Kenalkan AT, PSK Yang Mangkal Di 3 Provinsi – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Kenalkan AT, PSK Yang Mangkal Di 3 Provinsi

ilustrasi

PENULIS: HERMAN KURNIAWAN

WATAMPONE, RB– AT begitu inisialnya. Pekerja Seks Komersial (PSK) yang mengaku warga Kabupaten Bone yang sudah berkelana di tiga provinsi untuk melayani jasa peras keringat di atas kasur menghadapi pria hidung belang.

AT mengaku pertama kali terjun ke dunia prostitusi ketika diceraikan suaminya yang memilih menikah dengan gadis ABG di Kota Makkassar.

Sakit hati bercampur dengan keterbatasan ekonomi membuat wanita berusia 29 tahun ini memilih terjun ke dunia malam dengan menjajakan diri di sejumlah hotel di Kota Makassar.

“Sejak 2012 saya mulai terima bookingan namun hanya di hotel. Kalau di Bone saya baru satu kali melayani pelanggan. Dia pejabat dan mainnya juga di hotel supaya aman,” katanya, ketika dikonfirmasi RADAR BONE Kamis 12 Mei sekira pukul 22.30 Wita di bilangan Jl dr Wahidin Sudirohusodo Bone.

Merasa pendapatannya sudah berkurang lantaran banyaknya PSK muda bermunculan, AT memilih menyeberang ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Dia sempat menjadi primadona di sana selama dua tahun.

“Dua tahun di Kendari saya mendapat tawaran ke Irian Jaya, Papua. Di sana gadis bugis, Jawa, dan Manado banjir peminat. Bahkan kadang kami kewalahan melayani pelanggan,” kata, janda yang mengaku sejak kecil sudah menjadi yatim piatu.

Meski telah melayani ratusan pria ditiga provinsi yakni, Sulsel, Sultra, dan Papua, AT mengaku masih melakukan koordinasi dengan teman-temannya jika ada daerah yang peminat wanita penghiburnya tinggi.

“Tapi biasanya kalau sudah berhenti di Papua, perempuan seperti saya sudah tidak laku lagi,” ujarnya.

Selama menjadi wanita penyedia jasa birahi, AT mengaku memasang tarif Rp3 juta sampai Rp5 juta per sekali kencan.

“Kalau di Papua saya pasang harga Rp5 juta. Itu kadang kami tidak ngapa-ngapain dengan pelanggan di dalam kamar. Karena biasa pria di sini mabuk berat baru masuk mau main, jadi biasa tidak begitu (berhubungan seks) kemudian tertidur. Nanti lama-lama saya kasi bangun terus ajak mandi bareng setelah itu selesai,” katanya.

AT mengaku, telah merintis usaha di Papua dengan membuka toko pakain jadi. Itu dia lakukan sebagai persiapan sebelum pensiun menjajakan diri.

“Saya sudah capek. Maunya nikah dan punya anak. Karena dari mantan suami tidak ada anak. Kalau sudah berkeluarga saya mau besarkan usaha jual pakaian dan bertaubat,” tutur wanita kelahiran Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang ini.

To Top