Kapolres: Jika Terbukti, Pasti Ditindak! – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Kapolres: Jika Terbukti, Pasti Ditindak!

Dugaan Pungli Nelayan di Kampung Bajo

PENULIS : HERMAN

RADARBONE.CO.ID – WATAMPONE–Kapolres Bone, AKBP Raspani SIK langsung memanggil Kepala Satuan Polair, AKP Armin Sukma untuk mengklarifikasi dugaan pungutan liar terhadap nelayan
di perkampungan Suku Bajo. Dugaan pungli terhadap nelayan di perkampungan Suku Bajo, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur diduga melibatkan oknum Satuan Polair Polres Bone.

Informasi yang dihimpun RADAR BONE menyebutkan nelayan setempat secara rutin menyetor sejumlah kepada oknum petugas Polair. Besaran setoran nelayan ditentukan kapasitas perahu yang digunakan. Untuk perahu besar dikenakan pembayaran Rp400 ribu. Sedangkan perahu kecil sebesar Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Setoran ini disebut-sebut sebagai pelicin agar nelayan bebas menggunakan bom rakitan dalam menangkap ikan.

Menanggapi isu pungli tersebut, Kapolres Bone, AKBP Raspani SIK mengatakan dirinya telah memanggil Kepala Satuan Polair, AKP Armin Sukma untuk mengklarifikasi dugaan pungli tersebut. “Saya klarifikasi ke Kasat Polair (AKP Armin Sukma) terkait dugaan pungli yang melibatkan oknum anggota,” katanya kepada RADAR BONE, Rabu, 29 Maret kemarin. Selain itu, kata Raspani pihaknya juga turun ke lapangan melakukan penelusuran untuk memastikan keterlibatan anggotanya.

Mantan Kapolres Mamuju Utara ini menegaskan, jika nanti hasil penelusuran pihaknya menunjukkan adanya bukti keterlibatan oknum anggota Satuan Polair menerima setoran rutin dari nelayan, maka dirinya tak segan-segan untuk memberikan sanksi tegas. “Kalau terbukti adanya pelanggaran pasti ada tindakan,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, penggunaan bom ikan masih marak dilakukan nelayan di daerah ini. Mereka sulit tersentuh hukum karena diduga memberi setoran kepada oknum aparat penegak hukum.

Dugaan pungli pada nelayan ini mengemuka setelah seorang nelayan asal perkampungan Bajo, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur bernama Bacotang (38) ditangkap, Senin 20 Maret lalu sekira pukul 05.30 Wita.
Pria ini ditangkap saat bersiap-siap hendak melaut. Di atas kapalnya ditemukan barang bukti berupa 12 detonator, sembilan botol berisi pupuk, tiga jeriken berisi pupuk, dua bekas korek kayu, dua korek gas dan empat keping obat anti nyamuk.

Hingga saat ini, pria ini masih mendekam di sel tahanan Polres Bone. Dia dijerat Undang-undang Nomor 12 Tahun 1951 ayat 1 pasal 1 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Yang menarik, nelayan yang tertangkap petugas Satuan Polair Polres Bone ini ternyata disebut-sebut sebagai salah satu nelayan yang ikut memberi setoran kepada oknum petugas Polair selama ini.

Informasi yang diterima RADAR BONE, besar setoran nelayan kepada oknum petugas Polair sebesar Rp200 ribu sampai Rp400 ribu. Untuk nelayan yang menggunakan perahu besar membayar Rp400 ribu. Sedangkan untuk nelayan menggunakan perahu kecil menyetor Rp200 ribu. Ada puluhan nelayan yang diduga menggunakan bom ikan.

Kepala Satuan Polair Polres Bone, AKP Armin Sukma yang dikonfirmasi RADAR BONE via sambungan telepon membantah adanya setoran nelayan yang diterima pihaknya. “Tidak ada pungutan yang terjadi. Saya sudah tanya ke anggota yang dimaksud,” kata Armin.

*

Click to comment
To Top