Ibu dan Anak Tewas Terpanggang di Libureng – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Ibu dan Anak Tewas Terpanggang di Libureng

Diduga Dianiaya Sebelum Dibakar

PENULIS : ROSDIANA SULJA

LIBURENG, RB—Warga Dusun Tea, Desa Mattiro Bulu, Kecamatan Libureng mendadak geger. Dua warga setempat yang merupakan ibu dan anak ditemukan tewas terpanggang. Jasad keduanya sudah berubah menjadi arang. Namun kebakaran ini duga sebagai upaya untuk menghilangkan jejak. Ibu dan anak tersebut diduga dianiaya sebelum tewas dilalap api.

Kebakaran maut tersebut terjadi di Dusun Tea, Desa Mattiro Bulu, Kecamatan Libureng, Jumat 21 Oktober kemarin sekira pukul 01.00 Wita. Selain melalap habis rumah beserta isinya, pemilik rumah Harnisa Binti Sukardi (35) dan anaknya Nur Sifiqah Binti Syahrul (4) tewas terpanggang.

Keduanya ditemukan sudah menjadi arang dengan posisi saling berdekatan.
Selain ada korban meninggal juga ada korban luka, yakni Nur Asqin Binti Syahrul (9) yang tak lain adalah anak dan kakak korban. Dia mengalami luka robek pada kepala bagian kiri belakang, luka di leher, tangan, bahu dan perut. Luka robek yang dialami menganga 1 cm sampai 2 cm.

Luka robek yang dialami Nur Asqin ini mengundang spekulasi warga setempat, jika korban Harnisa dan anaknya bukan semata-mata murni korban kebakaran. Diduga ada unsur penganiayaan sebelum kebakaran itu terjadi.
Informasi yang dihimpun RADAR BONE, menyebutkan terdapat banyak kejanggalan dalam peristiwa naas yang menelan dua korban jiwa itu.

Hal ini juga diperkuat oleh pengakuan Nur Asqin Binti Syahrul. Salah satu anak Harnisa yang lolos dari maut. Puteri sulung korban, Nur Asqin mengeluarkan pernyataan mengejutkan kepada warga setempat. Luka robek pada bagian belakang kepalanya diakui disebabkan sabetan benda tajam. “Saya diparangi karena berteriak melihat ibu saya diparangi duluan,” tutur bocah seraya menyebut nama seorang pria.

Usai diparangi, bocah ini sempat lari keluar rumah untuk meminta tolong. Ini sekaligus menyelamatkannya dirinya dari amukan kobaran si jago merah. Sementara ibu dan adiknya tak terselamatkan. Diduga keduanya sudah tewas dianiaya sebelum api melalap habis rumahnya. Kebakaran yang menghanguskan rumah Harnisa ditengarai sebagai upaya untuk menghilangkan jejak pelaku penganiayaan.

Apalagi rumah korban, diketahui tidak menggunakan jaringan listrik sehingga kemungkinan kebakaran akibat korsleting sangat kecil. Kapolsek Libureng AKP Makmur yang dikonfirmasi tak menampik adanya dugaan peng-aniayaan yang dialami korban sebelum tewas.

“Saya tadi terjun langsung ke lokasi dan memang kami dengar informasi itu. Saat ini kami te-ngah lakukan penyelidikan lebih lanjut,” paparnya kepada RADAR BONE melalui sambungan te-lepon, Jumat 21 Oktober kemarin.
Korban Harnisa memang dikenal berparas cantik dan putih mulus. Selama ini, dia cuma tinggal bertiga dengan dua orang puterinya di rumah. Maklum, suaminya, Syahrul pergi berlayar dan jarang pulang.

Letak rumahnya yang berjauhan dengan tetangga dan hanya terdapat empat rumah pada kawasan tempat tinggalnya, membuat warga di dusun itu sulit datang memberikan pertolongan seketika saat terjadi musibah, seperti kebakaran yang terjadi.

*ASKAR SYAM

To Top