Mengungkap Bisnis Prostitusi Berkedok Warkop – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Mengungkap Bisnis Prostitusi Berkedok Warkop

Warkop ini tampak sepi ketika pengunjung naik ke lantai II. Diduga mendapt pelanan plus dari pelayan.

PENULIS : HERMAN KURNIAWAN

WATAMPONE, RB—Bisnis prostitusi tak pernah mati. Setelah daya tarik penginapan sebagai tempat menjalankan praktik esek-esek memudar. Para pekerja seks komersil (PSK) pun memanfaatkan tren bisnis warung kopi (Warkop) sebagai cara baru memikat pria hidung belang.

Prostitusi berkedok warung kopi (Warkop) ditengarai beroperasi di daerah ini. Sebuah rumah toko di bilangan Jl Salak diduga menjadi tempat bisnis prostitusi terselubung. Ruko bercat berwarna kuning itu memang tampak seperti warkop biasa. Namun siapa sangka di lantai II dijadikan sebagai tempat menikmati kopi plus.

Ketika diamati dari depan, bangun tersebut tampak tidak bertingkat. Namun setelah masuk ternyata bangunan baru tersebut berlantai dua.
Hasil penelusuran RADAR BONE menemukan, di lantai II terdapat dua kamar. Dua kamar inilah yang diduga kuat sebagai tempat PSK melayani pria hidung belang. Berbeda dengan warkop pada umumnya, warkop ini ha-nya beroperasi mulai pukul 9.00-17.00 Wita.

Untuk menunya, hampir sama dengan warkop lainnya, yakni tersedia minuman dingin dan panas dengan harga Rp10 ribu per gelas.
Saat RADAR BONE bertandang di warkop tersebut, Sabtu 7 Mei lalu sekira pukul 11.30 Wita. Pemilik warkop yang merangkap jadi pelayan, berinisial AS langsung pun menyambut hangat. Wanita dewasa ini mendekati meja yang ditempati RADAR BONE seraya menawarkan menu. Sedangkan dua meja lain di tempati pengunjung lain.

Setidaknya siang itu, hanya tiga meja yang terisi.
Nyaris tak ada gerak-gerik mencurigakan ditunjukkan pemilik warkop beserta seorang pelayan lain ketika RADAR BONE memesan minuman.Gelagat mencurigakan muncul, ketika seorang pengunjung yang datang bergegas masuk ke ruang dapur, kemudian naik ke lantai dua. Setelah berse-lang sekira setengah jam, pria yang diperkirakan berusia 40-an tahun itu, lalu turun dengan keri-ngat bercucuran di wajahnya.

Pria yang datang bersama rekannya tersebut diikuti dari belakang oleh seorang karyawan warkop sambil membawa uang pecahan Rp50 ribu sebanyak tiga lembar. Kemudian uang itu diserahkan ke pemilik warkop yang duduk di meja kasir dengan mengenakan kaos warna merah.
Setelah satu persatu pengun-jung meninggalkan warkop, pemilik warkop yang diketahui berinisail As menghampiri meja yang ditempati RADAR BONE. Dia lalu menawarkan jasa tempat beristirahat di lantai II.

“Naik ki ke atas (Lantai dua) istirahat,” ajak wanita bahenol itu sambil menyingkirkan gelas bekas minuman pengunjung lain yang sudah keluar.
Ajakan pemilik warkop tersebut semakin menimbulkan kecurigaan jika di lantai II ada layanan plus.
Tak berselang lama, setelah pemilik warkop mengajak ber-istirahat di lantai II. Lalu muncul seorang pelayan warkop lainnya berinisial IT. Di luar dugaan ini, IT secara terbuka menceritakan aktivitasnya sebagai PSK berkedok warkop.

“Kalau mau naik ke lantai dua sediakan uang Rp150 ribu. Hari ini, saya cuma berdua de-ngan pemilik warkop, dua orang karyawan lain lagi libur,” kata wanita yang diperkirakan berusia 30-an tahun itu. Single parent asal Kelurahan Bajoe ini menyebut dirinya dengan sebutan ‘Janda Perawan’ karena tidak memiliki anak. Dia mengaku, terkadang melayani sampai lima pelanggan dalam sehari.
“Hari ini sepi, biasanya ba-nyak PNS dan kadang sopir mobil ke sini. Mereka om-om semua dan beristeri. Ibarat kata, pelanggan tidak puas makan ikan masak, mau juga ikan goreng atau pepes,” tambah wanita berkawat gigi tersebut.

