Pemkab Diminta Genjot Pariwisata – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Pemkab Diminta Genjot Pariwisata

Dongkrak Penerimaan PAD

PENULIS : AGUSTAPA

WATAMPONE, RB—Kabupaten Bone sesungguhnya memiliki sederet obyek wisata alam yang menjanjikan. Sayangnya, hingga kini belum dikelola maksimal pemerintah daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah. Padahal, jika sektor pariwisata dikelola secara serius, diyakini akan mendongkrak penerimaan PAD ke depan.

Satu persatu obyek wisata alam mencuat ke publik. Setelah air terjun kembar di Desa Tellu Boccoe Kecamatan Ponre heboh oleh warga setempat yang secara tak sengaja menemukan lokasinya. Seolah tak mau kalah, warga di Desa Mattaro-puli juga memunculkan obyek wisata serupa, yakni air terjun Alekale yang terletak di Dusun Alekale, Desa Mattaropuli, Kecamatan Bengo.

Air terjun Alekale berjarak sekira 5 kilometer dari jalur poros Bone-Makassar. Tak berbeda jauh dengan air terjun kembar di Tellu Boccoe yang masih ‘perawan’. Air Terjun Alekale pun demikian. Untuk mencapai lokasi tersebut, harus melewati perkampungan warga dan hutan disertai bebatuan cadas. Air terjun tersebut memiliki ketinggian kurang lebih 35 meter dari permukaan tanah.
Untuk menjadikan Air Terjun Alekale sebagai destinasi wisata baru di Bone cuma butuh sentuhan infrastruktur jalan.
Camat Bengo, Andi Rahmatullah optimis air terjun Alekale akan menjadi ikon wisata baru di Bone, jika infrastruktur jalan menuju ke lokasi itu dibenahi.

“Saat ini air terjun tersebut memang belum bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan baik itu motor maupun mobil, dengan kata lain untuk menuju lokasi air terjun harus berjalan kaki sepanjang 2 kilometer dari perkampungan warga, sehingga hal inilah yang perlu diupayakan agar mudah terjangkau,” tutur Rahmatullah beberapa waktu lalu.

Yang terbaru menjadi perbincangan warga, bahkan menjadi viral di media sosial adalah lokasi permandian di Desa Ureng, Kecamatan Palakka yang dinamakan ‘Salo Merungnge’. Gambar keindahan panorama di Salo Merungnge sudah ramai diunggah di medsos. Bahkan, netizen menyandingkan keindahan panorama Salo Merungnge dengan Gua Pindul di Gunung Kidul, Yogyakarta yang sudah terkenal seantero nusantara.

Bupati Bone, Dr HA Fahsar Mahdin Padjalangi bahkan turut mengomentari keindahan panorama Salo Merungnge di akun facebook miliknya. Orang nomor satu di Bumi Palakka ini menilai keberadaan Salo Merungnge sebagai berkah sektor pariwisata Bone. Karenanya dia memerintahkan kepada instansi terkait untuk menjajaki peluang pengelolaan Salo Merungnge sebagai destinasi wisata baru.

“Berapa hari ini saya melihat gencarnya pemberitaan baik di media online maupun media sosial, tentang keberadaan Salo Merungnge.
Ini berkah bagi Bone yang dianugerahi alam yang indah. Saya akan perintahkan dinas terkait untuk melakukan penjajakan bagaimana pengelolaan secara profesional untuk destinasi wisata Bone ke depan,” kata Fahsar.

Fahsar menilai lokasi Salo Merungnge cukup strategis untuk dikembangkan.
“Jarak tempuh dari kota Bone, serta akses dari jalan raya Bone-Makassar yang sangat dekat, tentunya menjadi nilai bagi pengembangannya ke depan,” tambah Fahsar.

Wakil Ketua DPRD Bone, Drs A Taufiq Kadir MH mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor pariwisata. Politisi Partai NasDem ini mengakui sesungguhnya masih banyak obyek wisata dimiliki daerah ini yang belum digarap. Di mencontohkan, Gua Uhualli di Bontocani, Bendungan Salomekko hingga terowongan batu ‘Sumpalabu’. Mantan Kabag Program Setda Bone ini meyakini jika Sumpalabu ditata apik, maka akan menjadi salah satu tempat persinggahan di favorit di poros Bone-Makassar.

