Mengenal Segitiga Bermuda di Sungai Walannae – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Mengenal Segitiga Bermuda di Sungai Walannae

RADARBONE.CO.ID_CENRANA–Sungai Walannae menjadi urat nadi perekonomian masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai ini. Sungai terpanjang di Sulawesi Selatan itu, menjadi tumpuan masyarakat yang hidup dari mata pencaharian petani, nelayan dan petambak.

Sungai Walannae memiliki banyak anak sungai, diantaranya Sungai Cenrana dan Sungai Watu. Masyarakat setempat bahkan menyebut pertemuan tiga arus sungai itu sebagai segitiga bermuda.

Betapa tidak, banyak korban tenggelam di Sungai Walannae ditemukan tidak jauh dari pertemuan tiga arus sungai ini.

Sungai Walannae juga menyimpan sejuta misteri. Termasuk penunggu dari sungai ini yang masyarakat menyebutnya sebagai Taurisalo. Taurisalo adalah nama lain untuk menyebut buaya, Tao artinya orang, salo berarti sungai. Sehingga Taurisalo adalah orang sungai yang merujuk pada buaya.

Jika Harimau di Sumatera diyakini oleh orang Minang sebagai leluhur, saudara dan pelindung mereka, maka orang Bugis pesisir pun melihat buaya sebagai pelindung mereka untuk beraktivitas di atas air. Mereka yang meyakini memiliki saudara berbentuk buaya akan merasa aman atau tidak meninggal dalam air, karena memiliki saudara yang bisa membantu mereka.

Kisah di atas pada dasarnya memperlihatkan hubungan antara manusia dengan alam. Taurisalo sebagai representasi dari alam memperlihatkan hubungan yang saling menghargai. Buaya atau Taurisalo penghuni sungai atau seringkali disebut “punna uwwae” (pemilik air). Buaya juga menjadi penanda akan datangnya banjir atau musibah. Kehadiran buaya dalam jumlah besar yang menampakkan diri berenang dari hulu ke muara sungai Cenrana menjadi penanda akan terjadi banjir yang besar, demikian sebaliknya, jika rombongan buaya dari muara ke hulu sungai sampai danau tempe, pertanda bahwa banjir akan surut.

Bagi orang Bugis pesisir kehadiran buaya telah memberi peringatan, semacam alarm sebelum dan sesudah musibah banjir. Sebagai timbal baliknya, orang-orang Bugis pesisir memiliki tradisi menghargai sungai, sepertli membuang telur dalam sungai, upacara memandikan bayi di sungai (mappanoo ana’lolo), dan beragam lagi tradisi kuno yang nyaris tidak kita jumpai lagi sekarang ini.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top