Wanita yang hanya menge-nakan kaos warna hitam ini, tak sungkan-sungkan mengajak pe-ngunjung untuk menikmati kopi plus di lantai II.
“Naik maki pale, karena lagi hujan. Ajakmi juga itu temanmu.” ajaknya sambil menunjukkan ekspresi genit.
IT dan AS mengaku sudah lama bekerja sebagai PSK. Namun sebelumnya, mereka melakoni bisnis esek-esek di salah satu penginapan di bilangan Jl Gunung Kinibalu.

“Baru beberapa bulan di sini, dulu tinggal di pondok Manurung. Bukan salon, tapi langsung begitu (berhubungan seks). Tidak lama lagi kami akan pindah ke Macanang dekat lampu merah, sistemnya sama cuma tempatnya pindah,” tambah IT.
Selain melayani pelanggan di warkop, dia kadang mengajak pria hidung belang ke kamar kost-nya di bilangan Jl Jenderal Sudirman.
“Kalau malam, terus malas keluar rumah, kadang saya ajak pelanggan ke kost, bayarannya tetap sama Rp150 ribu, plus kue dan teh panas,” terangnya.

IT juga mengaku menerima pelanggan di hotel dengan tarif lebih tinggi yakni Rp200 ribu per sekali cas.
“Mahal kalau wanita di-ajak keluar, bayar kamar hotel Rp100 ribu tambah perempuan Rp200 ribu jadi pengeluaran banyak,” ujarnya.
Faktor kebutuhan hidup menjadi alasan utama, wanita berstatus janda itu, hingga memutuskan menggeluti pekerjaan sebagai wanita pemuas nafsu pria hidung belang. “Mengerti saja karena inilah kerjaan yang saya lakukan untuk mendapatkan uang. Karena uang itu tidak langsung dipungut saja, harus berusaha. Oknum polisi saja kalau ‘ken-ken’ (berhubungan badan) tetap bayar karena mereka mengerti pekerjaan seperti ini,” bebernya.

Selain diduga dibekingi oknum petugas, Warkop ini juga ditengarai menjadi lahan bagi sejumlah oknum wartawan yang setiap saat datang meminta upeti.
“Kalau wartawan datang tidak nafoto jaki. Datang saja minta uang setelah itu pergimi. Tidak lama kemudian datang lagi temannya minta juga jatah. Itu wartawan tidak ada mentong gajinya mungkin, karena kadang satu mobil datang minta uang,” urainya.
Sebagai PSK, IT mengaku merasa dirugikan oleh petugas yang kerap melakukan penggerebekan.

“Saya pernah bertanya ke seorang anggota polisi yang datang ke kost. Kenapa sih perempuan seperti ini selalu digerebek pak?. Padahal kami tidak mencuri, barang sendiri yang dijual tidak ada dirugikan. Kalau punya saya sakit, kan saya yang rasakan, bukan orang lain. Dosanya juga ditanggung sendiri,” jelasnya sambil tertawa.
Salah seorang pengunjung warkop ini berinisial, AL me-ngaku sudah berlangganan de-ngan seorang karyawan warkop tersebut berinisial NS
“Saya sudah sejak 2015 langganan di sini, ada pelayannya masih ABG. Setiap datang, dia yang layani,” tuturnya.

Selain karena pelayannya berparas cantik, AL memilih menjadi langganan warkop tersebut lantaran keamanan terjamin.
“Keamanannya dijamin, ada oknum keamanan yang jaga setiap hari. Kalau mau main bisa ganti-gantian dengan teman,” tutupnya.
Kehadiran warkop ini sebenarnya sudah menjadi buah bibir warga di sekitarnya.

Apalagi, warkop tersebut berada tepat di depan masjid.
“Saya memang kadang heran karena setiap hari banyak ken-daraan terparkir di depan warkop tapi tidak ada orang terlihat di dalam. Kalau memang betul ada prostitusi harus disuruh tinggalkan lokasi ini karena berdekatan masjid,” tutur H Rahman, salah seorang jamaah masjid setempat.

Dia sangat menyayangkan jika ada praktik prostitusi yang berlangsung di tengah perkampungan warga.
“Di sini masuk wilayah kota. Namun nilai-nilai Agama Islam masih kental, jadi tolong jangan dinodai. Polisi harus turun ta-ngan,” tegasnya.

Most Popular

To Top