LP2M Unhas Gelar Pelatihan Dasar Geologi dan GIS – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

LP2M Unhas Gelar Pelatihan Dasar Geologi dan GIS

Penulis: Agustapa

RADARBONE.CO.ID–Ilmu kebumian dan Geografi adalah bidang mata pelajaran yang diperlombakan dalam ajang Olimpiade Sains Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas.

Lomba yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya sejak 2002 itu menuntut kedalaman pengetahuan setiap siswa pesertanya tentang bumi beserta dinamikanya.

Derajat kesulitan soal-soal yang disajikan mengharuskan adanya persiapan khusus sebelum berkompetisi. Fakta itulah yang mendasari Departemen Teknik Geologi Universitas Hasanuddin melaksanakan pelatihan geologi dasar untuk guru-guru geografi se Kabupaten Bone.

Selain membekali para guru dengan ilmu pengetahuan kebumian terkini, juga diberikan praktikum dasar pengenalan batuan baik secara makro maupun melalui alat bantu mikroskop.

Sekolah Menengah Atas merupakan tahap dimana anak didik mendapatkan gambaran yang lebih spesifik mengenai ilmu yang akan mereka tekuni nantinya setelah menginjakkan kaki di bangku kuliah.

Sebelum era 90-an telah sering dilaksanakan lomba bidang studi untuk mengasah kemampuan siswa pada mata pelajaran tertentu yang dilaksanakan bahkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar.

Memasuki era 90-an berbagai upaya yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan siswa, misalnya dengan mengadakan lomba cepat-tepat untuk tingkat SMA, namun kegiatan ini umumnya hanya di tingkat daerah (Provinsi).

Hingga di era 2000-an tepatnya setelah keberhasilan Indonesia menyelenggarakan Olimpiade Fisika Internasional (IPhO – International Physics Olympiad) yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2002 menginisiasi pelaksanaaan lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Penyelengaraannya diberbagai provinsi di Indonesia secara bergantian yang biasanya dijadwalkan pada sekitar bulan Mei Penguasaan siswa akan mata pelajaran tertentu semakin diuji dalam ajang yang mempertarungkan 9 bidang mata pelajaran.

Pada jenjang SMA meliputi bidang pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Astronomi, Komputer, Ekonomi, Ilmu Kebumian dan Geografi.

Dua materi yang dikompetisikan, Ilmu Kebumian dan Geografi dapat dipelajari secara khusus dalam bidang ilmu Geologi.

Perubahan kurikulum di Sekolah Menengah Atas yang memasukkan Ilmu Kebumian sebagai bagian dari mata pelajaran Geografi menjadikan mata pelajaran ini ikut diperlombakan di ajang OSN.

Dengan demikian para siswa harus menguasai materi tersebut sedangkan pelajaran mengenai Ilmu Kebumian terasa berat di kalangan pelajar apalagi tenaga pendidik dalam hal ini guru Geografi.

Kesenjangan pengetahuan timbul dikarenakan mereka umumnya tidak mempelajari secara khusus materi tersebut di bangku kuliah.

Dalam pemaparannya saat pembukaan kegiatan, Ketua Panitia Pelaksana Dr. Eng. Ilham Alimuddin, M.GIS, mengatakan bahwa materi yang diperlombakan di ajang Olimpiade sudah sangat kompleks.

Demikian pula dengan materi bidang Geologi, tata ruang dan kebencanaan menjadi isu nasional bahkan global yang senantiasa diberitakan oleh media massa. “Fenomena “gemstone” atau batu akik juga menjadi sorotan utama dan meningkatkan minat dari berbagai kalangan dan tingkatan status sosial masyarakat,” ujar Ilham.

Menilik berbagai ulasan tadi dan melihat fenomena yang berkembang di masyarakat khususnya di kalangan Pelajar dan Tenaga Pendidik di Sekolah Menengah Atas, maka dapat dikatakan beberapa permasalahan yang dialami Ilmu Kebumian sangat berat dipahami oleh anak didik karena buku panduan yang mereka gunakan berbasis Ilmu Kebumian dari penulis-penulis asing.

Keberadaan Guru Geografi sebagai tenaga pendidik dan fasilitator dalam kelas tidak mempelajari secara detail mengenai ilmu kebumian di perguruan tinggi.

Pelajaran Geografi tidak disajikan untuk kelompok IPA, sedangkan dalam ajang Olimpiade Sains Nasional diikuti oleh siswa dari kelompok IPA. Rasio tenaga pengajar Geografi di sekolah-sekolah masih belum seimbang.

