Kisah Badaria, Penderita Gangguan Jiwa Yang 10 Tahun Hidup Dipasung – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Kisah Badaria, Penderita Gangguan Jiwa Yang 10 Tahun Hidup Dipasung

Kondisi Badaria, penderita gangguan jiwa yang hidup dipasung sekira 10 tahun di Desa Mico, Kecamatan Palakka.

Sungguh tragis hidup Badaria, penderita gangguan jiwa yang menjalani pasungan sekira 10 tahun. Kondisinya cukup memprihatinkan. Badannya kurus kering, hanya tinggal kulit dan tulang. Dia hanya tinggal sendiri di rumah reyot, setelah kedua orang tuanya
meninggal dunia.

Ardi, Palakka

Badaria kini tinggal sebatangkara di atas sebuah rumah reyot di Dusun III, Desa Mico, Kecamatan Palakka. Rumah yang ditempati wanita ini terbilang jauh dari permukiman warga.  Untuk menjangkau rumah panggung itu, penulis harus berjalan kaki menyusuri jalan yang ditumbuhi rumput liar yang cukup tinggi.

Di sekitar rumah, tampak pohon dan rumput liar yang tumbuh semrawut. Di temani seorang lelaki tua bernama Lajju (70), penulis akhirnya berhasil menemukan sebuah rumah panggung yang nyaris roboh. Di atas rumah panggung itulah Badaria menjalani hari-harinya dengan kepiluan seorang diri.

Menurut Lajju, Badaria sesungguhnya masih memiliki saudara bernama Pattang. “Setahu saya kakaknya itu (Pattang) mau merawat Badaria di rumahnya, tapi entah kenapa sampai sekarang belum juga dibawa,”ungkap Lajju kepada penulis, kemarin. Diakui Lajju, saudara Badaria bernama Pattang itulah yang selalu membawakan makanan kepada wanita itu setiap hari. “Kalau sore baru datang kasi makan ke adiknya,”ungkapnya.

Menurut Lajju, sebenarnya Badaria pernah dirawat rumah sakit jiwa di Makassar ketika ibunya, Rabi masih hidup. Bahkan, Rabi kerap memanggil dokter untuk memeriksa kondisi anaknya. “Sempat pulih penyakitnya, tapi kembali kambuh setelah ibu meninggal,” beber Lajju.

Sejak kambuh itulah, sambung Lajju, Badaria mulai dipasung. Pasalnya jika dibiarkan bebas berkeliaran, tak jarang dia mengganggu orang-orang yang berada di dekatnya.”Sehingga untuk menjaga tidak terjadi hal-hal yang diinginkan, makanya kita pasung dia,” ungkapnya.

Sejak saat itulah Badaria hidup pasungan dalam 10 tahun terakhir. Dia menghabiskan waktunya hanya lewat duduk dengan kaki kanan yang terpasung kayu. Hari-hari pilu itu dia jalani sendiri di atas rumah yang jauh dari permukiman warga. “Sudah kurang lebih 10 tahun dia dipasung se-perti itu,” jelas Lajju.

Pihak keluarga sesungguhnya tak tega untuk memperlakukan Badaria seperti itu. Namun mereka tak ada pilihan. Keluarga Badaria pun berharap dukungan pemerintah untuk kesembuhan wanita tersebut.

Minimal pemerintah memberikan bantuan pengobatan yang diperlukan untuk kesembuhannya.”Kalau bisa ada bantuan pengobatan dari pemerintah, agar Badaria dapat pelayanan kesehatan yang layak,” harap Risal, sepupu Badaria. (*)

To Top