Dituntut 12 Tahun Penjara, Muhlis Divonis Empat Tahun – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Dituntut 12 Tahun Penjara, Muhlis Divonis Empat Tahun

Muhlis, terdakwa kasus pembunuhan calon bidan, Harmawati saat menjalani sidang pembacaan putusan majelis hakim di PN Watampone, Senin, 17 April kemarin.,

PENULIS : RISNAWATI

RADARBONE.CO.ID-WATAMPONE–Setelah sempat tertunda, sidang yang mengagendakan pembacaan vonis terhadap Muhlis, terdakwa kasus pembunuhan calon bidan cantik, Harmawati alias Arma (23), akhirnya digelar di Pengadilan Negeri Watampone, Senin, 17 April kemarin.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Panji Prahistoriawan Prasetyo, SH ini memutuskan bahwa terdakwa Muhlis divonis empat tahun penjara.  Hukuman empat tahun penjara tersebut jauh lebih ringan dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang sebelumnya mengajukan tuntutan 12 tahun penjara. Atas putusan tersebut, pihak JPU pun sedang mempertimbangkan untuk melakukan banding.

“Perspektif atau versi penuntut umum, dari fakta yang kita lihat di persidangan itu, matinya korban dikehendaki, artinya ada perbuatan-perbuatan yang mengarah untuk dikehendaki karena dengan mencekik, itukan alat vital, bisa menyebabkan kematian dan orang awam pun tahu apa lagi kalau dia memang sudah pernah mengikuti pelatihan standar kepolisian tentu paham, bahwa orang tercekik terhambat saluran pernafasan bisa mengakibatkan kematian.
Kalau dia toh tetap lakukan, inilah yang saya bilang bahwa matinya itu bisa dikehendaki,” kata Adnan. Tapi oleh majelis hakim, kata Adnan ternyata mempertimbangkan bahwa kematian itu tidak dikehendaki.

“Perbuatan terdakwa pada saat itu menurut pertimbangan hakim sama-sama kita dengar, hanya mau menimbulkan luka, namun pada akhirnya menyebabkan kematian,” tutur Adnan Hamzah. Lanjut Adnan juga terdapat perbedaan penerapan pasal.

Sebelumnya, kata Adnan pihaknya menuntut 12 tahun penjara dengan asumsi, bahwa terdakwa memenuhi atau melanggar pasal 338 tentang pembunuhan. “Hakim dalam putusannya, dalam pertimbangannya menyatakan yang terbukti adalah pasal 351 ayat 3, itu penganiayaan yang mengakibatkan mati.

Sama-sama mengakibatkan mati tetapi apakah kematian itu dihendaki atau tidak itu berbeda. Pasal 338 kematiannya dikehendaki, pasal 351 itu bukan dikehendaki, dia hanya menyebabkan penderitaan tetapi akhirnya menyebabkan orang meninggal dunia.

Jadi ada perbedaan penetapan itu. Salah satu itu yang nanti akan kita pertimbangkan,” kata Adnan. Adnan menambahkan pihaknya akan mempertimbangkan apakah nanti melakukan banding atas putusan majelis hakim tersebut atau sebaliknya.

“Tapi putusan ini belum inkra, tentu kalau salah satu pihak mengajukan upaya hukum, putusan ini belum inkra, belum berkekuatan hukum tetap,” kunci dia.

Sementara pihak keluarga Muhlis pasrah menerima keputusan majelis hakim tersebut. “Saya hanya bisa pasrah, dan serahkan semuanya pada hukum,” ujar orangtua Muhlis sambil menangis.

Diketahui, pada Senin,15 Agustus 2016, warga Desa Lappa Bosse Kecamatan Kajuara digegerkan dengan penemuan gadis cantik yang belakangan diketahui bernama Harmawati alias Arma.

Kegegeran warga makin bertambah takkala mengetahui pembunuh gadis tersebut adalah seorang oknum polisi yang merupakan warga Lappa Bosse bernama Bripda Muhlis yang bertugas di Mapolda Sulsel.
Muhlis tega menghabisi pacarnya karena cemburu.

Click to comment
To Top