Ini Makna Hari Ibu Bagi Dr Sarifa Suhra SAg MAg – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Ini Makna Hari Ibu Bagi Dr Sarifa Suhra SAg MAg

Aktif Di Kegiatan Dakwah, Namun Tak Lupa Tanggung Jawab Selaku Ibu Rumah Tangga

PENULIS : ADRY

RADARBONE.CO.ID–Hari Ibu, diperingati setiap 22 Desember 2018. Kali ini, radarbone.co.id, akan mengulas sosok ibu yang tak mampu membagi perannya sebagai ibu rumah tangga, meski diluar sana segudang aktivitas juga harus dia jalani.

Dia adalah Dr Sarifa Suhra SAg MAg.
Selain berprofesi sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone, Sarifa juga aktif di kegiatan dakwah. Bahkan menjadi salah satu penceramah top di Kabupaten Bone.

Sarifa Suhra, lahir di Wajo 43 tahun silam, tepatnya 31 Desember 1975.
Istri dari Andi As’ad ini merupakan sosok perempuan yang tangguh.

Ia tak sekalipun mengabaikan perannya mengurus tiga buah hatinya, ditengah jadwalnya yang padat sebagai dosen dan penceramah.

“Mengurus keluarga itu bagi saya adalah puncak pengabdian seorang ibu dan seorang istri pada suami serta pertanggungjawabannya langsung kepada Allah sebagai konsekuensi kodrat perempuan yakni 3 M (mengandung, melahirkan dan menyusui),” ujar Sarifa, mengawali pembicaraan dengan penulis.

Namun demikian tugas perempuan kata Sarifa, bukan hanya seputar 3 R (dapur, sumur dan kasur) yang merupakan wilayah domestik belaka, namun Perempuan harus mampu berkiprah juga di wilayah publik sesuai bakat dan skillnya.

“Karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama. Mengajar dan berceramah adalah hobby, mengajar (dosen) sebagai tugas negara dan berceramah, mengurus umat dan lain-lain, berbagai organisasi adalah tugas kemanusiaan dalam mencerahkan menuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat,” ujarnya.

Ketua Prodi PAI pascasarjana IAIN Bone itu juga berbagi kiat sukses, agar kewajiban sebagai ibu rumah tangga tetap berjalan meski disibukkan dengan aktivitas sebagai dosen.

Kiat yang dimaksud, meliputi dukungan penuh dari keluarga dan ikhlas menjalaninya sehingga tak pernah terbebani.

“Ceramah bagiku multiguna. Selain ajang silaturrahim juga sebagai refreshing sekaligus membangun kedekatan dg keluarga, sehingga seringkali semua keluarga ikut. Selain disiplin waktu saya berperinsip alwaktu kassayf in lam taqta’hu qataaka (waktu itu laksana pedang jika engkau tak memotongnya maka kamulah yg terpotong olehnya),” pungkas ketua umum forum kajian cinta alquran Kabupaten Bone itu.

Sarifa juga aktif diberbagai organisasi. Diantaranya, di organisasu Muslimat NU Bone, Ketua 1 Badan Kontak Majelis Taklim, pembina organisasi ekstra (PMII) dan pembina beberapa organisasi majelis taklim di Bone

“Saya bagi waktuku jadi tiga bagian, keluarga, kampus, dan masyarakat, berinteraksi dengan anak di pagi hari hingga mereka ke sekolah, siang menjemputnya di mesjid sambil duhur berjamaah dan antara magrib isya mengaji lanjut belajar, kampus waktunya 7.30 hingga 4 sore, masyarakat sudah ashar dan usai isya. Terkadang juga nasehat perkawinan sebelum duhur jika kebetulan tak ada jadual mengajar dan pelayanan diprodi tidak padat, saya sempatkan waktu jalan-jalan bersama keluarga,” ujarnya.

Sarifa juga menegaskan, suami sangat mendukung profesinya saat ini.
Ia juga menceritakan pengalaman sebelum dilamar sang suami.

“Sebelum saya menikah 16 tahun silam, saya adakan kontrak pramuka,” ujarnya seraya terseyum.

Isi kontrak yang dimaksud yakni hari ini berjumpa besok harus dilamar karena tak ingin berpacaran. Jika telah menikah tak tinggal di orangtua apalagi mertua minimal kontrak agar tahu konsekuensi kehidupan berkeluarga cepat mandiri tak merepotkan keluarga. Baginya, ada sama-sama dinikmati tidak ada sama-sama dicari.

“Saya juga katakan di hadapan suami, nohon diizinkan saya ingin jadi perempuan yang berkarier di ranah publik untuk mengekspresikan hobby berupa mengajar, berceramah dan berorganisasi, dan sebagai suami harus menerima konsekuensi kalau istrinya jarum super (jarang di rumah suka pergi) kepergian yg menebar damai dan cinta untuk semua,” pungkasnya.

“Semua item perjanjian itu kami sepakati tanpa tekanan sehingga walaupun suami bukan keluarga bukan teman apalagi pacar ternyata bisa hidup bahagia karena saling mendukung satu sama lain,” kuncinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top