Penambang Ilegal Catat Warning Kapolres Bone! – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Penambang Ilegal Catat Warning Kapolres Bone!

PENULIS : HERMAN KURNIAWAN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kapolres Bone, AKBP Muhammad Kadarislam Kasim SH SIK MSi menegaskan sejauh ini pihaknya belum menerima laporan pengaduan dari masyarakat Desa Lea, Kecamatan Tellu Siattinge, terkait akvitas tambang galian C liar di daerah tersebut.

Namun demikian, mencuatnya keluhan warga terkait dampak buruk tambang tersebut berupa abrasi yang mengancam, Kadarisman pun berjanji akan memerintahkan Satuan Reserse Kriminal untuk mengecek langsung ke lapangan.

“Belum ada laporan, nanti kami akan perintahkan Serse (Satuan Reskrim) untuk mengecek,” katanya.
Dia menegaskan jika ada unsur pelanggaran hukum maka pihaknya akan memproses sesua dengan hukum yang berlaku. “Kalau ada unsur pelanggaran tentunya akan ditindak lanjuti,” tegasnya.

Dia menambahkan, kasus tambang galian C di Kecamatan Tellu Siattinge yang jauh-jauh hari sudah ditangani Satuan Reskrim Polres Bone saat ini tetap berlanjut.

“Kasus tersebut juga sedang dalam penanganan Reskrim terkait galian C di Tellu Siattinge,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, warga Desa Lea, Kecamatan Tellu Siattinge dilanda resah. Air sungai sudah masuk ke permukiman warga menyusul abrasi yang terus meluas.

Aktivitas tambang galian C yang beroperasi di Sungai Lea Dusun Cekko Desa Lea Kecamatan Tellu Siattinge dikeluhkan warga setempat. Bagaimana tidak, akibat penambangan ilegal ini mengakibatkan terjadi pengikisan tanah atau abrasi di bibir sungai.

Warga yang tinggal di dekat sungai pun mulai khawatir, sewaktu-waktu rumah miliknya terancam ambruk imbas dari pergeseran tanah. Bahkan, saat ini ada yang rumah yang cuma berjarak sejengkal dari bibir sungai. Padahal awalnya rumah ini berjarak lebih meter dari bibir pantai. Abrasi ini terjadi karena aktivitas tambang galian C yang sudah berlangsung cukup lama.

“Warga sudah lama tidak senang adanya akivitas tambang itu karena sudah merusak lingkungan sekitar, apalagi tanah belakang rumah terkikis sedikit demi sedikit. Jadi banyak warga yang tinggal pinggiran sungai ketakutan dengan kondisi ini,” terang Herdin, salah seorang warga Desa Lea.

Di wilayah Dusun Cekko Desa Lea, merupakan daerah yang paling rawan dari ancaman abrasi, di mana puluhan rumah penduduk berhadapan langsung dengan Sungai Lea.

“Pas sepanjang Sungai Lea terdapat pemukiman padat penduduk, jadi mereka yang paling menderita akibat abrasi ini ketimbang dusun lainnya,”cetusnya.

Sebenarnya, kata dia warga sudah sering melakukan berbagai upaya agar aktivitas tambang dihentikan. Upaya yang dilakukan dengan mempertemukan seluruh pihak-pihak yang terkait mulai pemerintah desa, kecamatan, pihak kepolisian dan penambang. Namun, hingga kini belum ada solusi.

*

To Top