Mengikuti Jejak Sang Cucu, Kini Jadi Penghuni Sungai Tallewo – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Mengikuti Jejak Sang Cucu, Kini Jadi Penghuni Sungai Tallewo

Rumah panggung yang berdiri di bibir Sungai Tallewo, Dusun Tallewo Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe ini adalah milik Kasir, warga setempat yang meyakini buaya penghuni sungai adalah kembaran kakeknya.

Cerita Dibalik Munculnya Buaya di Permukiman Penduduk (SELESAI)

Kehadiran Kasir di Dusun Tallewo, Desa Tawaroe, Kecamatan Dua Boccoe ternyata diam-diam diikuti oleh sang kakek yang berwujud buaya. Warga asal Desa Kampubbu, Kecamatan Cina itu menetap di Tawaroe setelah mempersunting seorang gadis setempat sebagai istrinya, dua tahun lalu.

HERMAN, Dua Boccoe

Sebelum pindah sekaligus menetap Dusun Tallewo Desa Tawaroe, Kecamatan Dua Boccoe, Kasir sudah diberitahu orangtua, bahwa dia memiliki kakek berwujud buaya.  Perpindahan Kasir ke Tallewo tak berarti memutus hubungan sang kakek. Buaya yang memiliki panjang 3 meter ditemukan warga Tallawo di jalan diyakini Kasir, bahwa itu adalah kakeknya.

“Dia mengikuti saya ke sini (Tallewo). Memang sudah lama saya diberi tahu sama orang tua bahwa dia (Buaya) merupakan kembaran kakek. Memang lain dari pada yang lain dia punya prilaku menyerupai manusia, seperti ketika mandi di sungai tiba-tiba muncul. Bahkan pernah juga datang ke rumah sampai tangga kemudian dia buka mulutnya setelah diberi telur turun lagi ke sungai,” cerita Kasir.

Untuk mengikuti Kasir, buaya tersebut memang tak menemukan kendala. Maklum, Kasir kini menetap di bibir Sungai Tallewo, yang tak lain adalah anak Sungai Walanae. Kasir tinggal bersama istri di sebuah rumah panggung, tetap di pinggir sungai.
Adanya hubungan emosional Kasir dengan buaya yang ditemukan warga di jalan, diperkuat dengan salah seorang warga setempat.

“Iya, memang baru dua tahun muncul buaya di sini. Dan betul bersamaan dengan datangnya pak Kasir berdomisili di daerah ini (Tallewo). Memang bisa jadi bahwa buaya itu merupakan turunannya. Hanya saja kami tetap merasa was-was,” tutur Cahril.
Tak hanya warga setempat yang cemas dengan kehadiran sang buaya.

Warga yang berdomisili di Desa Pallime Kecamatan Cenrana turut merasa was-was. Warga Pallime tidak khawatir dengan ancaman buaya yang sewaktu-waktu bisa berubah beringas jika ada yang menggangu. Namun warga percaya jika buaya muncul di sungai kecil atau anak sungai Walannae maka diyakini akan datang musim kemarau berkepanjangan. Dan jika terjadi, maka penduduk setempat akan membeli air bersih ke desa tetangga seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lampau.

“Kalau buaya muncul di su-ngai kecil bukan pertanda banjir, melainkan pertanda akan datang musim kemarau dan kami membeli air bersih,” tutur Malik, seorang warga Desa Pallime, Kecamatan Cenrana.
Malik mengatakan, bahwa warga pesisir sungai percaya ketika buaya muncul maka dipastikan akan datang mara bahaya seperti banjir dan kemarau. Jika di sungai besar, seperti Walannae buaya muncul maka pertanda akan datang banjir, jika di sungai kecil maka akan datang kemarau berkepanjangan.

“Kalau di sungai besar muncul pasti hujan. Kalau di sungai seperti itu, habis siap-siap lagi warga di sini untuk beli air bersih. Apalagi kalau sampai buayanya naik ke permukaan, itu sudah pertanda musim kemarau panjang,” tambahnya.

(*)

To Top