FGD Balai Arkeologi Sulawesi Selatan Kupas Situs-situs Megalitik di Bone – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

FGD Balai Arkeologi Sulawesi Selatan Kupas Situs-situs Megalitik di Bone

RADARBONE.CO.ID–Balai Arkeologi Sulawesi Selatan melakukan penelitiian situs-situs megalitik di Kabupaten Bone sejak 27 April yang lalu dan rencana penelitian tersebut akan berlangsung hingga 10 Juni 2018.

Dalam rangka sosialisasi hasil sementara yang telah dicapai dari kegiatan penelitian tersebut, Kamis31 Mei 2018 bertempat di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Bupati Bone, telah dilakukan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas hasil sementara dan menerima berbagai masukan dari peserta yang dihadiri oleh kalangan guru-guru SLTA di Kabupaten Bone, budayawan dan pemerhati budaya di Bone serta dari kalangan pemerintah kabupaten Bone.

Acara dipandu oleh Kepala Dinas Kebudayaan Bone, A Promal Pawi dan menghadirkan Narasumber Dr Hasanuddin dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dan pembahas oleh Dr Khadijak dari Fakultas Ilmu Budaya Unhas.

Berbagai hasil sementara yang dicapai dalam kegiatan penelitian tentang megalitik adalah
telah diidentifikasi beberapa benda-benda (termasuk lokasi) yang oleh masyarakat dianggap sebagai benda keramat.

Beberapa benda keramat ini pada dasarnya tersebar hampir di seluruh daerah Bone seperti di Desa Pongka Kecamatan Tellu Siattingnge, Cingkang Kecamatan Barebbo, Mampu dan Sailong, Kecamatan Dua Boccoe, Pinra Kecamatan Palakka dan Desa Labuaja Kecamatan Kahu.

Hasil survei menunjukkan sebaran budaya material kebudayaan megalitik cukup merata.
Pada umumnya lokasi temuan merupakan perkampungan tua yang tumbuh pada dekade sebelum Islam
Di Desa Pongka dan Labuaja mislanya, terdapat baruga yang berada di areal persawahan warga.

Baruga ini merupakan sebuah bangunan semi permanen yang atribut-atributnya berupa ukiran kepala buaya. Di desa Labuaja, sebagaimana nama desa ini, terdapat batu besar yang oleh masyarakat dianggap menyerupai buaya dan benda tersebut dinamakan labuaja (batu buaya).

Selain keberadaan labuaja, juga terdapat tujuh sumur yang oleh masyarakat dikategorikan sebagai sumur tua yang airnya dianggap memiliki kekuatan gaib. Di desa Cingkang, terdapat beberapa benda keramat (termasuk lokasi) penguburan. Pada salah satu kubur terdapat nisan batu yang berbentuk ayam.

Perkembangan masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan pada masa sebelum Islam, umumnya mereka terkonsentrasi pada sebuah lokasi tertentu. Lokasi-lokasi ini oleh masyarakat akrab disebut sebagai banua atau wanua.

Ke depan dibutuhkan analisis laboratorium C14 untuk mengetahui umur secara absolut dari perkembangan kebudayaan megalitik Bone.

Berbagai masukan juga dilontarkan oleh peserta FGD di antaranya oleh A Usman, seorang pemerhati budaya yang selama ini banyak bergelut di bidang kebudayaan Bone. Beberapa saran yang dilontarkan adalah perlu perluasan wilayah survei seperti di daerah Ulaweng yang juga banyak memiliki peninggalan megalitik seperti menhir, dolmen, dan pattunuang.

Dari kalangan guru juga dilontarkan perlunya data hasil penelitian nantunya dapat digunakan untuk menambah wawasan pengetahuan kebudayaan megalitik agar dapat dijadikan sebagai bahan ajar kepada siswa.

Di sisi lain Kepala Dinas Kebudayaan Bone, A Promal menegaskan, perlunya terjalin komunikasi dan sinergitas antara Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dan Dinas Kebudayaan Bone dalam revitalisasi situs-situs sejarah di Kabupaten Bone.

” Ke depan perlu dilakukan penelitian yang lebih luas untuk mempertegas identitas Bone sebagai daerah yang memiliki ribuan situs-situs sejarah dan budaya,” kunci mantan Kabag Humas Pemkab Bone itu.
*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top