Nasib Nelayan Bone Yang Ditahan di Fakfak Divonis Tujuh Bulan Penjara, Denda Rp50 Juta – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Nasib Nelayan Bone Yang Ditahan di Fakfak Divonis Tujuh Bulan Penjara, Denda Rp50 Juta

PENULIS : BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Proses persidangan terhadap sejumlah nelayan asal Bone yang ditangkap di perairan Fakfak, Papua Barat di Pengadilan Negeri setempat telah berakhir. Para nelayan yang berasal dari 12 kapal yang ditahan divonis tujuh bulan penjara dan denda Rp50 juta per kapal.

Putusan majelis hakim lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya menuntut nelayan pidana penjara tiga tahun.

Informasi ini disampaikan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bone, HA Abbas saat kepada RADAR BONE, Senin, 14 Januari lalu. “Jaksa tidak menerima keputusan hakim disebabkan tuntutan jaksa, yakni penjara tiga tahun. Namun keputusan hakim hanya penjara tujuh bulan dan didenda Rp50 juta. Sehingga atas keputusan itu jaksa menyatakan banding,” kata Abbas.

Diakui Abbas, para nelayan dari 12 kapal tersebut sempat ditahan di Lapas Kabupaten Fakfak selama 45 hari sejak Agustus 2018. Namun pada awal Desember 2018, mereka dibebaskan dan akhirnya bisa kembali ke kampung halaman di Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur. Hanya saja, kata Abbas, kapal yang berjumlah 12 unit masih ditahan.Kapal-kapal nelayan tersebut, sambung Abbas akan dilepas jika telah membayar denda masing-masing Rp50 juta per kapal.

“Olehnya itu sekarang nelayan menunggu pendampingan dari pemerintah. Agar denda yang diputuskan hakim tidak jadi. Karena nelayan yang berangkat di sana itu semua mempunyai kelengkapan kapal. Hanya saja ada peraturan kerja sama antar provinsi tidak jalan. Pada saat itu tidak ada surat tembusan ke Provinsi Sulawesi Selatan sehingga instansi terkait tetap membuatkan dokumen kepada nelayan,” kata Abbas.

Abbas menegaskan, pemerintah daerah sejatinya memberikan pendampingan hukum, karena pelanggaran yang dibuat bukan atas kesalahan nelayan.

“Ini bukan kesalahan nelayan, karena semua kelengkapan kapalnya dilengkapi sebelum berangkat. Makanya nelayan minta pendampingan dari pemerintah, namun sampai sekarang belum ada respon dari pemerintah,” jelas Abbas.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top