Kasus Penganiayaan dan Pencabulan Terhadap Anak Mendominasi – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Kasus Penganiayaan dan Pencabulan Terhadap Anak Mendominasi

RADARBPNE.CO.ID_WATAMPONE–Kasus anak berhadapan hukum cukup memprihatinkan. Mereka tidak hanya terlibat sebagai pelaku, melainkan juga korban. Penganiayaan dan pencabulan mendominasi kasus anak di daerah ini. Masih segar di ingatan kita, aksi pencabulan yang dilakukan ayah kandung terhadap anaknya di Pasempe, Kecamatan Palakka. Kejadian ini terungkap setelah ibu korban melapor ke Mapolsek Palakka, Rabu, 1 Agustus lalu. RS, orang tua korban membeberkan aksi bejat disertai kekerasan yang dilakukan sang suami terhadap sang anak.
Menurut RS, pada Jumat, 27 Juli lalu, suaminya SF (38) masuk ke kamar anaknya, LS (17) dan berusaha menyetubuhinya. LS yang menolak aksi bejat sang ayah pun melakukan perlawanan. Ia berusaha melarikan diri dari cengkraman sang ayah. Beruntung saat kejadian, RS tiba di rumah setelah menjual di pasar. Ia pun dan berusaha melindungi anaknya. Namun keduanya, nyaris celaka saat diancam akan dibunuh oleh pelaku.

Ini hanya sebagaian kecil dari kasus kekerasan yang dialami anak di Bumi Arung Palakka. Berdasarkan yang diperoleh dari Lembaga Permberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Bone, menyebutkan pada 2016, terdapat 42 kasus anak yang ditangani dengan dominasi kasus pencabulan. Kemudian meningkat menjadi 57 kasus pada 2017. Kali ini, didominasi kasus penganiayaan dan berhasil diselesaikan secara diversi. “Ada 22 kasus yang penganiayaan yang diselesaikan secara diversi (Pengembalian ke orangtu untuk dibina), tapi juga kami rujuk ke Makassar untuk dilakukan pembinaan,” kata Martina Madjid, Koordinator Advokasi Hukum dan Pendampingan Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Bone, kemarin.

Memasuki tahun 2018, kata Tina, sapaan akrab Martina Madjid, kasus penganiayaan dan pencabulan tetap mendominasi. “Tapi yang kebanyakan lanjut prosesnya sampai ke pengadilan untuk tahun 2018 adalah pencabulan,” jelas Martina. Terkhusus kasus penganiayaan anak, sambung Martina, baik anak sebagai pelaku atau korban, perlu pengawasan dari semua pihak, utamanya orang tua. Kasus penganiayaan anak kebanyakan melibatkan pelajar.

Lebih jauh Martina mengungkapkan untuk kasus pencabulan, dibutuhkan pendekatan ekstra kepada anak. “Pendekatan secara emosional antara orang tua dengan anak. Kontrol terhadap pergaulan anak, baik terhadap siapa yang ditemani bergaul, maupun sosial media yang sering digunakan. Karena anak-anak memiliki jiwa yang labil, yang bisa dipengaruhi oleh lingkungan yang baru dia kenal,” pesan Martina.

Martina juga menyarankan kepada orang tua untuk tidak menikahkan anak pada usia dini. Anak berhak memperoleh pendidikan yang layak, disamping juga belum siap secara ekonomi maupun anatomi tubuh. “Malahan dua bulan terakhir yang meningkat kasu bawa lari anak (Pencabulan) sebanyak 14 kasus,” beber Martina.
Terkhusus kepada pemerintah daerah, kata Martina, harus meningkatkan sosialisasi dan bimbingan kerohanian terhadap anak. “Jika menemukan tindakan yang menyimpang, jangan serta merta menyalahkan anak, tapi lakukan metode pendekatan layaknya anak sebagai teman, agar anak menemukan kenyamanan di lingkungan keluarganya. Intinya tingkatkan pengawasan, stop kekerasan anak,” tegas Martina.

Sementara itu dari pihak Polres Bone menyebutkan, dalam kurun waktu 2016-2018 kasus anak yang ditangani sebanyak 24 kasus.
Ia merincikan pada 2016 sebanyak 15 kasus. Kemudian meningkat tajam menjadi 24 kasus pada 2017. Namun memasuki 2018, kasus anak menurun menjadi 7 kasus. “Data LP tiga tahun terakhir 2016-2018, kekerasan terhadap anak di bawah umur itu menurun,” jelas AKP Darma Praditya Negara SIK, Kasat Reskrim Polres Bone.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top