Mirisnya lagi, Guru-guru Geografi tidak mengikuti/update dan upgrade pengetahuan mereka tentang ilmu kebumian dan aplikasinya yang semakin berkembang.

Tidak dapat dipungkiri fenomena yang berkembang di masyarakat dan serangkaian bencana alam dan mitigasinya memerlukan pemahaman ilmu kebumian khususnya Geologi, dan guru Geografi bisa menjadi pemberi informasi ke anak didik dan masyarakat setempat.

Hal-hal itulah yang mendasari pemikiran perlunya dilaksanakan kegiatan Pelatihan Dasar Geologi Untuk Guru Geografi yang pendanaannya dibiayai oleh BOPTN LP2M Universitas Hasanuddin.

Hajatan yang telah memasuki tahun keempat ini lokusnya di Kabupaten Bone setelah sebelumnya pada tahun pertama, kedua dan ketiga dilaksanakan di Kota Pare-pare, Sinjai dan Makassar.

Dalam kegiatannya, panitia mengundang seluruh Guru Geografi se Kabupaten Bone untuk mengikuti pelatihan selama 3 hari mulai 15 September 2017 yang berlangsung di aula SMA Negeri 3 Watampone yang sebelumnya adalah SMA Negeri 2 Watampone.

Pemateri terdiri dari 7 orang dosen dan 5 orang mahasiswa tingkat akhir yang memiliki keahlian mpuni dibidangnya masing-masing diantaranya Dr. Ulva Ria Irfan, Dr. Haerany Sirajuddin, Dr. Eng. Meutia Farida dan DR.Eng. Adi Maulana.
Adapun materi yang disajikan meliputi Geologi Sulawesi, Mineralogi, Petrologi, Pengenalan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan Citra Penginderaan jauh, Bencana Geologi dan Mitigasinya, Praktikum Mineral dan Batuan, latihan soal-soal dan pengisian kuesioner, serta kegiatan lapangan.

Peserta pelatihan yang berjumlah 30 orang sangat antusias mengikuti kegiatan demi kegiatan.
Selama proses kegiatan yang meliputi diskusi dan tanya jawab, terungkap bahwa guru-guru tersebut telah berusaha untuk mempelajari materi Ilmu Kebumian.

Namun demikian mereka masih kesulitan memahami materi disebabkan tidak adanya pengetahuan dasar tentang Ilmu Kebumian khususnya Geologi.

Sebelum penyajian materi, terlebih dahulu peserta diberikan pretest untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awalnya tentang ilmu kebumian.

Pada saat mengerjakan ujian terlihat para guru masih sangat kesulitan dalam menjawab soal. Setelah penyajian materi dan praktikum, dimana dalam praktikum mereka diberikan tatacara pemerian mineral dan batuan hingga penentuan nama batuan.

Hasil evaluasi, baik dari hasil diskusi maupun tes secara tertulis, menunjukkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman para guru. Mereka mampu menyelesaikan soal-soal meskipun masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Setelah sesi terakhir berupa pengisian kuesioner, pelatihan tersebut pun berakhir dan ditutup oleh Ketua Departemen Teknik Geologi, Dr. Eng. Asri Jaya. Dalam sambutannya Asri Jaya sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Harapannya capaian yang diperoleh sesuai dengan target yang mana adanya peningkatan kapasitas keilmuan baik guru geografi maupun beberapa peserta anak didik. Pemahaman guru Geografi dan anak didik tentang pentingnya ilmu kebumian seperti aspek bencana alam dan mitigasi bencana geologi dapat meningkat.

Tentunya para guru dan siswa lebih memahami potensi sumberdaya alam dan mineral daerah mereka termasuk kebencanaan geologinya. “Mudah-mudahan berbekal pelatihan ini target untuk meraih medali sebanyak-banyaknya di OSN XVII tahun 2018 Padang, Sumatera Barat dapat tercapai,” ujar Asri.

Untuk tingkat nasional dilaksanakan dengan peserta menurut passing grade yang telah ditentukan oleh Kemdikbud yang akan memperebutkan 30 medali; 5 emas, 10 perak, dan 15 perunggu.
Selanjutnya pemenang berhak mewakili Indonesia di ajang internasional.
Tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia (TOIKI) mewakili Indonesia ke ajang IESO sedang Tim Olimpiade Geografi Indonesia (TOGI) yang mewakili Indonesia ke ajang IGeO.

“Medali OSN harus menjadi capaian bukan sekedar target,” pungkas Ilham.

Click to comment
To Top