Pengadaan Material Program Bedah Rumah, Pemilik Rumah Tak Dilibatkan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Pengadaan Material Program Bedah Rumah, Pemilik Rumah Tak Dilibatkan

PENULIS : ADRY – BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Program bedah rumah telah diluncurkan di daerah ini. Sedikitnya Rp11,5 miliar anggaran digelontorkan untuk membedah 569 rumah yang tak layak huni. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bone, program bedah rumah di daerah ini menggunakan anggaran sebesar Rp11.535.000.000.

Anggaran bedah rumah tersebut berasal dari dua sumber, yakni Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp8.535.000.000 yang diperuntukkan untuk keluarga tidak mampu di wilayah Kecamatan Tanete Riattang.
Kemudian sumber dana lainnya berasal dari APBN sebesar Rp3.000.000.000 yang diperuntukkan di Kecamatan Ajangale sebanyak satu desa, yakni Desa Walado dengan jumlah penerima 40 kepala keluarga (KK). Kemudian di Kecamatan Tellu Siattinge sebanyak tiga desa, yakni Desa Lamuru 90 KK, Desa Mattoanging 47 KK, dan Desa Waji sebanyak 40 KK. Total penerima bantuan bedah rumah sebanyak 569 KK. Setiap KK akan mendapatkan bantuan Rp10 juta hingga Rp15 juta.

Hanya saja, dalam pelaksanaan program yang baru berjalan beberapa pekan ini diduga menyalahi mekanisme penyaluran bantuan. Penerima bantuan mengakui tak dilibatkan dalam pengadaan material. Karenanya material yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhan.

Salah seorang penerima bantuan asal Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Ishak kepada RADAR BONE mengatakan dirinya tak pernah dilibatkan dalam pemilihan material bahan yang digunakan untuk perbaikan rumahnya. Beberapa material tiba-tiba didatangkan ke tempatnya oleh rekanan. Parahnya, material tersebut tidak masuk dalam daftar material yang dibutuhkan.

“Kami hanya menerima saja bahan bangunan, kemudian bahan yang diberikan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Karena rumahku tiangnya yang rusak, tapi bahan yang diberikan hanya berupa seng dan balok. Padahal ada beberapa tiang rumah saya harus diganti, karena tidak layak pakai.
Buat apa diganti atapnya, diganti dindingnya jika tiangnya penyok dan sudah rapuh, jelas Ishak saat ditemui RADAR BONE di kediamannya, Senin, 19 Juni lalu.

Sejatinya, kata Ishak pemilik rumah yang melakukan pembelian bahan material, sehingga bahan dibeli tidak mubazir. “Seharusnya pemilik rumah yang belanja, karena tentu diketahui bahan yang akan diganti. Program ini seolah tidak transparan.

Kami langsung diberikan bahan dan disodorkan nota pembelian yang tidak mencantumkan harga material yang dibeli,” tutur Ishak seraya memperlihat nota pembelian material dimaksud.

Yang mengeherankan, kata Ishak, dirinya tidak pernah mencairkan dana atau mentransfer dana untuk pembelian material tersebut. Padahal dana bantuan bedah rumah Rp15 juta per KK itu tersimpan di rekening Bank BNI atas nama pemilik rumah.
Ishak juga mempertanyakan biaya tukang yang harus ditanggung pemilik rumah.
‘Padahal saya pernah baca RAB-nya, gaji tukangnya ada sebesar Rp50 ribu perhari, tapi RAB itu disembunyikan. Seharusnya RAB diberikan kepada masing-masing pemilik rumah supaya pemilik rumah bisa mengikuti RAB yang ada,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan penerima bantuan bedah rumah lainnya, Atira. Wanita
ini mengaku terpaksa membeli sendiri material besi, karena tak ditanggung program.”Saya terpaksa pinjam untuk beli besi, karena tidak ada besi dibelikan. Bahan-bahan ini langsung saja dibawa ke rumah tanpa ditanya apa yang dibutuhkan. Rumah saya kan tiangnya yang rusak, tapi anehnya bantuan ini tidak menanggung bahan untuk tiang,” paparnya.

Kabid Perumahan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bone, Andi Asni Pawawoi, MM mengatakan anggaran bedah rumah yang berasal dari APBN, untuk rumah yang rusak sedang mendapatkan bantuan Rp10 juta dan rusak berat Rp15 juta per KK.

“Kalau yang dua kecamatan itu sistem pembagiannya tidak rata, dilihat dari tingkat kerusakan saja, yakni rusak sedang dan rusak berat,” paparnya.

Terkait dengan pengadaan bahan, kata Asni dilakukan pemilik rumah didampingi pendamping. Kemudian proses pembayaran, sambung Asni dilakukan dengan cara transfer antar rekening, sehingga dana tidak dicairkan secara tunai.

“Pemilik rumah yang menentukan bahan yang akan dibeli, berapa jumlah bahan yang dibutuhkan. Makanya pemilik rumah itu harus datang ke tempat penjual bahan bangunan yang difasilitasi tim dari dinas terkait,” jelas Asni.
Terkait biaya tukang, sambung Asni adalah tanggungan pemilik rumah. “Kemudian tukangnya harus dibiayai sendiri oleh pemilik rumah, karena uang sebesar Rp15 juta itu hanya diperuntukan untuk pembelian bahan bangunan,” paparnya.

 

Click to comment
To Top