Lapangan Kerja di Bone Minim, Sarjana Pilih ‘Merantau’ – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Lapangan Kerja di Bone Minim, Sarjana Pilih ‘Merantau’

PENULIS : ADRY – RISNAWATI

RADARBONE.CO.ID-WATAMPONE–Setiap tahun, perguruan tinggi di daerah ini mencetak lebih 1.000 sarjana. Hanya saja, lapangan kerja yang tersedia minim, sehingga sebagian memilih lari keluar daerah. Berdasarkan data yang dihimpun dari sejumlah perguruan tinggi di daerah ini, setiap tahun PT di Bone menelurkan lebih 1.000 sarjana. Tahun ini misalnya, sedikitnya 1.432 sarjana yang tercetak berasal dari enam perguruan/sekolah tinggi. STAIN Watampone merupakan penyumbang sarjana terbanyak.

Data terakhir, STAIN menelurkan 561 sarjana. Ini terbagi atas tiga jurusan, yaitu Jurusan Tarbiyah sebanyak 303 orang, Jurusan Syariah 223 orang dan Jurusan Dakwah Komunikasi dan Usuluddin (DKU) sebanyak 20 orang. Kemudian untuk pasca sarjana STAIN Watampone mencetak 15 orang. Penyumbang lulusan terbesar kedua disusul STIA/STIKES Prima Bone sebanyak 402 orang. Angka ini menurun dibanding tahun 2016 yang berjumlah
562 orang. Setidaknya dalam dua tahun ini, STIA/STIKES Prima mencetak 964 sarjana.

STKIP Muhammadiyah Bone, pada 2016 lalu mengeluarkan 503 lulusan. Menurun dibanding tahun 2015 yang berjumlah 546 orang. Total sarjana yang dicetak STKIP Muhammadiyah dalam dua angkatan (2015 dan 2016)sebanyak 1.049 orang.

Jika perguruan tinggi lain mengalami penurunan angka sarjana yang dicetak,
STIH Bone justru menunjukkan grafik peningkatan. Jika pada 2015 cuma berhasil mencetak 100 alumni. Tahun ini, naik berlipat menjadi 237 orang. Masih di grup yang sama, Akper Lapatau Bone pada 2016 mencetak alumni sebanyak 40 orang. Kemudian Akper Lapatau 45 orang.

Akbid BSN, tahun lalu mencetak lulusan 168 orang. Namun pada 2017, menurun menjadi 58 orang.
Penurunan jumlah lulusan juga dialami STIE Yapi Bone, dimana pada 2016 STIE Yapi Bone mencetak alumni 197 orang, kemudian pada 2017, menurun menjadi 84 orang.

Sekolah tinggi yang tergolong kecil alumni yang dicetak adalah STIP Yapi Bone. Pada 2013, sekolah ini berhasil mencetak 24 alumni, sekaligus menjadi alumni perdana. Kemudian pada 2016 jumlah lulusannya mulai bertambah menjadi 31 orang.

Perguruan tinggi pencetak guru, PGSD UNM juga mengalami penurunan alumni yang ditelurkan. Jika pada tahun 2016 berhasil menelurkan alumni sebanyak 233 orang. Maka tahun ini, cuma sebanyak 90 orang.

Ketua STIH Lapatau Bone, Drs Muhammad Nur MH yang dikonfirmasi RADAR BONE beberapa waktu lalu, mengatakan dari sekian jumlah sarjana yang dicetak tidak semuanya terserap di dunia kerja.

“Dari sejumlah lulusan kami di sini tidak semuanya bekerja, masih ada yang menganggur sampai sekarang. Ini disebabkan karena kurangnya lapangan kerja di Bone,” ungkapnya.

Diakui Nur, beberapa alumninya memilih bekerja di luar kota.“Alumni di sini (STIH) juga memang beberapa yang sudah bekerja, namun di luar kota seperti di Kalimantan dan Papua,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap para lulusan sarjana tersebut.
“Tentunya kami berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan sejumlah lulusan sarjana ini agar bisa tercover di dunia kerja, karena saya yakin bukan hanya di Bone yang banyak sarjana pengangguran, tapi pasti di seluruh daerah terjadi seperti ini,” katanya.

Hal senada disampaikan salah satu staf pengajar STIP Yapi Bone, Jumardi SPd. Jumardi meminta mahasiswa untuk pintar memilih jurusan. Ini dimaksudkan agar bisa mendapatkan peluang kerja.

“Untuk kondisi saat ini, seharusnya para mahasiswa memilih jurusan yang bagus, serta yang masih kurang lulusannya agar mereka banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya,” pungkasnya.

*

Click to comment
To Top