pada point c ini dicoret menggunakan tinta berwarna hitam. Kemudian ditambah point d, dengan tulisan pulpen, yakni anggaran insidentil.

Demikian pula pada daftar nama penerima insentif fungsional yang diperlihatkan Yusuf, juga sudah dicoret pada kolom penerima kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.

Diakui Yusuf, jumlah di sekolahnya sebanyak 34 orang. Kemudian tenaga honorer berjumlah 28 orang. Dengan perincian guru 22 orang, satpam 1 orang, tenaga administrasi 3 orang dan perpustakaan 1 orang. “Itu gajinya Rp600 ribu perbulan,” paparnya.

Ketua Komite SMAN 1 Kahu, A Amir Abbas menambahkan pihaknya belum pernah membuat keputusan mengenai kenaikan iuran komite. “Saya belum laksanakan, kenapa muncul rencana kenaikan iuran komite seperti itu.
Kami hanya rapat mengenai pertanggungjawaban dana komite 2016-2017. Bukan membahas kenaikan iuran,” jelas Amir.

Amir mengakui pihaknya belum membahas soal rencana insentif wali kelas, karena masih menunggu keputusan dari Pemprov Sulsel.

“Belum pernah rapat di komite soal kenaikan iuran. Yang kita tunggu SK provinsi soal masalah guru honor dari dana bos. Tapi sudah muncul kenaikan iuran komite. Itu kita herena,” ungkap Amir.

Diberitakan sebelumnya, orang tua siswa mengeluhkan rencana kenaikan iuran komite dari Rp25 ribu menjadi Rp35 ribu.

Dari daftar penerima tunjangan fungsional yang diterima RADAR BONE, tertulis kepala sekolah akan menerima insentif sebesar Rp225 ribu per bulan dan wakil kepala sekolah Rp125 ribu. Adapun insentif untuk guru honorer hanya Rp75 ribu. Total insentif fungsional per bulan dari uang komite ketika disetujui, mencapai Rp3.750.000 atau Rp45 juta per tahun.

Tak hanya iuran komite, orang tua siswa juga dibebani biaya pembangunan perpustakaan yang nilai total anggarannya mencapai Rp103 juta lebih.

Pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel mengecam rencana kenaikan iuran komite di SMAN 1 Kahu (SMAN 6 Bone).
Kepala Unit Pelaksana Teknis Wilayah Bone Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Drs Andi Syamsu Alam, MPd mengatakan meski hal itu belum diberlakukan, dirinya meminta kepada Kepala SMAN 1 Kahu untuk membatalkan rencana tersebut, sekaligus menghentikan penarikan pungutan kepada siswa yang berkedok komite. “Saya sudah minta kepada Kepala SMAN 1 Kahu agar menghentikan program tersebut. Karena mengingat pungutan terhadap orang tua siswa adalah bentuk pelanggaran sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016,” bebernya.

Mantan Kepala SMAN 1 Tellu Siattinge ini memaparkan penekanan larangan pungutan sesuai dengan Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016.

Di dalam Permendikbud dimaksud, kata Syamsu sangat jelas disebutkan pungutan adalah penarikan uang oleh sekolah kepada peserta didik, orangtua/walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan.

Berbeda dengan sumbangan, menurut Syamsu sumbangan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh peserta didik, orangtua/walinya baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela dan tidak mengikat satuan pendidikan. “Jika mengaju pada regulasi itu, maka tidak ada lagi alasan bagi sekolah untuk melakukan pungutan terhadap peserta didik, orangtua atau walinya,” tegasnya.

 

*

Click to comment
To Top