Menguak Bisnis Prostitusi Di Bone – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Menguak Bisnis Prostitusi Di Bone

ilustrasi

Karaoke Tempat Transaksi Paling Aman

WATAMPONE, RB–Kalangan Pekerja Seks Komersial (PSK) di daerah ini menggunakan modus baru dalam menggaet pelanggan. Mereka menawarkan jasa sebagai pemandu karaoke sebelum berlanjut ke hotel.

Menjamurnya bisnis karaoke saat ini membawa berkah tersendiri bagi PSK di daerah ini. Wanita-wanita muda yang selama ini menjalankan praktik prostitusi berkedok karyawan salon. Kini menemukan cara baru untuk menggaet pelanggan. Mereka cukup mangkal di rumah bernyanyi atau karaoke untuk menunggu pelanggan. Mereka menawarkan jasa memandu karaoke Rp100 ribu perjam. Selain itu, pelanggan juga menanggung biaya minuman dan rokok selama karaoke berlangsung. Cara ini dilakukan cukup halus, sehingga tidak tercium pengelola karaoke.
Salah seorang PSK Karaoke berinisial Ir (23), mengatakan dirinya beralih ke karaoke sebagai tempat transaksi, setelah pelanggan di salon sepi.”Sejak awal 2015 lalu saya menerima jasa pemandu karaoke. Awalnya kami bertiga dengan teman. Kerja nyambi, selain kerja di salon juga terima panggilan karaoke,” katanya saat ditemui RADAR BONE di bilangan Jl Majang Watampone belum lama ini.
Wanita yang mengaku warga Kelurahan Watangpalakka menambahkan dirinya memilih bertransaksi di room karaoke karena dianggap aman.
“Kalau kenal dekat biasanya setelah karaoke atas lanjut booking kamar kemudian karaoke bawah,” tuturnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Janda muda kelahiran Maret 1994 ini menerangkan tidak semua pelanggan karaoke-nya bisa diajak kencan di hotel. Sebagai penduduk lokal, dirinya harus pintar-pintar memilih pelanggan, supaya tidak terjebak atau ketahuan dengan kerabat dan keluarganya di daerah ini.
“Kalau melalui media sosial, kadang teman yang memesankan. Saya tidak mau asal terima, kalau cowoknya agresif kami berfikir dulu jangan sampai mau dijebak,” tambahnya.
Dalam sehari, wanita yang akrab disapa Leli mengakui, dalam sehari mendapat cas karaoke sebanyak tiga sampai empat kali.
“Biasa juga kalau langganan, satu kali dibooking tapi sampai tiga jam. Kalau pelanggan juga mau tuntaskan di kamar harus sediakan uang Rp300 ribu belum termasuk bayar kamar, itu satu kali nembak,” terang, wanita yang mengaku satu tahun bekerja di salon itu.
Pengakuan lain disampaikan, Riskha (nama samaran). Dia menceritakan awalnya dia terjun menjalani bisnis esek-esek via room, karena kecanduan berkaraoke. Tak jarang dia memasang status di media sosial untuk mendapatkan pelanggan.
“Karena biasa kami mau karaoke tapi lagi kere. Makanya saya suruh teman bikin status di BlackBerry Mesangger (BBM) yang berbunyi ‘Siapa mau culik ka karaokean’. Setelah ada pria yang coment status itu, kami ajak transaksi dengan tarif Rp50 ribu perjam. Namun karena banyak permintaan kami sepakat menaikan tarif menjadi Rp100 ribu perjam,” bebernya.
Riskha yang awalnya enggan terbuka dengan pekerjaannya tersebut. Akhirnya perlahan-lahan mulai terbuka dengan penulis.
“Sebenarnya saya tidak menerima cas melebihi karaoke. Namun ada teman saya menerima jasa seperti itu. Kalau mau bisa saya pertemukan,” ucapnya seraya mengajak RADAR BONE menemui rekannya.
Setelah dipertemukan dengan rekannya bernama Risna (nama samaran), Keduanya pun mengakui kerap melakukan transaksi, kendati masih sembunyi-sembunyi.
“Biar pergaulan hancur. Namun kami juga masih punya rasa malu. Jadi kalau ada pria langsung-langsung mengajak bookingan seperti itu pasti kami tolak. Jadi sistemnya melalui teman, kalau teman yang hubungi pasti kami berlima dengan teman terima,” cerita Risna.
Risna mengakui, pelanggannya dari berbagai kalangan. Mulai mahasiswa, pengusaha, pejabat hingga kepala desa.
“Ada juga kepala desa dari Bone bagian Selatan. Selain itu banyak pengusaha muda yang biasa mengajak. Kalau langganan tinggal kasi kode saja. Kemudian ketemu di room dan lanjut ke kamar hotel,” tandasnya.
Jaringan Risna bersama empat orang rekannya termasuk kelompok elit di banding jaringan lain yang beroperasi di daerah ini. Mereka tak mau menerima bookingan jika bermain di wisma. Alasannya sederhan, takut terjaring razia.
“Kalau hotel aman, kami tidak mau main kalau di wisma apalagi kost,” terangnya.
Riskha menambahkan ada sejumlah kelompok PSK karaoke yang beroperasi di daerah ini.
“Banyak jaringan. Pemilik rumah bernyanyi tidak tahu mereka mungkin menyangka kalau pasangan yang datang itu pacaran. Padahal sebenarnya tidak,” urainya/
Riskha mengaku dengan membayar Rp100 ribu perjam maka pelanggan boleh mengajak bercumbu di dalam room.
“Hanya satu tidak boleh dilakukan di dalam room, yiakni berhubungan badan. Kalau yang lain boleh, mau ciuman, peluk boleh, apalagi kalau gadisnya juga sudah mabuk,” terangnya.
Keberadaan wanita penghibur di tempat karaoke tersebut, diakui seorang pelanggan berinisial Yd (30). Pengusaha muda ini mengaku, dirinya kerap melakukan transaksi di room karaoke jauh lebih aman dibandingkan dengan tempat lain.
“Kalau saya memang ada langganan khusus jadi tinggal hubungi, lalu transfer uang terus gadis itu yang buka room. Kemudian saya datang sendiri jadi keluarga tidak curiga,” terangnya.
Pria berkeluarga ini mengaku setiap awal bulan dirinya membooking wanita langganannya.
“Awalnya karaoke. Setelah itu saya negosiasi kamar dengan hotel supaya bisa dapat harga perjam lalu main,” jelas dia.
Yd mengaku. berhubungan dengan PSK karaoke dnilai jauh lebih aman, dibanding berpacaran dengan gadis.
“Saya punya isteri. Kalau gadis itu saya ajak pacaran maka potensi merusak keluarga besar jadi mending bayar supaya tidak ada tanggungjawab di belakang,” bebernya ringan.

radarboneherman@gmail.com
=======

To Top