Kasihan, Warga Biru dan Masumpu Masih Krisis Air Bersih – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Kasihan, Warga Biru dan Masumpu Masih Krisis Air Bersih

Fakta, Kabupaten Bone Miliki 275 Titik Sumber Air Baku

Dua kelurahan di wilayah kota, yakni Biru dan Masumpu Kecamatan Tanete Riattang merupakan daerah krisis air bersih. Setiap musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) digelar, warga dari kedua kelurahan ini selalu ‘berteriak’ soal ketersediaan air bersih.

Baharuddin, Watampone

Di Kelurahan Biru misalnya, setidaknya ada lingkungan di kelurahan ini yang setiap tahun mengalami krisis air. Keduanya adalah Lingkungan Tanete dan Soddangnge. Warga di kedua lingkungan ini selalu mengalami kesulitan air bersih pada saat musim kemarau. Tak jarang warga harus membeli air bersih.

Salah seorang warga Lingkungan Tanete, Nunung Indrawati kepada penulis, Selasa 21 Maret kemarin mengatakan di pekarangan rumahnya ada lima sumur, dua diantaranya sumur bor dan tiga sumur biasa. Namun jika memasuki musim kemarau airnya sudah habis, sehingga warga terpaksa membeli air dengan harga Rp300 ribu pertangki. Tangki ini, kata Indrawati cuma berkapasitas 1.000 liter.

“Dalam satu tangki itu hanya digunakan dalam waktu paling lama empat hari, karena air itu ditumpah ke sumur dan sebagian meresap,” tutur Indrawati. Lanjut dia, di Lingkungan Tanete dan Soddangnge sangat sulit diperoleh air bersih, karena pipa PDAM belum masuk, sedangkan mata air sulit didapatkan.

“Di rumah saya ada lima sumber air bersih, masih kekurangan jika tiba saatnya musim kemarau. Terlebih lagi di tetangga kami, rata-rata warga membeli air per jerigen untuk digunakan kebutuhan memasak dan mencuci,” paparnya. Pada musim kemarau, kata Indrawati kerap datang penjual yang menjajakan air dibanderol Rp1.000 per jerigen. Lurah Biru, AM Hasbi membenarkan kedua lingkungan di wilayahnya itu sangat kesulitan air bersih. “Dari dulu di lingkungan itu selalu kesulitan air bersih sampai sekarang jika musim kemarau warga harus beli air,” ungkap Hasbi.

Hasbi berharap pemerintah daerah turun tangan menganggulangi kesulitan warga. “Harusnya ada pengadaan penampungan air, supaya warga mudah mendapatkan air pada saat kemarau. Ada ratusan KK di kedua lingkungan itu dan rata-rata warga kurang mampu, sehingga perlu mendapat bantuan pengadaan air bersih,” harap Hasbi.

Lurah Masumpu, Indriaty A Lathief juga mengakui ada satu lingkungan di wilayahnya yang kerap mengalami krisis air bersih, yakni Lingkungan Biru Satu. “Harusnya ada juga bantuan pengadaan penampungan air bersih, seperti di Lingkungan Biru Dua, dulunya di sana (Lingkungan Biru Dua) juga kekurangan air, tapi setelah mendapatkan bantuan penampungan air, sekarang warga setempat sudah menikmati. Mudah-mudahan pada musim kemarau berikutnya tidak ada lagi mengalami kesulitan air bersih,” harapnya.

Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air, Askar mengatakan Kabupaten Bone memiliki sumber air baku sebanyak 275 titik. Ini termasuk di dalamnya sungai.Hanya saja, kata dia belum semuanya terkelola. Sumber air baku ini, kata dia digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia, seperti irigasi, pembangkit listrik dan kebutuhan air bersih. “Untuk irigasi, Bone yang terbesar di Sulsel,” papar Askar.

Lebih jauh Mantan Kabid SDA pada Dinas PU ini membeberkan untuk bendungan, Bone juga sebagai yang terbesar di Sulsel, yakni Bendungan Salomekko dan Ponre-ponre. Diakui banyak sumber air baku di daerah ini berpotensi ditingkatkan menjadi bendungan, tapi terkendala dana. “Untuk penelitian saja itu butuh miliaran,” paparnya.
Namun demikian, upaya peningkatan tetap dilakukan. Bendung Sanrego misalnya, akan ditingkatkan dari kapasitas 6.000 ha saat ini menjadi 9.000 ha lebih nantinya.

Terkhusus untuk kesulitan air bersih yang dialami warga Biru dan Masumpu, Askar memperkirakan lokasi kedua daerah ini berada di ketinggian sehingga akses air sulit terjangkau.
Upaya yang dilakukan agar ketersediaan sumber air baku tetap terjaga, Askar mengatakan pihaknya saat ini gencar melakukan pembenahan saluran air.

(*)

 

To Top