Mengenal Masjid Tua Al Mujahidin Watampone. Pusat Ibadah dan Syiar Islam – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Mengenal Masjid Tua Al Mujahidin Watampone. Pusat Ibadah dan Syiar Islam

Masjid Tua Al Mujahidin yang terletak di Jl Sungai Citarum, Watampone dipadati jemaah shalat Tarwih, Jumat malam, 11 Mei lalu. Pihak panitia menyediakan tenda bagi jemaah yang tidak tertanpung di dalam masjid. (Foto Usman Sommeng)

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Masjid Tua Al Mujahidin kini masih berdiri kokoh di Jl Sungai Citarum, Watampone. Ini merupakan masjid tertua di Bumi Arung Palakka.
Lokasi masjid ini cukup dekat dengan pusat kota. Dari rumah jabatan bupati, bisa diakses dengan berjalan kaki. Masjid ini berada tepat di perempatan Jl Sungai Citarum dan Jl Sungai Cenrana.
Dikutip dari situs web telukbone.id, Masjid tersebut dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-13, La Maddaremmeng yang berkuasa 1631-1644.

Pada masa inilah awal mula agama Islam diajarkan kepada keluarga kerajaan dan rakyat Kabupaten Bone saat itu, sehingga masjid ini menjadi pusat pembelajaran Agama Islam.
Pada waktu itu Kerajaan Bone dikuasai Kerajaan Gowa, namun Raja Bone masih diperkenankan menjalankan kekuasaan sendiri dan tidak dibebankan upeti dan lain-lain.
Setelah La Tenripale mangkat, maka diangkatlah La Maddaremmeng sebagai Raja Bone Ke-13 (1632-1640) yang masih keponakan dari Raja Bone ke-12 La Tenripale yang berkuasa tahun 1616-1631 Masehi.

Seiring waktu selanjutnya dikembangkan tahun 1890 pada pemerintahan Raja Bone Ke-30 We Fatimah Banri Datu Citta Matinroe ri Bolampare’na, 1871-1895, dan seterusnya Raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaeng Sigeri Matinroe ri Bandung, 1895-1905 Masehi.

Masjid Tua Al Mujahidin dikalangan masyarakat Bone lebih populer dengan nama Masjid Laungnge, artinya Masjid Tua.
Masjid ini sejak masa kerajaan Bone, di samping sebagai tempat beribadah juga digunakan sebagai tempat syiar agama Islam dan musyawarah hingga kini.
Sebelumnya Kerajaan Bone resmi masuk Islam pada tanggal 23 November 1611 Masehi, yang bertepatan dengan tanggal 2 Ramadan 1020 Hijriah, pada masa`pemerintahan La Tenriruwa Sultan Adam, Matinroe ri Bantaeng yang berkuasa pada tahun 1611-1616 Masehi. La Tenriruwa adalah sepupu Ratu Bone ke-10 We Tenrituppu MatinroE ri Sidenreng yang berkuasa tahun 1602-1611 Masehi. Bahkan We Tenrituppu adalah Ratu Bugis yang pertama menerima Islam.

Ketua Pengurus Masjid Al Mujahidin Watampone, Mahyudin Syahid membenarkan masjid tersebut dibangun pada masa Raja Bone ke-13, La Maddaremmeng (1631-1644).
“Masjid ini dibangun pada tahun 1639 Masehi oleh Raja Bone ke-13. Di sinilah awal mula diajarkan agama islam kepada keluarga kerajaan dan rakyat kabupaten Bone saat itu,” kata Mahyudin saat ditemui di Masjid Al Mujahidin, Minggu, 12 Mei Kemarin

Demi memperkenalkan agama Islam secara luas di Kabupaten Bone, saat itu raja mendatangkan ulama dari Kerajaan Gowa-Tallo. “Raja saat itu mendatangkan Kadi atau ulama langsung dari Kerajaan Gowa Tallo yang lebih dahulu memeluk Islam,” jelasnya.

Kendati sudah dilakukan pemugaran, pihak pengurus masjid masih mempertahankan peninggalan dan keaslian masjid. Salah satunya luas masjid hampir sama dengan bangunan Ka’bah di tanah suci Mekkah. “Bangunan induk, kecuali selasar masjid ya, luasnya hampir sama dengan Ka’bah,” tutur Mahyuddin.

Tak hanya itu, dua guci keramik peninggalan Dinasti Ming juga tetap terpasang sebagai ornamen masjid. Satu guci berada di puncak kubah, satunya lagi terpasang di atas mimbar di dalam masjid. “Itu keramik peninggalan Dinasti Ming,” beber Mahyuddin.

Untuk lebih memperkenalkan masjid kepada masyarakat luas, termasuk para pendatang, pihak pengurus tengah menggagas pembuatan prasasti yang berisi sejarah singkat masjid ini. Prasasti nantinya akan dipasang di bagian depan mesjid, sehingga mudah ditangkap pandangan mata. Prasasti ini sekaligus menjadi corong informasi bagi masyarakat untuk mengenal masjid tua sebagai saksi perjalanan awal Agama Islam di Bumi Arung Palakka.

Kini, Masjid Tua Al Mujahidin menjadi salah satu pusat ibadah yang selalu ramai dikunjungi jemaah, tidak terkecuali dua pemimpin daerah ini. Bupati Bone Dr HA Fahsar Mahdin Padjalangi dan Wakil Bupati, Drs H Ambo Dalle MM kerap menunaikan shalat lima waktu di masjid ini.
Di masjid ini pula tetap berlangsung aktivitas pendidikan islam yang berlangsung di sore hari dan pengajian pada malam-malam tertentu. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top