Hukuman Harus Lebih Berat – Radar Bone

Radar Bone

Metropolis

Hukuman Harus Lebih Berat

Sebulan, Tiga oknum Aparat Tersandung Narkoba

WATAMPONE, RB—Peredaran narkoba di daerah ini semakin menggila. Narkoba tak hanya melibatkan masyarakat sipil, tapi oknum aparat negara ikut bermain. Mereka tak hanya sebatas mengkonsumsi, melainkan ikut memuluskan transaksi barang haram tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun RADAR BONE, dalam sebulan terakhir, tercatat sedikitnya tiga oknum aparat negara yang tertangkap karena terlibat narkoba. Oknum aparat tersebut adalah orang yang mengerti hukum, bahkan sejatinya ikut menegakkan hukum.

Namun iming-iming keuntungan yang menggiurkan dari bisnis barang terlarang tersebut membuat mereka mempertaruhkan jabatan yang disandang. Belum lepas dalam ingatan kita, seorang oknum polisi yang bertugas di Polsek Mare, Bripka SN tertangkap dalam penggerebekan yang dilakukan Satuan Narkoba Polres Bone di salah satu rumah di Lingkungan Pinra, Kelurahan Mattirowalie, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Jumat 9 September lalu sekira pukul 23.30 Wita.

Saaf itu, Bripka SN di-amankan bersama seorang wanita, berinisial ES. Selain mengamankan pelaku, polisi juga berhasil menyita sejumlah barang bukti berupa, satu pirex yang masih berisi sisa sabu, satu alat isap sabu, dan empat korek api.

Setelah oknum polisi berlalu, warga di bumi berjuluk Kota Beradat ini kembali digemparkan dengan penangkapan dua aparat negara lainnya yang cuma berselang sehari. Pertama, seorang oknum pegawai Lapas Klas IIa Watampone berinisial AM (31) diciduk polisi gara-gara diduga terlibat pesta sabu di BTN Amanda, Jl Sungai Limboto, Kelurahan TA, Kecamatan Tanete Riattang, Jumat 30 September lalu.

Kasat Narkoba Polres Bone, AKP Rudi SE yang dikonfirmasi RADAR BONE Jumat 30 September sekira pukul 15.15 Wita, me-ngatakan, penangkapan terhadap oknum petugas Lapas itu bermula saat pihaknya mendapat laporan dari warga terkait dengan aktivitas pesta sabu yang dilakukan AM bersama seorang rekannya berinisial AD.

“Yang bersangkutan sebenarnya tidak masuk target operasi. Hanya saja ada laporan dari warga terkait dengan adanya pesta (Pesta sabu) setelah dilakukan penggerebekan diamankanlah Andi Mansyur bersama dengan seorang rekannya bernama, Adi,” ungkap Rudi.
Sehari kemudian, giliran oknum anggota TNI berinisial AG (31) yang bertugas di Koramil Barebbo diamankan dalam penggerebekan tranasaksi narkoba, di Kelurahan Apala, Kecamatan Barebbo, Sabtu 1 Oktober lalu sekira pukul 20.00 Wita.

AG yang merupakan Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kelurahan Apala berpangkat Kopda itu diamankan bersama dengan seorang rekannya, RA (25) warga Jl Kawerang, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang. Keduanya diduga terlibat dalam transaksi penjualan narkoba. Di tangan RA ditemukan barang bukti berupa sabu sebanyak satu bal, dengan berat 50 gram.
Praktisi Sosial, Rahman Arif mengatakan oknum aparat negara yang terlibat pusaran hitam narkoba harus diberi sanksi lebih berat daripada masyarakat sipil, karena telah mencederai citra institusi.

“Perbuatan satu-dua oknum adalah kejahatan yang mencederai institusi sehingga harus ditindak lebih tegas,” jelas akademisi tersebut kepada RADAR BONE via seluler, Senin 3 Oktober kemarin.
Berkaca dari banyaknya kasus narkotika yang melibatkan oknum aparat negara, Rahman menyarankan agar seluruh pemimpin institusi, baik TNI, Polri, Direktorat Jenderal Lembaga Permasyarakatan, saling bersinergi memerangi mafia narkotika.

“Pada kesempatan ini, saya mengimbau agar seluruh unsur untuk saling bersinergi menghadapi sindikat narkotika yang sudah masuk ke seluruh unsur masyarakat, termasuk aparat,” pungkasnya.
Jika aparat ingin membersihkan Indonesia dari narkotika, maka institusinya lanjut dia, harus dibersihkan terlebih dahulu dari oknum yang terlibat narkoba.

*ASKAR SYAM

To Top