Ini Penilaian Majelis Pengawas Notaris Terkait Kasus Yang Membelit  Mena – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Ini Penilaian Majelis Pengawas Notaris Terkait Kasus Yang Membelit  Mena

WATAMPONE, RB–Ketua Majelis Pengawas Notaris Kabupaten Bone, Prof Andi Nuzul memberi support positif atas kasus yang menyeret salah satu notaris ternama Bone, Mena Bahrah.

“Kami memberi support penuh kepada Mena agar bisa melalui ini dengan baik. Kami menilai dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik,” kata Prof Nuzul, Kamis 15 Desember 2016 lalu.
Mena, menurut Nuzul salah satu notaris yang tidak punya catatan tercela selama menjalankan tugas.

“Baru kali ini ada kondisi begini. Dan kami juga tahu kalau yang dilaporkan sebenarnya bukan dia, tapi salah satu kliennya Mena tidak usah takut, apalagi karena kami tahu dia menjalankan tugas dengan baik,” sambung Nuzul.

Nuzul mendukung proses hukum ditegakkan. Meski begitu, dirinya mengaku siap ikut memberi apapun agar proses hukum ini bisa berjalan dengan baik. “Sejauh ini belum ada komunikasi dengan polisi. Tapi kalau kami dimintai pendapat, itu sangat memungkinkan,” kata Nuzul.

Notaris senior di Bone ini memastikan Mena tetap bisa bekerja seperti biasa. Statusnya juga dipastikan masih aman.

“Meskipun misalnya berproses di majelis pengawas notaris, kami tidak punya wewenang memutuskan mencabut izin operasinya. Itu wewenang Kemenkumham. Dan untuk sampai pada proses pencabutan butuh proses panjang. Termasuk sudah harus ada keputusan hukum tetap yang menyatakan notaris bersalah,” katanya.

Mena Bahrah terseret pengembangan kasus yang dilaporkan warga Bone, Irma Suryaningrat. Irma melaporkan Adriani dan Muh Rum pada Maret 2016 ke Mapolres Bone dengan laporan dugaan penipuan.

Semua berawal saat Irma berniat membeli sebidang tanah di Kelurahan Bukaka Kabupaten Bone senilai 1,4 milyar, Maret 2015. Irma menyerahkan tanda jadi sebesar Rp140 juta.

Rp130 juta diserahkan pada pemilik tanah, Abdul Hamid bin Lide melalui ahli warisnya, Hj Sitti Dinar Daeng Kaya yang disaksikan oleh kedua anaknya (Adriani dan Muh Rum) juga notaris, Mena Bahrah. Rp10 juta diserahkan ke Mena untuk biaya administrasi dan pengurusan berkas.

Tanah itu kemudian tidak jadi berpindah tangan ke Irma karena wanprestasi. Tanda jadi otomatis mati karena tidak memenuhi tenggat hingga Juni 2015.

Setelah ada peminat lain, pemilik lahan siap menjualnya. Pelapor sempat membuat surat keterangan tidak keberatan tertanggal 25 Juni 2015 di hadapan Mena. Bahkan, satu bulan kemudian (25 Juli 2015), uang Rp10 juta yang diserahkan ke Mena juga diambil kembali oleh Irma.

Irma berharap kembali uang Rp130 juta yang sudah dia setor, tapi tidak berhasil. Walhasil, Irma akhirnya melaporkan dua ahli waris tersebut ke polisi setahun kemudian. Namun dalam perkembangan penyidikan, surat pernyataan tidak keberatan pelapor tertanggal 25 Juni 2015 akhirnya muncul ke permukaan sebagai bukti yang diajukan dua terlapor.

Pelapor akhirnya membantah pernah menandatangani surat itu di hadapan notaris. Berkembanglah kasus ini menyeret Mena Bahrah sebagai dugaan pemalsuan tandatangan.

“Tapi ada staf yang menyaksikan dia bertandatangan,” sebut Mena Bahrah, Kamis 15 Desember 2016.

Perihal wanprestasi, pelapor beralasan karena masih mengurus IMB dan bolak-balik Jakarta. Juga karena pekerjaannya ada di Korea. IMB itu terkait rencana membangun real estate pada tanah tersebut.

Tapi, sebut Mena, tidak mungkin menunggu IMB di atas lahan itu bisa terbit. “Lahannya aja belum lunas. Jadi sertifikat tentu masih atas nama penjual lahan. Bagaimana mau urus IMB?” kata Mena.

Mena sedang mempersiapkan langkah melapor balik dengan dugaan pencemaran nama baik.

Terpisah, Irma Suryaningrat yang coba dikonfirmasi belum berhasil tersambung. Namun sebelumnya, Irma sempat mengumumkan perihal kegelisahannya pada penanganan kasus ini kepada wartawan di Bone. (**)

To Top