Lagi Petugas Kesehatan di Bone Berulah – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Lagi Petugas Kesehatan di Bone Berulah

H Ambo Dai, Warga Desa Lebongnge Kecamatan Cenrana yang dirawat di RSUD setelah mengalami kecelakaan tunggal di Desa Lea Kecamatan Tellu Siattinge.

Sewa Ambulance Mencekik, Derita Pasien Laka Lantas Asal Cenrana

PENULIS : ASKAR SYAM – ARDI BIN WARIS

WATAMPONE, RB—Pasien kecelakaan lalu lintas asal Desa Lebongnge Kecamatan Cenrana terpaksa gigit jari. Kartu jaminan kesehatan nasional (JKN) KIS yang dikantongi tidak bisa menolong. Pasangan suami istri tersebut pun harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ini belum termasuk biaya ambulance yang dibebankan petugas puskesmas.

Petugas kesehatan (Puskesmas) kembali berulah. Kali ini, seorang pasien laka tunggal warga Desa Lebong-nge Kecamatan Cenrana, dibebankan pembayaran ambulance yang cukup tinggi.
Pasien tersebut diharuskan membayar sebesar Rp427 ribu untuk sewa ambulance oleh petugas Puskesmas Cenrana. Tidak cukup sampai di situ, petugas puskesmas bagian administrasi yang diketahui bernama Resti meminta tambahan biaya sebesar Rp500 ribu. Petugas puskesmas itu beralasan jumlah pasien yang diangkut ambulance saat dirujuk ke RSUD Tenriawaru Watampone berjumlah dua orang.

Diketahui, Warga Desa Lebong-nge bernama H Ambo Dai (60) mengalami kecelakaan tunggal di Desa Lea Kecamatan Tellu Siattinge. Ambo Dai saat kejadian, membonceng istrinya. Dikarenakan luka serius yang dialami keduanya, sehingga pihak puskesmas merujuk keduanya ke RSUD Tenriawaru Watampone.

Ambo Dai mengalami luka serius di bagian tangan dan lecet pada bagian dahi atas. Sementara istrinya mengalami patah kaki.
Salah seorang kerabat korban, Anti mengaku pihak puskesmas membebankan biaya ambulance yang cukup tinggi.
Derita pasangan suami istri itu berlanjut saat dirawat di RSUD Tenriawaru Watampone. Meski memegang kartu KIS dan mengantongi surat pengantar dari desa, namun keduanya tetap dibebankan pembayaran dan masuk kategori pasien umum.

Anti mengaku, biaya yang dikeluarkan telah mencapai Rp7 jutaan.“Itu belum termasuk biaya operasi dan sewa kamar. Pihak rumah sakit mengatakan biaya pengobatan bisa diklaim ke BPJS Kesehatan asalkan sudah melengkapi persyaratan. Total biaya yang dikeluarkan berkisar Rp7 juta,” terang Anti.
Bahkan lanjut dia, pihak rumah sakit memperbolehkan pasien untuk dipulangkan, meski kondisi pasien masih lemah.

“Kami juga dilema. Di satu sisi masih menginginkan keluarga kami dirawat namun kalau tidak ditanggung KIS, tentu biaya perawatannya sangat membebani. Ini saja baru dua hari, sudah berapami yang dibayar,” ujarnya kepada RADAR BONE, Jumat 16 September lalu.

Humas RSUD Tenriawaru Bone, Muh Ramli mengaku jika pasien sudah mengantongi KIS, maka semua biaya pengobatan tidak lagi dibebankan ke pasien. “Kecuali di KIS tersebut bukan atas nama pasien. Jadi harus dicek dulu kartunya. Kalau di KIS tersebut bukan atas nama pasien yang dirawat, tentu harus masuk kategori pasien umum,” pungkas Ramli.

Kepala Puskesmas Cenrana, Abd Rahman Aly yang dikonfirmasi RADAR BONE, Minggu 18 September kemarin, menyatakan belum mengetahui kejadian dimaksud. Sejauh ini, kata dia belum mendapat laporan soal pasien laka lantas yang dimintai biaya ambulance. Rahman menegaskan, bahwa pasien yang mengantongi kartu KIS tidak dibebani biaya sepeser pun ketika menggunakan ambulance puskesmas. Sedangkan untuk pasien umum alias tidak mengantongi kartu KIS cuma dikenakan biaya BBM sebesar Rp50 ribu.

“Saya tidak tahu soal kejadian itu. Belum ada laporan yang saya terima. Intinya, kalau peserta KIS gratis menggunakan ambulance. Sedangkan pasien umum cuma bayar Rp50 ribu. Itu pun hanya untuk pembe-lian bensin,” jelas Rahman.
Namun Rahman membenarkan adanya pegawai di Puskesmas Cenrana bernama Resti yang bertugas di administrasi.

*ASKAR SYAM

To Top