Kisah Jupri, Warga Desa Kampuno Telantar di Perantauan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Kisah Jupri, Warga Desa Kampuno Telantar di Perantauan

Jupri masih seolah tak percaya bisa berjumpa dengan istri dan dua anaknya setelah dua tahun telantar di Batam. Warga Desa Kampuno,

Muncul Setelah Dua Tahun Dikabarkan Meninggal Dunia

Tati tak kuasa menahan haru melihat suaminya, Jupri kembali ke rumah. Betapa tidak, sudah dua tahun wanita ini tak pernah mendengar kabar pendamping hidupnya, apalagi untuk bertemu. Bahkan, dia mengira suaminya sudah meningga dunia.

Usman Sommeng, Watampone

Pria berusia 45 tahun itu berangkat ke Malaysia bermaksud mencari nafkah. Setelah bekerja pada sebuah perusahaan kayu, dia berhasil mengumpulkan uang untuk nafkah keluarga. Warga Desa Kampuno, Kecamatan Barebbo ini pun bermaksud kembali ke kampung halaman menemui istri dan anak-anaknya. Namun cobaan tak bisa ditebak. Saat dirinya tiba di pulau Batam harta miliknya dirampas orang tak dikenal, sehingga dia kehilangan seluruh harta yang dikumpulkan selama di tanah rantau, Malaysia. Tak hanya harta, kartu identitas diri yang dimiliki pun ikut raib.

“Waktu saya berada di Pulau Batam seluruh barang saya dirampas. Jadi terpaksa saya tidak melanjutkan perjalanan sampai ke Bone,” ucap Jupri saat ditemui RADAR BONE di kediamannya di Kampuno, Kecamatan Barebbo, Minggu 12 Februari kemarin. Rumah Jufri berupa rumah panggung yang dihuni bersama istri dan dua anaknya. Rumah ini berada di pinggir poros jalan menuju ke arah Pattiro, tak jauh dari kantor desa setempat.

Kembali ke cerita Jupri, disaat semua harta miliknya kabur orang tak dikenal. Jupri pun
memilih tinggal di sebuah masjid di Batam. “Saya bekerja sebagai tukang parkir di salah satu pusat perbelanjaan demi bertahan hidup selama dua tahun,” ungkap ayah dua anak itu.

Sejak dirinya dirampas di Batam, semenjak itu dia kehilangan kontak dengan keluarganya di Bone. Selama di Batam, Jupri tak pernah berkomunikasi dengan istri dan keluarga lainnya. Dia benar-benar telantar. Pasca kecurian, Jupri tak melapor ke polisi. Bukan apa-apa, dia takut melapor karena tak memiliki identitas diri setelah surat-surat yang dimiliki ikut digasak maling. .

“Sebelumnya, saya sudah menelepon bahwa mau pulang dan sudah ada di Batam, namun saya kena musibah. Jadi saya tidak bisa lagi menelepon karena semua barang-barang saya sudah diambil orang. Mau lapor polisi saya juga takut karena saya tidak memiliki surat-surat,” bebernya.

Setelah cukup lama tak ada kabar, pria ini diduga sudah meninggal dunia oleh keluarganya di Bone, termasuk sang istri, Tati. “Saya kira suami saya sudah meninggal karena semenjak dia menelepon untuk pulang, sudah dua tahun tidak ada kabarnya,” ungkap Tati.

Namun Tuhan ternyata masih mempertemukan mereka.
Jupri berhasil kembali ke Bone setelah polisi setempat mengetahui jika dirinya seorang TKI asal Malaysia yang telantar. “Nanti beberapa tahun baru polisi mengetahui bahwa saya seorang TKI dari Malaysia. Setelah itu saya langsung di bawa ke kantornya dan dipulangkan ke sini,” urainya.

Jupri tiba di rumahnya di Desa Kampuno, Kecamatan Barebbo, Selasa 7 Februari lalu sekira pukul 17.00 Wita. Sontak keluarga dan tetangga pun heboh dengan kepulangan pria bertubuh tambun itu. (*)

To Top