Negosiasi Lahan Untuk Pengembangan Bandara Berjalan Alot. Warga Tolak Jual Tanahnya Dengan Harga Murah – Radar Bone

Radar Bone

Berita Utama

Negosiasi Lahan Untuk Pengembangan Bandara Berjalan Alot. Warga Tolak Jual Tanahnya Dengan Harga Murah

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Pengembangan bandara Arung Palakka terancam tersendat. Warga pemilik lahan menolak menjual lahannya sesuai harga yang dipatok pemerintah. Mereka menilai harga jual tersebut terlalu rendah.

Diketahui, pemerintah daerah, berupaya melakukan pembebasan lahan untuk kepentingan pembangunan akses jalan utama masuk bandara di Desa Mappalao Ulaweng Kecamatan Awangpone. Akses jalan utama tersebut rencananya akan dibangun di wilayah Desa Lappo Ase-Mappalao Ulaweng, tepatnya disisi barat bandara tersebut.

Negosiasi dilakukan antara pemerintah daerah dengan warga. Lembaga kejaksaan dan pengadilan turut dilibatkan untuk menyakinkan warga agar mau melepas tanahnya. Lantaran harga yang ditawarkan pemerintah daerah dinilai rendah, musyawarah yang berlangsung di Aula Bandara Mappalao Ulaweng, Selasa 23 Juli itu, akhirnya berjalan alot.

Warga yang menolak, memilih meninggalkan lokasi bandara. Mereka tetap bertahan dan meminta tanah mereka dibeli dengan harga tinggi.

Salah seorang pemilik lahan, Darman mengaku tanah miliknya yang luasnya mencapai 10 are lebih, hanya dihargai Rp9 juta lebih. Sedangkan tanah tersebut dia beli dengan harga sebesar Rp47 juta.

“Kami bukannya tidak mau menyerahkan tanah ini untuk kepentingan bandara. Kami mau asalkan harganya sesuai. Ini terlalu murah. Andaikan pemerintah bisa membeli harga mahal, maka kami akan serahkan,” jelasnya.

Senada diungkapkan warga lainnya, Sarifuddin. “Saya tidak akan jual kalau harnya tidak sesuai. Tidak ada masyarakat mau jual tanahnya jika hanya harga Rp53 ribu per meter,” terangnya.
Warga lainnya, Darwis mengaku, pemerintah daerah terkesan memaksa warga untuk menyerahkan lahannya dengan harga murah.

“Kemarin memang kita sama-sama pergi mengukur, tapi waktu itu belum ada harga dibicarakan. Nah di pertemuan tadi, langsung dibicarakan harga. Masa tanah saya hanya dibeli Rp53 ribu permeter. Saya tidak mau jual kalau dibawah Rp500 juta. Kalau dipaksa, tentu kita akan tempuh upaya hukum,” tegasnya.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bone, Hj Nurni Farahyanti SH MH menegaskan, harga tanah yang ditawarkan itu sesuai dengan keputusan bersama dan itu sesuai dengan harga tanah yang ada di daerah ini.

“Makanya hari ini kami membantu masyarakat untuk mendampingi dalam pembebasan lahan ini. Kami berikan kesempatan untuk menyampaikan permintaannya. Tapi jika masyarakat tidak mau, tentu harus melalui pengadilan. Kita beri waktu 14 hari untuk masyarakat berpikir,” ujar Nurni.

Terpisah, Wakil Bupati Bone, Drs H Ambo Dalle MM yang hadir pada sosialisasi itu, juga berharap tercapai kesepakatan, untuk kepentingan pengembangan bandara.

“Kami mau melihat bandara akan lebih maju supaya perekonimian juga akan lebih bagus,” kata Ambo Dalle.

Ia juga menjelaskan, anggaran untuk pembebasan lahan bandara, telah disiapkan pemda. Nominalnya mencapai Rp2 miliar lebih. Itu kata Ambo Dalle untuk membayar ganti rugi lahan milik warga.

Adapun panjang jalan untuk pembangunan akses utama jalan masuk bandara, mencapai 1,4 kilometer.

“Untuk pembangunan jalannya, tetap menjadi kewenangan pihak bandara. Kita hanya siapkan anggaran untuk pembebasan lahannya,” terang mantan Ketua DPRD Bone itu yang juga putra asli Kecamatan Awangpone.

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (KUPBU) Ditjen Perhubungan Udara, Kemenhub, Sarmin mengatakan, bandara harus memiliki akses utama sendiri. Ia juga menyebutkan, saat ini bandara telah memiliki lahan sendiri sepanjang 500 meter untuk pembangunan akses utama jalan masuk bandara.

“Sisa 1,4 kilometer dan ini yang diupayakan untuk segera dibebaskan lahannya. Untuk pembebasan lahannya, itu menjadi kewenangan pemda. Kalau untuk pembangunan jalannya, itu tanggungjawab pihak bandara nantinya,” kunci mantan KUPBU Matahora Wakatobi itu.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top