Dua Tahun Kasus HIV/AIDS Telan Korban Sembilan Penderita – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Dua Tahun Kasus HIV/AIDS Telan Korban Sembilan Penderita

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Ketertutupan penderita HIV positif menyebabkan, kasus ini terus meminta korban. Sejumlah penderita nyawanya tak tertolong karena terlambat berobat sehingga virus HIV meningkat menjadi AIDS.

Di Kabupaten Bone, penderita HIV positif sudah ditemukan. Tahun ini saja, sudah 17 penderita ditemukan. Dinas Kesehatan mencatat ini terdiri dari 10 penderita pria dan tujuh penderita dari kalangan perempuan. Penderita sebanyak 17 orang tersebut merupakan data Januari-September 2018. Angka ini jauh menurun dibanding tahun 2017 yang berjumlah 28 orang.

Meski begitu, korban yang ditimbulkan meningkat tahun ini. Diketahui, pada 2017, ada empat penderita HIV positif berubah menjadi penderita AIDS dan keempatnya meninggal dunia. Sedangkan tahun ini, korban meninggal akibat HIV/AIDS bertambah menjadi lima orang.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, dr Yusuf mengatakan peningkatan korban kasus HIV/AIDS ini disebabkan ketertutupan masyarakat terhadap penyakit ini. HIV/AIDS dianggap sebagai aib, sehingga penderita dan keluarga enggan melaporkan diri. Akibatnya, penderita HIV positif kerap tak tertolong.

“Dari 17 penderita HIV tersebut, lima diantaranya tidak berhasil diselamatkan disebabkan sudah parah atau sudah dikategorikan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) sehingga tidak dapat lagi tertolong. Meskipun si penderita mendapatkan perawatan sebelum meninggal dunia. Namun tidak bisa lagi tertolong, disebabkan sudah parah,” kata Yusuf kepada RADAR BONE, Kamis, 25 Oktober kemarin.

Lanjut Yusuf, sesungguhnya jika penderita diketahui akan diberikan perawatan. Diagnosa penderita HIV bukan berarti seseorang memiliki AIDS atau mereka akan meninggal. Perawatan, kata Yusuf akan memperlambat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh, sehingga orang dengan HIV dapat tetap baik, hidup sehat dan memuaskan.

“Sebelumnya tidak diketahui penyakitnya, tapi setelah dideteksi ternyata penderita HIV/AIDS. Hal itu terjadi, karena biasanya penderita tidak ingindiketahui. Padahal kalau penyakit itu diketahui secepatnya bisa diberikan obat daya tahan tubuh, supaya bisa bertahan lama. Karena sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan, tapi jika penderita mengkonsumsi obat setiap hari, maka bisa bertahan. Apalagi obatnya digratiskan dan tidak pernah habis,” jelas Yusuf.

Menurut Yusuf, kasus HIV/AIDS ibarat gunung es, penderita bisa saja lebih banyak dibanding yang terdeteksi, karena keengganan penderita melaporkan diri.

Yusuf menambahkan penderita HIV/AIDS yang terdeteksi kebanyakan perantau.
Karenanya Yusuf meminta masyarakat atau penderita tak perlu malu untuk melaporkan diri agar bisa segera mendapatkan perawatan.

“Maka untuk mencegah penularan HIV harus menghindari kontak atau pertukaran cairan antar penderita HIV dengan yang sehat. Yang terpenting adalah bagaimana setiap orang mengetahui status HIV-nya. Lalu memastikan mereka semua berobat sesuai dengan standar,” kata Yusuf seraya mengungkapkan HIV menular dari cairan tubuh yang terinfeksi virus HIV seperti darah, cairan sperma dan vagina, cairan otak, serta air susu ibu.

Staf Pengelola Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular, Asma SKM menambahkan penderita HIV yang meninggal dunia itu adalah yang terlambat diketahui penyakitnya. Mereka sudah terlanjur masuk ke AIDS.
“Hanya saja penderita yang ditemukan itu nanti ketahuan setelah mereka diopname dan diambil sampel darahnya. Karena selama ini tidak ada penderita HIV yang mau melaporkan dirinya sebagai penderita HIV. Akhirnya lama kelamaan, penyakitnya sudah parah, baru masuk di rumah sakit, sehingga tidak bisa lagi tertolong kalau sudah parah.

Harusnya sebelum parah jika ada yang menderita penyakit HIV cepat melaporkan agar bisa diobati secepatnya. Karena pengobatan HIV tidak dipungut biaya alias gratis,” papar Asma.
Adapun penderita HIV/AIDS rata-rata berumur 25-49 tahun. Bahkan, pernah ada bocah tiga tahun yang dideteksi mengidap HIV, namun kabarnya pindah berobat ke daerah lain

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top