“Kalau bicara potensi wisata Bone tidak kalah dengan daerah lain. Mulai obyek wisata pantai, gua, air terjun dan situs sejarah semua dimiliki. Keberadaan terowongan batu Sumpalabu ini juga menjadi ikon Bone. Kalau Sumpalabu ditata dengan baik, saya yakin mendatangkan penerimaan PAD. Termasuk obyek wisata lainnya,” tutur Taufiq.

Mantan Camat Libureng ini menambahkan beberapa daerah berhasil mendongkrak PAD-nya dari sektor pariwisata, seperti Bogor, Bandung dan yang paling dekat dengan Bone adalah Soppeng. “Saya kira kita tidak kalah dengan potensi wisata yang dimiliki Soppeng. Cuma di Soppeng dikelola secara serius dan profesional. Dukungan anggaran diberikan sehingga bisa menikmati hasilnya seperti saat ini. Makanya saya setuju jika bupak bupati memerintahkan instansi terkait untuk menjajaki peluang pengelolaan Salo Merungnge yang lagi menjadi perbincangan masyarakat saat ini,” kata bekas auditor Inspektorat Daerah itu.

Lebih jauh Taufiq mengungkapkan, bahwa bukan hanya obyek wisata alam yang bisa dikelola pemerintah daerah. Tapi berbagai permainan rakyat, seperti Massempe’, Mallanca, Mappere, Maddengngeng, Sijujju Sulo dan Cemme Passili berpotensi untuk menjadi pariwisata primadona. “Ini bisa dimulai dari Hari Jadi Bone dengan acara Mattompang. Kemudian diagendakan secara berkesinambungan dengan kegiatan pesta rakyat tadi. Saya yakin jika pesta rakyat ini bisa didesain menjadi event tahunan akan mendatangkan wisatawan dari luar,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Akademisi STKIP Muhammadiyah Bone Badaruddin Baso, SE, MM. Badaruddin mengharapkan pemerintah daerah bertindak nyata dalam mengelola sektor pariwisata di daerah ini. “Kalau objek wisata ini dikelola dengan baik. Saya jamin, dalam jangka panjang bisa mengdongkrak PAD Kabupaten Bone,” ungkap Pensiunan Disnakertrans Kabupaten Bone itu.

Dia menilai sederet tempat wisata yang kerap dikunjungi masyarakat sejauh ini cuma kekurangan infrastruktur jalan yang memadai, ditambah fasilitas pendukung di dalamnya. “Jika menginginkan PAD mengalir di sektor pariwisata, pemerintah harus membenahi dulu akses jalan menuju objek wisata yang ada. Saya yakin jika akses jalannya sudah bagus, PAD akan terdongkrak,” bebernya.
Yang tak kalah pentingnya, kata Badaruddin dalam mengelola pariwisata, seyogyanya peme-rintah daerah mempertahankan ciri khas budaya daerah. “Jangan karena menginginkan banyak pengunjung, objek wisata yang disajikan justru mengikuti gaya kehidupan yang ada di Bali atau di Tator. Di sana mungkin memang cocok, karena budayanya. Kalau di Bone tetap harus menjunjung nilai-nilai kearifan lokal yang tetap berlandaskan agama,” paparnya.

Budaya dan Agama menjadi perhatian Badaruddin, karena menurutnya lebih sulit membina mental masyarakat daripada mengembangkan objek wisata. “Bayangkan jika mental masyarakat kita rusak. Maka tentu, lebih banyak menghabiskan anggaran untuk pembinaan mental, daripada mengalokasikan anggaran untuk pengembangan objek wisata,” terangnya.

Sejauh ini penerimaan PAD dari sektor pariwisata masih tergolong minim. Tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata cuma menargetkan PAD sebesar Rp250 juta. Hingga jelang pembahasan APBD Perubahan bulan lalu, penerimaan PAD Disbudpar baru mencapai Rp197.539.000 atau realisasi 79,02%. Angka ini masih kecil jika melihat banyaknya potensi yang belum tergarap.

*ASKAR SYAM

To Top