Kompleks Stadion ‘Markas’ Isap Lem, Ini Fakta-faktanya – Radar Bone

Radar Bone

Berita Utama

Kompleks Stadion ‘Markas’ Isap Lem, Ini Fakta-faktanya

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Stadion Lapatau Watampone yang harusnya menjadi sarana olahraga, justru disalahgunakan oknum yang tidak bertanggungjawab. Stadion ini menjadi lokasi pesta isap lem dan penyalahgunaan obat terlarang. Itu terlihat dari bungkusan lem dan obat-obatan lainnya yang berserakan di tribun timur atau tribun terbuka stadion itu.

Kompleks stadion Lapatau Watampone yang seharusnya menjadi pusat kegiatan olahraga di Kabupaten Bone justru menjadi pusat kenakalan remaja.

Pantauan RADAR BONE, Rabu 31 Juli kemarin, terlihat bangunan tersebut kumuh dengan adanya coretan yang memenuhi dinding bangunan. Fasilitas di tribun terbuka itu juga dirusak oleh oknum tak bertanggungjawab, seperti kaca jendela pecah dan besi pengaman jebol.

Didalam ruangan juga ditemukan kaleng lem fox yang terbungkus plastik yang diduga bekas isap, serta botol minuman keras dan bungkusan obat batuk cairan yang dioplos jadi minuman.

Padahal,kompleks stadion ini dijaga oleh Personel Satpol PP dan juga menjadi kantor Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bone.

Salah seorang aktivis mahasiswa, Syahrul Adi Dahlan menyayangkan bangunan stadion yang justru digunakan bukan untuk kepentingan olahraga. Stadion yang harusnya menjadi pusat olahraga lanjut dia, justu menjadi ‘Markas’ bagi para pencandu narkoba di daerah ini.

“Tentunya sangat disayangkan pemerintah melakukan pembiaran terhadap fasilitas dirusaki oleh oknum tak bertanggungjawab. Apalagi dijadikan tempat isap lem yang kerap dilakukan oleh anak remaja,” ungkapnya.

Mahasiswa yang akrab disapa Calul itu juga berharap kepada pemerintah agar segera melakukan tindakan tegas. “Stadion ini dibangun dengan dana yang tidak sedikit,” tukasnya.
Warga lainnya, Ikram juga menyayangkan stadion yang kerap digunakan untuk pesta narkoba bahkan lokasi mesum.

“Sudah tak terhitung berapa pasangan mesum yang ditangkap di kawasan ini. Memang perlu perhatian ekstra dari pemerintah daerah khususnya dinas terkait,” ujarnya.
Ia juga mengaku, kerap melihat pasangan muda-mudi yang mangkal di lokasi ini pada malam hari.

“Kebetulan kalau mau menuju kos, saya sering melintas di kompleks stadion ini. Sering saya melihat pasangan muda-mudi disini mangkal. Allahu Alam saya tidak tahu apakah mereka berbuat mesum atau tidak. Tapi kalau mangkalnya ditempat gelap, patut kita curiga, ada perbuatan tidak senonoh yang dilakukan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Bone, A Pirdaus justru menyalahkan instansi Satpol PP.

Pirdaus mengatakan, bebasnya anak muda melakukan perbuatan tidak senonoh di lokasi itu, lantaran tidak ketatnya pengawasan dari Satpol PP.

“Padahal kami panggil untuk ditugaskan sebagai pengamanan di wilayah itu. Tapi sepertinya ada pembiaran dari satpol. Jangankan pengisap lem yang dibebaskan, warga pun yang membuang sampah bukan pada tempatnya mereka tidak menegur. Bisa dilihat, sampah di stadion terkadang menumpuk,” tukasnya.

Demikian pula ternak sapi bebas yang masuk ke kompleks stadion. “Padahal tugasnya satpol untuk mencegah semua itu,” jelasnya.

Menurut Pirdaus, Satpol PP harus tegas mengambil tindakan. Karena stadion ini adalah sarana untuk ditempati berolahraga. Bukan tempat pesta isap lem atau pesta narkoba dan pesta mesum.

“Jadi kalau untuk menindak mereka tentu kita tidak punya wewenang. Soal adanya fasilitas stadion yang diduga dirusak, kita akan tinjau dan lihat seberapa besar kerusakannya untuk kemudian dianggarkan perbaikan sarana tersebut,” kuncinya.

Praktisi sosial, Rahman Arif mengaku miris dengan maraknya kasus pelajar isap lem dan Ngomix.
Menurutnya, perlu ada pemantauan, atau patroli malam untuk menindak remaja yang kerap ngelem meracik miras oplosan dengan obat generik.

“Ini yang perlu diperhatikan. Kewajiban pemerintah dan instansi terkait memagari anak agar tidak mengonsumsi narkoba,” bebernya.

Rahman melihat lemahnya penindakan baik itu dari kepolisian, BNNK, dan Satpol PP. Sehingga kaum milenial di Bone kian leluasa ngelem dan mengkonsumsi miras oplosan yang dicampus Komix.

“Saya harap ada ketegasan. Minimal memberikan efek jera bagi para pelaku. Sosialisasi tidak akan cukup tanpa pengawasan ketat,” tegasnya.

Kalau perlu kata Rahman dibuat regulasi dalam bentuk peraturan daerah yang mengatur sanksi bagi para pelaku penyalagunaan lem fox maupun obat-obatan.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bone, Herlina SH MH mengaku belum ada kewenangan dari pihaknya untuk menangkap para pelaku penyalagunaan obat-obatan. Termasuk bagi mereka yang mengkonsumsi lem fox dan komix oplosan.

“Untuk menangkap, sebenarnya kami belum ada aturan yang mengatur tentang itu. Ada dua instansi yang harusnya berperan besar disini yakni Dinkes dan Dinas Sosial. Dinkes melakukan pembinaan dan membawa ke kami untuk disembuhkan atau direhab,” tukasnya.

Soal kawasan stadion yang menjadi markas isap lem, BNNK lanjut Herlina akan meningkatkan pengawasan. “Kita akan gerebek lokasi itu,” janjinya.

Pihak Satpol PP juga berjanji akan aktif melakukan razian di kawasan Stadion Lapatau. Kabid Trantib Satpol PP Bone, A Baharuddin mengaku, kompleks stadion Lapatau selama ini dijaga petugas Satpol PP yang dibagi tiga regu.

“Petugas Satpol PP berjaga 24 jam di kompleks stadion. Saya sudah perintahkan Anggota yang bertugas, untuk memantau keberadaan para pengisap lem. Kalau memang hasil pemantauannya ada ditemukan, maka anggota akan digerakkan kesana untuk mengamankan,” ujarnya kepada RADAR BONE, Kamis 1 Agustus kemarin.

Bahar mengaku, selama ini pihaknya rutin menggelar razia dan jika ada ditemukan mengisap lem, maka langsung dibawa ke BNNK untuk diproses.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Bone, A Sumardi Suaib menolak disalahkan atas bebasnya pelajar mengisap lem di kawasan stadion. Itu menanggapi komentar Kadispora, A Pirdaus yang mengatakan bebasnya anak muda melakukan perbuatan tidak senonoh di lokasi itu, lantaran tidak ketatnya pengawasan dari Satpol PP.

“Jangan bebankan masalah ini hanya di Satpol PP. Harusnya instansi yang berkantor di kawasan itu harus aktif melakukan pengawasan. Khususnya Dispora, segera menutup ruangan yang selama ini dijadikan para oknum tak bertanggungjawab itu untuk ngelem atau mengkomsumsi miras oplosan,” tegas Sumardi.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top