Ini Kata Pengamat Kalau Pilkada Bone Lawan Kotak Kosong – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Ini Kata Pengamat Kalau Pilkada Bone Lawan Kotak Kosong

RADARBONBE.CO.ID_WATAMPONE–Pilkada Bone 2018 menunjukkan gelagat calon tunggal. Ini setelah nyaris seluruh parpol pemilik kursi di DPRD Bone merapat ke pasangan bakal calon petahana.

Pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Bone petahana, HA Fahsar Mahdin Padjalangi-H Ambo Dalle (Tafa’dal) kebanjiran dukungan parpol. Sejauh ini, Tafa’dal telah mendapat dukungan 20 kursi dari 11 parpol pemilik kursi di DPRD Bone. Diketahui, ada 45 kursi di DPRD Bone.

Tafa’dal telah mengantongi rekomendasi dari Golkar yang memiliki 15 kursi, PBB dan PPP masing-masing dua kursi dan PKB satu kursi (Rekomendasi berproses).
Dukungan Tafa’dal dipastikan bertambah empat kursi setelah Demokrat menyatakan segera bergabung ke gerbong Fahsar.

Di Partai Demokrat, Fahsar dan wakilnya, H Ambo Dalle telah mengikuti seluruh tahapan mulai pendaftaran, sampai tahap fit and proper test. Fahsar-Ambo Dalle, juga satu-satunya pasangan bakal calon yang mendaftar di Partai berlambang Mercy itu.

Tampaknya, pasangan Tafa’dal berusaha maju di pilkada Bone tanpa lawan (Calon tunggal).
Hampir seluruh parpol yang membuka pendaftaran disasar. Sebelum di Demokrat, Tafa’dal telah mengikuti tahap fit and proper test di Gerindra (5 kursi), PDIP (2 kursi) dan PAN (5 kursi). Mendaftar di Hanura (2 kursi) dan Nasdem (2 kursi) serta masuk tiga besar Pemilihan rakyat (Pemira) PKS (3 kursi) bersama A Asrul dan A Yuslim Patawari.
Hanya saja, meski Fahsar sudah di atas angin, bakal calon lainnya belum ikhlas mengangkat bendera putih. Bakal calon bupati, A Yuslim Patawari bahkan mengisyaratkan memberi kejutan.

“Tunggu, akan ada kejutan,” tegas Yuslim ketika dikonfirmasi RADAR BONE terkait gelagat Pilkada Bone 2018 akan berlangsung dengan calon tunggal

Diketahui, AYP merupakan salah satu figur yang gencar melakukan sosialisasi dan pergerakan untuk maju di Pilkada Bone 2018. AYP sudah mendaftar di beberapa partai dan juga melakukan lobi dengan petinggi partai.

Baru-baru ini, AYP bertemu dengan mantan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (IAS). IAS yang juga mantan calon Gubernur Sulsel 2013 terlihat berbincang dengan AYP dalam sebuah foto yang beredar.

“Terima kasih nasihatnya,” tulis AYP dalam status di media sosial sebagai keterangan dari foto yang diupload bersama IAS.

Saat ditanyakan kejutan apa yang bakal diperlihatkan di Pilkada Bone, akademisi yang juga Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Politani Pangkep ini enggan menjawab secara gamblang.

AYP hanya mengatakan Pilkada Bone akan sepaket dengan Pilgub Sulsel 2018. Tentunya, AYP akan berjalan berbarengan dengan salah satu pasangan calon di Pilgub Sulsel 2018.

Bakal calon lainnya, A Asrul juga menampik isu tidak jadi bertarung di Pilkada Bone. Melalui timnya, Agil menegaskan, parpol pengusung sudah siap. Hanya saja Agil enggan membocorkan parpol pengusung dimaksud.

“Jangan dulu, konstalasi politik masih tinggi,” ujarnya.

Kembali ke kotak kosong, keberadaan calon tunggal yang bisa menang telak melawan kotak kosong menjadi pelajaran buruk bagi perjalanan demokrasi. Demikian juga dengan proses sirkulasi elit di tingkat lokal yang sepertinya sedang mengalami krisis calon pemimpin.

Praktisi Politik, Rahman Arif menilai, keberadaan calon tunggal menjadi indikasi kegagalan parpol dalam kaderisasi di tingkat internal. Sedangkan masyarakat dalam konteks demokrasi di tingat lokal dipaksa untuk tidak memiliki alternatif pilihan di balik bilik suara.

“Ini bukan sesuatu yang bernilai positif bagi perkembangan demokrasi di tingkat lokal,” jelasnya.
Akademisi, Dharmawansyah melihat dari sisi berbeda.

Fenomena calon tunggal kata dia, mengindikasikan sedang terjadi kemunduran dalam demokrasi di tingkat lokal. Bone disebut dalam kondisi krisis pemimpin, dimana hanya mengandalkan sejumlah figur.

Padahal Bone lanjut dia, dikenal sebagai daerah yang telah melahirkan pemimpin skala nasional. Sebut saja kata Dharmawansyah, Wapres Jusuf Kalla dan HA Amran Sulaeman (Menteri Pertanian). Termasuk Amin Syam (Mantan Gubernur Sulsel) dan Ilham Arif Sirajuddin (Untuk skala provinsi)

“Seharusnya dalam perhelatan pilkada masyarakat disajikan alternatif pilihan calon yang beragam pula, bukan sebaliknya dibatasi dengan keberadaan calon tunggal semata tanpa ada altenatif pilihan oleh partai politik,” kritiknya.

Memang kata Dharmawansyah, secara logika ada pembenaran. Calon tunggal lanjut dia, bukan berarti calon yang tidak memiliki integritas, kapasitas dan kapabilitas kepemimpinan yang baik.

Hanya saja, yang terjadi di sini lebih banyak didasari ketidakpercayaan partai politik, bila berkompetisi dengan mengajukan calon sendiri akan menang.

Maka pertimbangan pragmatis yang lebih kuat dengan tidak mengajukan pasangan calon tapi berkoalisi secara bersama-sama mendukung satu pasangan calon melawan kotak kosong.

Sangat naif katanya, ketika alasan yang digunakan partai-partai politik hanya ada satu pasangan calon yang dianggap mempunyai integritas, kapasitas dan kapabilitas memimpin dan yang diinginkan rakyat di daerah.

Terpisah, Ketua KPU Bone, Aksi Hamzah menegaskan, persyaratan yang harus dipenuhi pasangan calon untuk menang melawan kotak kosong.

“Perolehan suara 50 persen plus satu (50%+1) sudah dinyatakan menang,” ujar Aksi kepada RADAR BONE di kantor KPU beberapa hari lalu.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top